Seram! Bayar Uang atau Keluarga Dibunuh, Kiper Ini Terpaksa Buat Timnya Kalah 0-6

Selasa, 15 September 2026 | 15:27 WIB
Sepak bola Bolivia diguncang dugaan intimidasi serius setelah sejumlah pemain Guabira mengaku mendapat ancaman pembunuhan menjelang pertandingan melawan Always Ready. [Instagram Manuel Ferrel]
  • Kiper Guabira Manuel Ferrel dan keluarganya mendapat ancaman pembunuhan agar mengalah sebelum melawan Always Ready.
  • Guabira menelan kekalahan telak nol enam setelah kiper utama dan penyerang Victor Abrego diganti akibat ketakutan.
  • Klub Always Ready menyatakan simpati serta siap mendesak kejaksaan untuk menyelidiki kasus ancaman tersebut secara tuntas.

Suara.com - Sepak bola Bolivia diguncang dugaan intimidasi serius setelah sejumlah pemain Guabira mengaku mendapat ancaman pembunuhan menjelang pertandingan melawan Always Ready.

Pelatih Guabira Leonardo Egüez menyebut kiper Manuel Ferrel, istri, dan ibunya mendapat ancaman sebelum pertandingan.

Mirisnya, laga tersebut berakhir dengan kekalahan telak Guabirá 0-6.

Eguez mengungkapkan ancaman tersebut disampaikan kepada Ferrel sebelum pertandingan.

Sang kiper disebut diminta menyerahkan sejumlah uang atau memastikan gawangnya kebobolan sedikitnya tiga kali.

"Bola sudah ternoda, sudah ternoda. Kiper saya diancam akan dibunuh, begitu juga istrinya dan ibunya," ujar Egüez dalam konferensi pers seusai pertandingan dikutip dari Clarin.

"Kalau tidak membayar sejumlah uang atau tidak kebobolan tiga gol, mereka mengatakan akan membunuh mereka," lanjutnya.

Ferrel tetap dimainkan sebagai starter. Namun, kiper Guabirá itu kebobolan tiga gol hanya dalam 35 menit pertama sebelum akhirnya meminta diganti.

Dugaan intimidasi tersebut ternyata turut memengaruhi pemain Guabirá lainnya.

Penyerang Víctor Ábrego bahkan meminta diganti karena takut setelah mengetahui ancaman yang diterima Ferrel.

"Saya takut dan tidak ingin melanjutkan pertandingan. Saya keluar sambil menangis," kata Ábrego.

Ábrego mengaku memikirkan kemungkinan buruk yang dapat menimpa rekan-rekannya, termasuk keluarganya sendiri.

Bek José Enrique Flores juga mengatakan sejumlah pemain sempat menyatakan keinginan untuk menghentikan pertandingan.

Sementara itu pihak klub Always Ready turut merespons serius laporan tersebut.

Pengacara klub, Marcelo Ortiz, menyatakan pihaknya bersimpati kepada Guabirá dan siap mendorong penyelidikan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

"Jika kami harus pergi ke Kejaksaan dan meminta penyelidikan, kami akan melakukannya," kata Ortiz.

Ia bahkan membuka kemungkinan dilakukan pemeriksaan terhadap telepon seluler para pemain untuk melacak asal pesan atau ancaman yang diterima.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com