- Mantan pelatih Rahmad Darmawan mengapresiasi strategi bertahan Timnas Indonesia saat bermain imbang melawan Malaysia.
- Rahmad menyarankan agar pemain menyapa suporter dari tengah lapangan guna menghindari kritik kasar usai bertanding.
- Kapten Kevin Diks menyayangkan teriakan nama pelatih lama dari penonton di tengah perjuangan keras tim.
Suara.com - Mantan pelatih Timnas Indonesia, Rahmad Darmawan, menilai perjuangan skuad Garuda saat bermain imbang 0-0 melawan Malaysia layak mendapat apresiasi.
Menurutnya, keputusan pemain Timnas Indonesia bermain lebih bertahan setelah kehilangan satu pemain merupakan pilihan yang masuk akal.
"Overall permainan Timnas bagus, sejak awal mengambil inisiatif serangan hingga terjadi kartu merah. Dalam kondisi tertinggal jumlah pemain, strategi pelatih berkapasitas dunia pun pasti akan berubah," kata Rahmad dalam keterangan resmi PSSI.
Menurut pelatih yang akrab disapa Coach RD itu, perubahan pendekatan setelah kartu merah merupakan konsekuensi logis.
Timnas Indonesia tidak mungkin mempertahankan strategi menyerang seperti ketika masih bermain dengan 11 pemain.
RD juga menilai keputusan menerapkan low block untuk meredam serangan Malaysia bukan sesuatu yang perlu dipersoalkan. Terlebih, Indonesia sebelumnya sudah beberapa kali kesulitan menghadapi kecepatan winger Malaysia, Arif Aiman.
"Apalagi dengan 10 pemain, tidak salah jika bermain dengan low block untuk meredam kecepatan pemain Malaysia," ujar Rahmad.
Indonesia kemudian lebih banyak bertahan dan menjaga area pertahanan sendiri. Maarten Paes tampil penting di bawah mistar, sementara barisan belakang Garuda mampu mempertahankan gawang tetap tanpa kebobolan hingga laga berakhir.
Bagi RD, keberhasilan mengamankan hasil 0-0 tidak hanya berkaitan dengan taktik. Ia juga menyoroti pentingnya hubungan antara pemain Timnas Indonesia dan suporter yang hadir langsung di stadion.
Rahmad bahkan menyinggung kebiasaan pemain mendatangi tribun setelah pertandingan.
Menurutnya, seremoni tersebut perlu dilakukan secara lebih proporsional, terutama ketika pemain baru saja menjalani pertandingan dengan intensitas tinggi.
"Jika kalah, pemain masih harus ke tribun, sementara mereka sudah capek dan lelah berjuang, tetapi masih menerima kritik pedas dengan bahasa yang kasar dan memancing emosi," kata pelatih berusia 59 tahun tersebut.
RD menyarankan para pemain tidak harus selalu mendatangi tribun dalam situasi seperti itu.
Menurut dia, pemain bisa berdiri membentuk lingkaran di tengah lapangan, menghadap penonton, kemudian menyapa, melambaikan tangan atau bertepuk tangan bersama suporter.
Pertandingan Indonesia kontra Malaysia juga diwarnai teriakan sebagian penonton yang menyebut nama Shin Tae-yong, mantan pelatih Timnas Indonesia sebelum John Herdman.