Bola / Bola Indonesia
Minggu, 21 Juni 2026 | 17:41 WIB
Shin Tae-yong (PSSI)
Baca 10 detik
  • Shin Tae-yong mengelola tekanan berat di Persija Jakarta lewat persiapan matang sejak jauh hari.

  • Fokus taktis skuad Macan Kemayoran dimaksimalkan hingga dua hari sebelum laga untuk mengelola stres.

  • Kritik dan makian suporter diubah menjadi bahan evaluasi positif demi meningkatkan kualitas tim.

Suara.com - Sejak menerima tantangan sebagai pelatih Persija Jakarta, Shin Tae-yong sudah memahami bahwa dirinya akan menghadapi ekspektasi besar dan tekanan yang tidak kecil terutama dari suporter. Mantan pelatih Timnas Indonesia itu menilai situasi tersebut merupakan konsekuensi yang melekat dalam sepak bola profesional.

Menurut Shin Tae-yong, tekanan tidak bisa dihindari, tetapi dapat dikelola melalui persiapan yang matang. Karena itu, ia selalu memastikan seluruh kebutuhan tim dipersiapkan secara maksimal jauh sebelum pertandingan dimulai.

“Posisi ini bukanlah tempat yang tanpa tekanan, melainkan tempat yang menerima tekanan kuat. Dengan memikirkan hal itu dan melakukan persiapan jauh-jauh hari, kami bisa menghindari banyak tekanan,” kata Shin Tae-yong dalam keterangannya.

Shin Tae-yong menegaskan pentingnya jam terbang pemain muda. Persija Jakarta dinilai menjadi contoh sukses regenerasi talenta di Super League. [Dok. Persija]

Pelatih asal Korea Selatan tersebut mengungkapkan bahwa dirinya memiliki metode khusus dalam mempersiapkan tim jelang pertandingan.

Fokus utama dilakukan hingga dua hari sebelum laga berlangsung. Setelah itu, ia memilih mengurangi beban pikiran agar bisa menghadapi pertandingan dengan lebih tenang dan percaya diri.

Baginya, menjaga kondisi mental menjelang pertandingan sama pentingnya dengan mempersiapkan aspek teknis dan taktik di lapangan. Cara tersebut juga menjadi salah satu strategi pribadinya untuk mengelola stres selama menjalani profesi sebagai pelatih.

Mantan pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong (pssi.org)

“Jadi, jika ada pertandingan, saya melakukan persiapan yang luar biasa sampai dua hari sebelum pertandingan," sambung eks pelatih timnas Korea Selatan itu.

"Mulai satu hari sebelum pertandingan, saya mencoba melupakan beban itu dan bersiap agar bisa menghadapi pertandingan dengan nyaman. Itulah cara saya sendiri untuk melepas stres,” ucapnya.

Selain tekanan dari hasil pertandingan, Shin Tae-yong juga menyoroti peran suporter yang memiliki ekspektasi tinggi terhadap tim. Menurutnya, seorang pelatih harus siap menerima pujian ketika menang maupun kritik saat tim mengalami kekalahan.

Baca Juga: John Herdman Tak Sempat Nonton Piala Dunia 2026 Demi Timnas Indonesia

Ia menegaskan bahwa kritik dari suporter bukan sesuatu yang harus ditakuti. Sebaliknya, hal tersebut bisa menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kualitas tim ke depannya.

“Pertama-tama kita tidak bisa selalu mendengar hal yang baik saja. Fans mungkin memuji saya, tapi kalau kami kalah, mereka bisa saja memaki. Tapi saya punya mental untuk menerima hal itu dengan tenang," terangnya.

"Jika saya berpikir ‘Ah, para fans bicara begitu karena ada masalah pada diri saya’, maka daripada merasa stres, saya mengubah pikiran saya menjadi ajang evaluasi diri. Ternyata itu lebih baik,” tutur Shin Tae-yong.

Load More