Bola / Bola Dunia
Kamis, 12 Maret 2026 | 10:58 WIB
Bantah dapat ancaman, pemain Timnas Putri Iran Mohaddeseh Zolfi batalkan niat suaka dan tinggalkan Australia. Ia memilih pulang ke Iran. [Dok. IG Mohaddeseh Zolfi]
Baca 10 detik
  • Pemain Timnas Putri Iran, Mohaddeseh Zolfi, membatalkan permintaan suakanya di Australia dan memilih untuk kembali ke negaranya.
  • Keputusan ini diambil di tengah klaim adanya tekanan dan intimidasi dari pemerintah Australia dan AS agar para pemain mencari suaka.
  • Menteri Dalam Negeri Australia Tony Burke mengonfirmasi perubahan keputusan tersebut dan pihak Iran menyambut kepulangan sang atlet.

Suara.com - Bintang Timnas Putri Iran Mohaddeseh Zolfi secara mengejutkan membatalkan niatnya untuk mencari suaka dan memilih pulang ke negaranya.

Keputusan besar tersebut ia ambil di tengah gencarnya tawaran suaka dari pemerintah Australia usai membela negaranya di ajang Piala Asia Wanita AFC.

Sikap patriotik sang pemain ini seolah menjadi bantahan tegas atas berbagai spekulasi mengenai adanya ancaman yang membuatnya memilih meninggalkan Australia.

Mohaddeseh Zolfi sebelumnya memang sempat mengajukan permohonan suaka di Australia di bawah tekanan intens dari pemerintah setempat dan media.

Namun, ia kini telah menarik kembali permintaan suakanya dan mengumumkan keinginannya untuk kembali ke Iran.

Kabar ini bahkan telah dikonfirmasi secara langsung oleh Menteri Dalam Negeri Australia, Tony Burke.

Burke menyatakan, “Salah satu dari dua anggota tim sepak bola wanita Iran yang ditawari suaka telah mempertimbangkan kembali keputusannya."

"Setelah berkonsultasi dengan rekan satu timnya, dia menghubungi kedutaan Iran. Di Australia, orang bebas untuk berubah pikiran, dan kami menghormati keputusan itu.”

Laporan media internasional kemudian mengidentifikasi pemain yang dimaksud adalah Mohaddeseh Zolfi.

Baca Juga: Dicap Pengkhianat, 5 Pemain Timnas Putri Iran Dapat Visa Australia

Timnas putri Iran sendiri berada di Australia untuk berpartisipasi dalam kompetisi Piala Asia Wanita AFC.

Selama berada di sana, mereka disebut menghadapi iklim intimidasi dan paksaan yang diatur oleh pemerintah Australia dengan dukungan langsung dari Amerika Serikat.

Polisi Australia bahkan dilaporkan berulang kali mendekati para pemain dan mendesak mereka untuk mencari suaka.

Situasi memuncak hingga Presiden AS Donald Trump saat itu menyatakan bahwa jika Australia tidak memberikan mereka tempat tinggal, Amerika Serikat yang akan melakukannya.

Ancaman dan tekanan yang diberikan oleh otoritas Australia dan kelompok anti-revolusioner selama turnamen olahraga tersebut digambarkan sebagai kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Meskipun ada berbagai rintangan, delegasi tim nasional Iran akhirnya meninggalkan Sydney menuju Kuala Lumpur.

Load More