Bola / Bola Dunia
Selasa, 23 Juni 2026 | 06:00 WIB
Mantan pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, melontarkan kritik keras terhadap kebijakan water break di Piala Dunia 2026. [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Piala Dunia 2026 menerapkan kebijakan empat babak pertandingan yang bertujuan menyesuaikan faktor cuaca bagi seluruh tim peserta.
  • Penambahan jeda tersebut memperbesar peran taktis pelatih untuk mengubah formasi dan pola permainan selama pertandingan berlangsung.
  • Pelatih Gustavo Alfaro mengkritik kebijakan tersebut karena dianggap lebih mengutamakan kepentingan komersial dibandingkan esensi olahraga sepak bola.

Suara.com - Piala Dunia 2026 menghadirkan fenomena baru yang memicu perdebatan, potensi berubahnya pertandingan sepak bola tak lagi dua babak melainkan empat babak.

Kebijakan ini awalnya diterapkan demi faktor cuaca, namun kini dinilai membawa dampak besar terhadap dinamika permainan.

Dalam sejumlah laga, jeda tersebut terbukti menjadi momen krusial bagi pelatih untuk mengubah taktik.

Pergeseran strategi, seperti perubahan formasi hingga pendekatan pressing, kerap terjadi saat pemain berkumpul di pinggir lapangan.

Fenomena ini membuat pertandingan tak lagi mengalir dalam dua babak penuh, melainkan terpecah menjadi empat fase permainan.

Piala Dunia 2026 (dok. FIFA World Cup)

Dampaknya, ritme alami sepak bola yang selama ini menjadi ciri khas justru berpotensi terganggu.

Di sisi lain, jeda ini memperbesar peran pelatih dalam menentukan jalannya pertandingan.

Waktu tambahan untuk instruksi taktis memberi keuntungan bagi tim yang mampu memanfaatkannya secara optimal.

Namun, kritik mulai bermunculan. Sebagian pihak menilai intervensi ini terlalu besar dan berisiko mengubah esensi sepak bola.

Baca Juga: Pelatih Paraguay Serang FIFA: Piala Dunia 2026 Hanya untuk Orang Kaya Esensi Hilang

Bahkan, muncul anggapan bahwa jeda hidrasi lebih menyerupai jeda komersial ketimbang kebutuhan medis.

Pelatih timnas Paraguay, Gustavo Alfaro salah satu yang mengkritkk soal water break ini.

Menurutnya, jeda tersebut lebih bernuansa komersial ketimbang kebutuhan olahraga.

“Itu bukan jeda minum, itu jeda iklan,” tegasnya.

Pelatih asal Argentina itu mengingatkan bahwa sepak bola lahir dari kalangan sederhana dan seharusnya tetap inklusif.

Alfaro menekankan bahwa kekuatan sepak bola terletak pada aksesibilitasnya bagi semua kalangan, bukan hanya elite.

“Sepak bola tidak bisa hanya menjadi bisnis. Hari ini hanya kelompok terbatas yang bisa merasakan semuanya,” tambahnya.

“Orang-orang yang saya kenal sedang mengalami masa sulit. Bepergian menjadi sangat rumit dan mahal. Piala Dunia terlalu dilebih-lebihkan, esensi sepak bola sudah hilang,” ujarnya.

Load More