Bola / Bola Dunia
Selasa, 12 Mei 2026 | 10:49 WIB
Ilustrasi Gelombang Panas (Pixabay)
Baca 10 detik
  • Piala Dunia 2026 di Amerika Utara menghadapi ancaman cuaca ekstrem seperti gelombang panas, badai petir, dan kualitas udara buruk.
  • FIFA menerapkan kebijakan jeda pendinginan wajib dan menjadwalkan pertandingan pada sore atau malam hari demi keselamatan para pemain.
  • Sebagian besar kota tuan rumah berisiko mengalami tekanan panas tinggi dan gangguan jadwal pertandingan akibat cuaca yang berbahaya.

Suara.com - Piala Dunia 2026 belum dimulai, namun kekhawatiran besar sudah muncul dari luar lapangan.

Selain persaingan antarnegara, cuaca ekstrem diprediksi menjadi tantangan serius selama turnamen berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Gelombang panas, badai petir, kelembapan tinggi hingga kualitas udara buruk akibat kebakaran hutan diperkirakan bisa mengganggu jalannya pertandingan dan kenyamanan penonton.

FIFA telah mengantisipasi potensi cuaca panas ekstrem dengan menerapkan jeda pendinginan wajib selama tiga menit di setiap babak pertandingan.

Kebijakan itu disebut sebagai bagian dari komitmen menjaga kesehatan pemain.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Pada ajang Piala Dunia Antarklub tahun lalu, enam pertandingan sempat terganggu akibat panas dan badai petir.

Salah satu insiden paling mencolok terjadi saat laga Chelsea FC melawan Benfica yang tertunda hampir dua jam.

Pelatih Chelsea saat itu, Enzo Maresca, bahkan menyebut Amerika Serikat mungkin bukan tempat yang tepat untuk menggelar kompetisi seperti itu.

Bukan Prancis atau Argentina, Simulasi Matematika Prediksi Negara Ini Juara Piala Dunia 2026 [Istimewa]

Dilansir dari BBC, sejumlah kota tuan rumah diprediksi mengalami suhu sangat tinggi selama musim panas.

Baca Juga: Cedera Parah, Gelandang Atletico Madrid Terancam Absen Bela AS di Piala Dunia 2026

Wilayah selatan Amerika Serikat dan utara Meksiko diperkirakan memiliki temperatur rata-rata 33 hingga 36 derajat Celsius, bahkan bisa mendekati 40 derajat saat gelombang panas datang.

Kondisi makin berat karena faktor kelembapan udara. Di Miami misalnya, suhu 32 derajat Celsius bisa terasa seperti 43 derajat bagi tubuh manusia.

Para ilmuwan juga menggunakan indikator Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) untuk mengukur tekanan panas terhadap tubuh.

Angka WBGT di atas 28 derajat Celsius sudah dianggap berbahaya bagi atlet.

Penelitian yang dipublikasikan International Journal of Biometeorology pada 2025 menyebut 14 dari 16 kota tuan rumah Piala Dunia berpotensi melewati ambang tersebut pada siang hari.

Kota-kota seperti Miami, Houston, Dallas, Monterrey, Kansas City, dan Atlanta disebut memiliki risiko tekanan panas ekstrem paling tinggi selama turnamen berlangsung.

Load More