- Pelatih John Herdman menilai Timnas Indonesia kurang tajam karena masalah mentalitas pemain saat menghadapi pertandingan.
- Skuad Garuda sering gagal mencetak gol meskipun tampil dominan karena penyelesaian akhir yang masih belum maksimal.
- Herdman menekankan seluruh pemain, termasuk bek dan gelandang, harus berani menyerang untuk memecah pertahanan lawan.
Suara.com - Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, menyoroti persoalan utama skuad Garuda yang dinilainya masih kurang tajam saat menghadapi lawan. Menurutnya, masalah tersebut bukan semata karena absennya striker murni, melainkan pola pikir pemain di lapangan.
Dalam beberapa pertandingan terakhir, Timnas Indonesia kerap tampil dominan namun kesulitan mengonversi peluang menjadi gol. Situasi itu terlihat saat skuad Garuda gagal menumbangkan Bulgaria pada ajang FIFA Series 2026 karena penyelesaian akhir yang belum maksimal.
Sebelumnya, kehadiran Ole Romeny sempat memberi harapan baru untuk lini depan Timnas Indonesia. Namun, cedera parah yang dialaminya membuat sang pemain harus menepi cukup lama.
Permasalahan ketajaman lini depan sebenarnya sudah menjadi perhatian sejak era Shin Tae-yong. Kala itu, Rafael Struick bahkan beberapa kali dipasang sebagai ujung tombak meski posisi alaminya adalah winger.
Herdman menegaskan bahwa perubahan terbesar yang dibutuhkan Timnas Indonesia ada pada mentalitas seluruh pemain di lapangan.
"Yang harus diubah adalah mentalitasnya. Semua orang terus bicara Indonesia butuh striker nomor sembilan," kata John Herdman kepada awak media.
"Menurut saya, Indonesia membutuhkan mentalitas bahwa semua pemain bisa mencetak gol," jelasnya.
Eks pelatih Timnas Kanada itu menilai tanggung jawab mencetak gol tidak boleh hanya dibebankan kepada pemain depan. Menurutnya, semua pemain harus siap memanfaatkan peluang yang muncul di pertandingan.
Ia bahkan meminta para pemain bertahan ikut aktif membantu serangan demi menciptakan variasi permainan yang lebih berbahaya.
Baca Juga: Segrup dengan Timnas Indonesia, Vietnam Gelar TC di Korsel Jelang Piala AFF 2026
"Kami harus membangun pola pikir bahwa wing-back, gelandang, bek tengah, semua punya tanggung jawab menyerang dan mencetak gol."
"Indonesia selama ini terlalu pasif. Bertahan, transisi, bertahan, dan transisi. Kami perlu lebih banyak pemain yang berpikir menyerang, membuat overload, dan berani menembus lini lawan," terangnya.
Herdman juga menyoroti gaya bermain Timnas Indonesia yang selama ini terlalu mengandalkan serangan balik cepat.
Menurutnya, pendekatan tersebut membuat tim kesulitan ketika menghadapi lawan yang bermain bertahan.
Meski begitu, ia menilai fondasi permainan Timnas Indonesia sebenarnya sudah cukup baik, terutama di sektor pertahanan. Fokus utama saat ini adalah meningkatkan kualitas permainan di area sepertiga akhir lapangan.
"Saya rasa dua pertiga permainan sudah bagus. Tetapi area final third masih memiliki banyak kekurangan dan itu akan kami perbaiki," tutupnya.
Berita Terkait
-
Segrup dengan Timnas Indonesia, Vietnam Gelar TC di Korsel Jelang Piala AFF 2026
-
Media Vietnam Pandang Sebelah Mata Timnas Indonesia Tanpa Skuad Terbaik di Piala AFF 2026
-
Ditanya Peluang Membela Timnas Indonesia, Pascal Struijk: Tentu Saja!
-
Harga Tiket Timnas Indonesia vs Oman dan Mozambik Resmi Dirilis, Mulai Rp300 Ribu!
-
Jadwal Super League 2026/27 Resmi Rilis: I.League Hapus Tren Tabrakan Agenda Timnas Indonesia
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Harga Serum Penghilang Flek Hitam yang Efektif dan Aman, Ini 5 Rekomendasi Produknya
- Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Inovasi Terbaru Kecantikan Wajah, Volulift 2.0 Resmi Diperkenalkan
-
Paradoks Jajanan SD versus MBG: Mengapa Proyek Besar Justru Rawan Keracunan?
-
Pati Kompak! Ratusan Ormas Deklarasi Damai di Alun-alun, Tegaskan Tolak Aksi Provokatif
-
Dari Panggung KKI 2026, Belasan UMKM Sumsel Membidik Pasar Nasional hingga Ekspor
-
Cek Kesehatan Gratis Efektif Deteksi Dini dan Eliminasi Kasus TBC di Tangsel
-
Karhutla Sumsel Belum Terkendali, 8 Lokasi Masih Terbakar, Air Makin Menipis
-
Guncang Lima Kota Besar, Deddy Corbuzier Bawa Invasi Indonesia Podcast Festival 2026 ke Luar Jakarta
-
Kemendagri Dorong Digitalisasi Transaksi Daerah Tak Sekadar Pembayaran, tapi Dongkrak PAD
-
Indonesia - China Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Bidang Pertahanan
-
Praperadilan Febrie: Ahli Sebut TPPU Pasca 2026 Wajib Pakai Pasal 607, Bukan UU Lama