News / Nasional
Kamis, 21 Mei 2026 | 13:29 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merapat ke Istana Keprsidenan Jakarta. (Suara.com/Novian)
Baca 10 detik
  • Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa mendatangi Istana Kepresidenan Jakarta pada Kamis, 21 Mei 2026, untuk memenuhi undangan makan siang.
  • Purbaya membawa berkas berisi data sepuluh perusahaan besar yang terbukti melakukan manipulasi harga ekspor komoditas CPO ke luar negeri.
  • Manipulasi harga ekspor CPO tersebut menyebabkan kerugian negara yang signifikan karena perbedaan nilai jual yang sangat mencolok di luar.

Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merapat ke Istana Keprsidenan Jakarta. Meski mengaku kedatangannya atas undangan makan siang, Purbaya terlihat membawa banyak map.

Map-map tersebut berisikan berkas mengenai sejumlah daftar perusahaan minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) yang melakukan manipulasi harga ekspor.

Purbaya sengaja membawanya untuk berjaga-jaga semisal Presiden Prabowo Subianto bertanya dan meminta laporan.

"Ini jaga jaga aja kalau biar kalau ditanya bisa jawab. Ini ada beberapa catatan perusahaan CPO yang mana yang lakukan manipulasi harga. Jadi kalau ditanya saya akan jawab," kata Purbaya di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Bendahara negara ini bahkan berhenti sejenak meladeni pertanyaan awak media terkait kehadirannya di Istana.

Ia menunjukkan lembaran berkas di map yang berisi sejumlah grafik.

"Jadi ini ada 10 perusahaan besar, 3 pengapalan, masing masing perusahaan saya random pilih. Mereka kelihatan sekali melakukan manipulasi harga, ekspor ke Amerika misalnya," kata Purbaya sembari melihat berkas yang ia tenteng.

Purbaya menjelaskan gegara kelakuan perusahan memanipulasi harga ekspor, negara mengalami kerugian.

"Jadi harganya di sini berapa itu cuma seperempat atau sepertiga apa yg ada di AS. Jadi income-nya rendah kan di sini jadi saya rugi banyak. Ada contohnya, nggak mau sebut perusahaannya ya saya," kata Purbaya.

Baca Juga: Siap-siap! Purbaya Mau Patuhi Perintah Prabowo Copot Dirjen Bea Cukai

Purbaya memberikan contoh bagaimana manipulasi harga tersebut dilakukan oleh sejumlah perusahaan.

Ilustrasi Kebun Sawit (Unsplash/@aluengo91)

"Jadi ada dari Indonesia dikirim harganya US$ 2,6 juta impornya di sana US$ 4,2 juta jadi 57 persen bedanya. Ada yang lebih gila lagi ada satu perusahaan lagi di sini ekspornya US$ 1,44 juta di sana US$ 4 jutaan berubah harga 200 persen," kata Purbaya.

"Kita mau detensi kapal per kapal jadi itu yang saya laporin kalau ditanya, kalau nggak ya nggak usah. Ini 10 besar. Ini baru CPO nanti ada batu bara juga," sambung Purbaya.

Sebelum Purbaya, turut hadir di Istana, yakni Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, Menteri Perindustrian Agus Guwimang, Menteri Investasi yang juga CEO BPI Danantara Rosan Roeslani.

Tampak mereka yang hadir juga menenteng map berisi laporan yang akan disampaikan kepada kepala negara di Istana.

Rosan, misalnya. Ia mengatakan kehadirannya ke Istana untuk memenuhi undangan makan siang.

Load More