Bola / Liga Inggris
Selasa, 03 Maret 2026 | 15:13 WIB
Ilustrasi Mikel Arteta di pertandingan Arsenal vs Chelsea [Suara.com]
Baca 10 detik
  • Arsenal mengalahkan Chelsea berkat taktik Mikel Arteta, mempertahankan posisi di klasemen Premier League.
  • William Saliba dan gol bunuh diri mewarnai kemenangan; set piece serta peran Zubimendi kunci serangan.
  • Kinerja David Raya sangat penting melalui penyelamatan krusial dan distribusi bola presisi yang efektif.

Suara.com - Arsenal sukses menjaga jarak dengan Manchester City di klasemen Premier League berkat kemenangan atas Chelsea akhir pekan lalu.

Kemenangan Arsenal ini tak lepas dari taktik brilian Mikel Arteta membuat lawan tak berkutik.

Sosok gelandang Pablo Zubimendi jadi kunci kemenangan Arsenal selain skema lama set piece tim Meriam London itu.

William Saliba membuka skor lewat sundulan akurat, dibantu pergerakan Gabriel Magalhaes. Jurrien Timber menambah gol kedua, sementara Chelsea hanya bisa membalas lewat gol bunuh diri Hincapie.

Untuk skema set piece Arsenal memang tak perlu diragukan lagi. Meski mendapat pro kontra dari banyak suporter, gol pertama Arsenal yang dicetak Magalhaes tercipta dengan sangat cerdik.

William Saliba benar-benar menguasai duel udara. Gabriel mengalahkan Reece James dan Joao Pedro, lalu mengirim bola ke Saliba. skema itu sangat rapi.

Pemuncak klasemen Liga Inggris, Arsenal, kembali menegaskan ambisi juara usai menundukkan rival sekota Chelsea dengan skor 2-1 di Emirates Stadium, Minggu (2/3/2026) dini hari WIB. [Instagram]

Selain set piece, taktik lain yang dipakai Arteta juga bisa dibilang brilian. Zubimendi seperti magnet, mengikuti Enzo ke mana pun dia pergi. Chelsea jadi sulit membangun serangan.

Alih-alih mengejar bola seperti pemain tengah pada umumnya, Mikel Arteta memerintahkan pemain Spanyol itu melekat seperti magnet.

Kondisi itu membuat Chelsea mau tak mau bermain bola panjang atau melakukan passing berisiko.

Baca Juga: Manchester City Siapkan Rp1,5 Triliun untuk Tino Livramento

“Zubimendi melakukan press yang luar biasa, menempel Enzo Fernandez seperti lem. Chelsea dipaksa keluar dari zona nyaman mereka,” kata analis Dean Scoggins seperti dilansir dari The Sun.

Pola ini juga membuat lini depan Arsenal bisa bermain lebih sempit, mengurangi risiko terbuka di sayap, sekaligus memaksimalkan tekanan di tengah.

Hasilnya, Chelsea kesulitan membangun serangan dan kerap melakukan kesalahan.

Chelsea suka membangun dari belakang, mengundang tekanan, dan memainkan umpan berisiko ke nomor 10. Dengan Zubimendi menempel seperti magnet, mereka dipaksa bermain panjang atau membuat kesalahan.

Selain taktik, David Raya menjadi penentu kemenangan Arsenal dengan penyelamatan krusial dan distribusi bola yang presisi.

Ia menepis bola dari defleksi Declan Rice, menjaga gawang tetap aman, dan melakukan penyelamatan terakhir saat Garnacho mengirim umpan silang di menit akhir.

Load More