Bola / Bola Indonesia
Jum'at, 17 April 2026 | 18:05 WIB
Timnas Indonesia U-17 (Antara)
Baca 10 detik
  • Kurniawan Dwi Yulianto bertanggung jawab penuh atas kekalahan Timnas Indonesia U-17 melawan Malaysia.

  • Evaluasi fokus pada antisipasi bola mati dan ketajaman lini serang Garuda Asia.

  • Publik diminta menjaga mental pemain muda demi perkembangan karier jangka panjang mereka.

Suara.com - Kekalahan tipis Timnas Indonesia U-17 atas Malaysia di Stadion Gelora Joko Samudro menjadi alarm keras bagi lini pertahanan dan efisiensi serangan Garuda Asia.

Pelatih Kurniawan Dwi Yulianto secara terbuka memohon maaf kepada publik atas kegagalan meraih poin di kandang sendiri pada Kamis malam tersebut.

Strategi antisipasi bola mati menjadi titik lemah utama yang mengakibatkan tim lawan berhasil mencuri keunggulan melalui gol tunggal mereka.

Pesepak bola Timnas Indonesia Girly Andrade Guevara (kanan) berebut bola dengan pesepak bola Timnas Malaysia Muhammad Faiz Nazrin (kiri) pada pertandingan penyisihan grup A ASEAN U-17 Boys Championship atau AFF U-17 di Stadion Gelora Joko Samudro, Gresik, Jawa Timur, Kamis (16/4/2026). [ANTARA FOTO/Rizal Hanafi/sgd/kye]

Kurniawan kini memfokuskan perhatian pada pemulihan psikologis pemain muda agar tidak terpuruk akibat tekanan besar dari media sosial.

Ketidakmampuan barisan depan dalam mengonversi dominasi permainan menjadi gol nyata menunjukkan adanya hambatan dalam penyelesaian akhir yang mendesak.

Kurniawan Dwi Yulianto menegaskan bahwa dirinya adalah orang yang paling bertanggung jawab atas hasil negatif yang mengecewakan para suporter.

Ia secara aktif meminta masyarakat untuk tidak memberikan kritik tajam yang bisa merusak kepercayaan diri para atlet remaja ini.

"Saya pribadi mohon maaf dengan hasil yang kurang atau tidak memuaskan ini, tetapi saya harus tetap memberikan apresiasi kepada semua pemain karena kerja keras mereka," katanya kepada awak media.

Apresiasi tetap diberikan karena secara teknis para pemain telah berjuang maksimal menguasai aliran bola sepanjang pertandingan berlangsung.

Baca Juga: Kurniawan Dwi Yulianto: Saya Mohon Maaf

Tim pelatih menyadari bahwa usia di bawah 17 tahun merupakan masa yang sangat rentan terhadap gangguan mental akibat perundungan digital.

Evaluasi Lini Serang dan Pertahanan

Kelengahan sesaat dalam skema permainan menyebabkan gawang Indonesia kebobolan di tengah upaya mereka mengurung pertahanan Malaysia.

Kurniawan menyoroti pentingnya konsentrasi penuh selama waktu normal agar kesalahan elementer tidak kembali terulang di laga berikutnya.

"Menjadi bahan evaluasi. Kami harus fokus selama 90 menit karena tadi kesalahan dari kami sehingga membuahkan gol untuk lawan," jelasnya.

Selain masalah pertahanan, kegagalan memanfaatkan banyak peluang emas di depan gawang lawan menjadi catatan paling merah bagi staf pelatih.

Load More