-
Mariano Peralta lebih tajam di Asia ketimbang kompetisi domestik musim ini.
-
Taktik low block lawan membuat ruang gerak sang pemain menjadi sangat terbatas.
-
Jadwal padat dan kelelahan fisik turut memengaruhi ketajaman pemain di lapangan.
Suara.com - Pelatih Persib Bandung, Igor Tolic, mengungkapkan alasan Mariano Peralta tampil lebih tajam di kompetisi Asia dibandingkan Super League 2026/2027.
Winger asal Argentina itu belum menunjukkan produktivitas maksimal di kompetisi domestik.
Padahal, Peralta datang ke Persib dengan reputasi mentereng setelah dinobatkan sebagai pemain terbaik Super League musim lalu.
Hingga saat ini, Peralta baru mencetak satu gol dari tujuh penampilan di Super League 2026/2027.
Catatan tersebut berbanding terbalik dengan performanya di AFC Champions League Two (ACL 2) 2026/2027.
Di kompetisi Asia, pemain berusia 28 tahun itu sudah membukukan dua gol dari tiga penampilan, termasuk satu pertandingan babak play-off.
Igor Tolic menegaskan bahwa penurunan produktivitas Peralta bukan disebabkan oleh kualitas sang pemain.
Menurutnya, perbedaan pendekatan taktik lawan di kompetisi domestik dan Asia menjadi salah satu faktor yang memengaruhi performa pemain sayap tersebut.
Di Super League, Persib kerap menghadapi tim yang memilih bertahan dengan garis pertahanan rendah atau low block. Situasi itu membuat Peralta memiliki ruang lebih terbatas untuk mengembangkan permainan dan menciptakan peluang.
"Saya rasa tidak ada beda (cara bermainnya), Peralta adalah pemain yang memiliki kualitas ekstra sebagai pemain," kara Igor di laman I.League.
"Tapi ada perbedaan ketika bermain di ACL dan liga karena ada lebih banyak ruang. Tim yang tampil melawan kami di Liga, selain mereka bermain dengan pressing tinggi, mereka akan bermain low block."
"Jadi saat bermain melawan tim dengan taktik low block, maka pemain dituntut melakukan usaha tambahan dalam ruang yang kecil," jelasnya.
Selain taktik lawan, Igor Tolic juga menyoroti padatnya jadwal pertandingan Persib musim ini.
Maung Bandung harus membagi fokus ke empat kompetisi berbeda, yakni Super League, ACL 2, ASEAN Championship Club (ACC), dan League Cup.
Banyaknya pertandingan membuat para pemain dituntut menjaga kondisi fisik sekaligus mental agar bisa tampil maksimal sepanjang musim.
Menurut Tolic, kelelahan dapat memengaruhi kecepatan pemain dalam mengambil keputusan maupun mengeksekusi peluang di lapangan.
"Jika dalam kondisi kelelahan dari fisik dan mental, maka pemain kehilangan sepersekian detik untuk melakukan hal yang ingin dilakukan," jelasnya.
"Bukan berarti pemain yang buruk, tapi itu ada kondisi bahwa ketika lawan lebih segar maka tidak ada waktu," pungkasnya.