/
Rabu, 05 Oktober 2022 | 09:00 WIB
Kode 1312 di Stadion Kanjuruhan (Foto Istimewa / Suara.com/ Dimas Angga Perkasa)

SuaraCianjur.id- Terkait dengan tragedi Kanjuruhan yang menyebabkan tewasnya 125 orang,  masih terus diselidiki. Bahkan indikasi utama terhadap tragedi maut itu diduga disebabkan dari pelepasan gas air mata.

Menurut Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), hingga kini tim investigasi masih menelusuri soal atas perintah siapa penggunaan gas air mata, untuk mengendalikan massa di dalam Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10) kemarin.

Menurut Komisioner Kompolnas, Albertus Wahyurudhanto, mengatakan jika hingga kini pihaknya masih meneliti terkait dari mana perintah tersebut datang , sampai anggota di lapangan melepaskan gas air mata.

"Ini kami teliti, karena saat itu Kapolres Malang sedang di luar akan mengamankan pemain (Persebaya) yang akan keluar," terang Wahyu, di Malang, Selasa (4/10/2022) kemarin.

Wahyu mengatakan, pada saat Kapolres Malang berada di luar, di dalam Stadion Kanjuruhan sedang terjadi kericuhan. Kemudian petugas menggunakan gas air mata untuk mengurai massa.

Maka dengan situasi yang terjadi itu, tidak menutup kemungkinan ada pejabat yang memberikan titah kepada anggota untuk menggunakan gas air mata.

Para suporter yang masih berada dalam stadion pun panik, akibat gas air mata yang membuat sesak nafas. Hinga mereka berhamburan berebut pintu keluar.

"Kejadian itu di dalam, berarti ada pejabat di dalam yang memerintahkan. Siapa orangnya, sedang disidik, tapi sembilan orang sudah dicopot. Tim sedang bekerja," kata dia.

Dirinya juga menanbahkan, jika AKBP Ferli Hidayat yang saat itu masih memegang tongkat komando Kapolres Malang, tidak memerintahkan anggotnya untuk menggunakan gas air mata.

Baca Juga: Bukan 'tak Mau Nolong, ART Mengaku Diancam Rizky Billar Saat Melakukan KDRT kepada Lesti kejora

AKBP Ferli juga telah memberikan langkah antisipasi dengan memberikan arahan langsung kepada personel untuk menghindari aksi kekerasan.

"Dalam apel yang dilakukan, sudah ada instruksi tidak boleh ada kekerasan dalam kondisi apa pun. Instruksi diulang berkali-kali oleh Kapolres saat apel persiapan," terangnya.

Kekalahan Arema FC oleh Persebaya pada hari Sabtu Sabtu (1/10) kemarin, membuat para suporter turun ke lapangan.

Situasi yang tak terkendalikan membuat petugas keamanan gabungan Polri dan TNI berusaha menghalau kepada para suporter tersebut, hingga akhirnya tragedi pun terjadi.

Load More