- Mantan pelatih Persib Robert Rene Alberts memberikan penjelasan pada Rabu 12 Agustus 2026 mengenai sengketa pembayaran.
- FIFA menjatuhkan sanksi registrasi kepada Persib karena klub belum menyelesaikan kewajiban pembayaran yang telah disepakati bersama Robert.
- Persib telah membayar penuh seluruh tunggakan tersebut, sehingga Robert langsung meminta FIFA untuk mencabut sanksi klub.
Saat itu, Robert mengaku bertemu langsung dengan Adhitia Putra Herawan dari manajemen baru PT Persib Bandung Bermartabat untuk membicarakan pembayaran yang masih tertunda.
"Manajemen Persib berubah setelah itu, dan dengan manajemen yang baru, saya mencoba mendiskusikan pembayaran yang tertunda dalam sebuah rencana pembayaran. Kami merundingkan pengaturan pembayaran selama masa durasi kontrak saya, dan pada Januari 2025, saya secara pribadi bertemu dengan Aditia dari manajemen baru," bebernya.
Menurut Robert, pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan pembayaran secara bertahap.
Kedua pihak menyepakati skema cicilan untuk menyelesaikan kewajiban Persib.
"Kami duduk berhadapan, mencoba menyelesaikan semuanya bersama-sama; sebuah solusi yang seharusnya lebih baik bagi kedua belah pihak. Dan saya tentu saja juga tertarik untuk membantu klub, karena saya memahami situasi mereka. Kami mencapai kesepakatan untuk melakukan cicilan dari Maret hingga Desember 2025," ungkap pelatih asal Belanda ini.
Robert bahkan mengaku bersedia menerima nilai yang lebih rendah dari hak berdasarkan kontrak awal.
Menurutnya, langkah tersebut merupakan bentuk kompromi agar persoalan bisa diselesaikan tanpa semakin membebani klub.
"Sebenarnya, saya setuju untuk mengurangi jumlah awal, dan saya bersedia berkompromi, menerima kurang dari jumlah kontrak asli karena saya juga memahami situasi klub dan benar-benar berusaha membantu Persib juga," tambahnya.
Karena itu, Robert membantah jika dirinya dianggap datang dengan tuntutan yang tidak masuk akal. Ia menegaskan telah memberikan kelonggaran dan menyepakati mekanisme pembayaran bersama Persib.
Baca Juga: Jakarta Mulai Bersiap, 2 Lapangan Disiapkan untuk FIFA ASEAN Cup 2026
"Jadi ini bukan situasi di mana saya tiba-tiba menuntut sesuatu yang tidak masuk akal dari klub. Saya sudah berkompromi, sudah mengurangi apa yang menjadi hak saya, dan menyetujui pengaturan pembayaran dengan niat baik. Yang saya harapkan setelah itu hanyalah agar perjanjian yang telah ditandatangani tersebut dihormati," ungkap Robert.
Robert juga menyoroti pernyataan yang menyebut Persib tidak mengetahui adanya persoalan tersebut.
Baginya, anggapan itu sulit diterima karena pembahasan mengenai pembayaran telah dilakukan langsung bersama manajemen klub.
"Ada satu poin lagi yang ingin saya klarifikasi karena saya telah mendengar pernyataan bahwa Persib tidak tahu-menahu mengenai kasus ini. Saya merasa sulit untuk memahaminya karena ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara diam-diam atau tanpa sepengetahuan klub," tegasnya.
Robert kembali mengingat pertemuannya dengan manajemen Persib pada Januari 2025.
Ia menyatakan klub mengetahui adanya pembayaran yang tertunda sekaligus mengetahui skema penyelesaian yang telah dibicarakan.
Setelah upaya penyelesaian tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya, persoalan akhirnya masuk ke jalur FIFA.
Robert menegaskan dirinya tidak mengambil keputusan sepihak dalam proses tersebut.
“Ini bukan sekadar klaim pribadi saya atau sesuatu yang saya putuskan sendiri. Ini adalah proses resmi FIFA; bukti-bukti telah diserahkan dan FIFA telah membuat keputusannya," jelas Robert.
Menurut Robert, FIFA kemudian menetapkan bahwa masih terdapat kewajiban Persib yang harus diselesaikan.
Ketika kewajiban tersebut belum dipenuhi, konsekuensi berupa sanksi registrasi pemain pun diberlakukan.
"FIFA telah menentukan bahwa Persib memiliki kewajiban yang belum diselesaikan kepada saya dan memerintahkan pembayaran tahun lalu. Ketika pembayaran masih belum dilakukan oleh Persib, konsekuensi di bawah proses FIFA pun mengikuti, termasuk sanksi pendaftaran tahun lalu," ucap Robert.
Robert mengungkapkan Persib sempat melakukan pembayaran setelah sanksi FIFA dijatuhkan.
Namun, menurut dia, pembayaran tersebut belum menyelesaikan seluruh kewajiban yang telah disepakati.
"Setelah FIFA memerintahkan sanksi tersebut tahun lalu, Persib segera membayar saya, tetapi itu baru sebagian dari pembayaran. Masih banyak bulan-bulan lainnya yang harus dibayarkan hingga Desember 2025," katanya.
Kondisi tersebut membuat persoalan belum benar-benar berakhir.
Robert mengaku tetap berusaha menyelesaikannya secara langsung dengan Persib dan tidak buru-buru membawa persoalan tersebut ke ruang publik.
"Saya mencoba menyelesaikan masalah ini secara langsung sepanjang waktu, menghubungi klub, saya menginginkan penjelasan mereka, dan saya memberi mereka kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Saya diam cukup lama karena ingin melindungi hubungan baik, dan juga karena saya sungguh berharap kita bisa menyelesaikan semuanya tanpa harus melalui FIFA," tuturnya.
"Sayangnya hal itu tidak terjadi. Selama proses berlangsung, saya tetap diam. Saya tidak pergi ke media sama sekali. Jadi, ketika orang-orang mengatakan itu adalah keserakahan, atau upaya untuk merugikan klub, atau entah bagaimana saya yang bertanggung jawab atas situasi ini, saya rasa penting bagi orang-orang untuk mengetahui fakta-faktanya terlebih dahulu baru kemudian mulai berbicara mengenai apa yang mereka anggap benar dan salah," ucapnya.
Setelah menjelaskan panjang lebar mengenai kronologi sengketa tersebut, Robert membawa kabar terbaru mengenai status persoalan dengan Persib.
Ia menyebut seluruh pembayaran yang sebelumnya masih tertunda kini telah diselesaikan.
"Dan sebagai informasi untuk Anda, kemarin Persib telah membayar penuh seluruh jumlah yang tertunda, dan kemarin saya juga sudah menginformasikan kepada FIFA untuk mencabut sanksi tersebut," katanya.
Pembayaran tersebut sekaligus menjadi akhir dari persoalan yang telah berlangsung cukup panjang.
Robert memastikan dirinya tidak ingin memperpanjang polemik setelah seluruh kewajiban telah diselesaikan.
"Dengan ini, saya akan meninggalkan masalah ini dan tidak akan memberikan komentar lebih lanjut lagi," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Jakarta Mulai Bersiap, 2 Lapangan Disiapkan untuk FIFA ASEAN Cup 2026
-
Ferry Paulus Kabulkan Permintaan Persija Jamu Persib Duluan di Stadion GBK
-
FIFA Restui Awaydays di Super League, tapi Persija-Persib dan Arema-Persebaya Tak Masuk Hitungan
-
I.League Cabut Larangan Suporter Tandang, Pertama Sejak Tragedi Kanjuruhan
-
Kronologi Lengkap Sengketa Persib vs Robert Rene Alberts yang Berujung Sanksi FIFA
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Massa Bergerak Geruduk Rumah di Bekasi Cari MC Booth Miras Acara The Sound Project
-
Ingin Rezeki dan Karir Melejit? Simak Pesan Seskab Teddy untuk Lulusan Baru
-
Sering Dijadikan Stiker Lucu, Karyawan Diskominfo Kukar Nekat Bakar Ruang Rapat Kantor
-
Zulhas Akui Pernah Dikasih Uang Rp 893 Miliar dari George Soros
-
Hiburan Jakarta Harus Berbudaya! DPRD DKI Kecam Keras Agama Jadi Gimmick Jualan Miras
-
Sukses Tanpa Gelar: Bahaya Romantisasi Kemiskinan di Balik Mahalnya UKT
-
3 Sunscreen Tidak Perih di Mata Saat Berkeringat, Mulai Rp60 Ribuan
-
Capaian Positif Penjualan Daihatsu Sigra di GIIAS 2026
-
Laporan CrowdStrike 2026: AI Kini Menjadi Senjata Utama Pelaku Siber
-
Dibintangi Margaret Qualley, Remake Film Possession Tayang Juni 2027