Bola / BolaTaiment
Rabu, 01 Juli 2026 | 01:04 WIB
Kerusuhan pecah di sejumlah kota di Belanda usai kekalahan timnas dari Maroko pada babak 32 besar Piala Dunia 2026. [@StevenKrayk]
Baca 10 detik
  • Kerusuhan pecah di berbagai kota Belanda pasca kekalahan timnas dari Maroko dalam ajang Piala Dunia 2026.
  • Aparat kepolisian mengerahkan water cannon dan menangkap pelaku kekerasan di Den Haag, Amsterdam, Utrecht, serta Amersfoort.
  • Anggota parlemen Mona Keijzer mengkritik pemerintah karena dinilai lamban dalam merespons aksi kekerasan di wilayah tersebut.

Suara.com - Kerusuhan pecah di sejumlah kota di Belanda usai kekalahan timnas dari Maroko pada babak 32 besar Piala Dunia 2026.

Perayaan kemenangan yang awalnya berlangsung meriah berubah menjadi aksi kekacauan yang memicu keprihatinan publik dan reaksi keras dari para politisi.

Di kawasan Schilderswijk, Den Haag, ratusan suporter turun ke jalan merayakan kemenangan.

Namun situasi memanas pada dini hari, memaksa polisi mengerahkan water cannon dan melakukan sejumlah penangkapan akibat aksi kekerasan terbuka.

Kerumunan besar juga terlihat di Amsterdam Nieuw-West, Utrecht, hingga Amersfoort.

Aparat keamanan dilaporkan meningkatkan pengawasan untuk mencegah eskalasi kerusuhan yang lebih luas.

Politisi Geert Wilders menanggapi kemenangan Maroko dengan nada santai namun tetap mengakui keunggulan lawan.

Timnas Belanda. (Instagram/OnsOranje)

“Mereka memang pantas menang. Saya juga sudah memberi selamat, meski sangat disayangkan Belanda kalah,” ujarnya dilansir dari Voetbalzone.

Sementara itu, anggota parlemen independen Mona Keijzer melontarkan kritik keras terhadap penanganan kerusuhan.

Baca Juga: Belanda Angkat Koper, Virgil van Dijk Jadi Kambing Hitam Disebut Pemain Lemah

Ia menilai aparat dan pemerintah terlalu lamban dalam bertindak.

“Apa yang kita lihat ini semakin menjadi-jadi karena tidak ada tindakan tegas. Ini harus dihentikan,” tegas Keijzer.

Ia bahkan mengusulkan langkah ekstrem untuk mengendalikan situasi.

“Perlu tindakan lebih cepat, menutup area, dan bahkan jika perlu, tembak balik—tentu diarahkan ke kaki,” katanya.

Pernyataan tersebut memicu kontroversi, terlebih setelah terungkap bahwa polisi sempat ditembaki, meski kemudian diketahui menggunakan pistol mainan.

Keijzer mengakui usulannya terdengar ekstrem, namun ia mempertanyakan batas toleransi terhadap aksi kekerasan.

“Ini mungkin terdengar berlebihan, tapi sampai kapan kita membiarkan ini terjadi? Apakah kita akan terus diam?” ujarnya.

Load More