SuaraCianjur.id- Maraknya kasus pelecehan seksual pada kalangan anak-anak hingga remaja, disebabkan oleh berbagai macam faktor. Termasuk muncul berbagai modus-modus baru yang dilakukan para pelaku pelecehan seksual.
Pelaku-pelaku tersebut biasanya mengincar kalangan yang mudah diperdaya. Berbagai macam jurus dan motif dilancarkan, supaya bisa menuruti permintaan mereka.
Upaya-upaya tipu daya untuk mengelabui anak-anak disebut dengan Child Grooming. Maka dari itu masyarakat penting harus memahami hal ini, agar terhindar dari hal yang tak diinginkan.
Tindakan ptersebut dilakukan oleh para pelaku kejahatan seksual, untuk membangun hubungan kepercayaan dan ikatan emosional dengan anak-anak atau remaja, yang menjadi target.
Child Grooming akan membuat anak merasakan nyaman, mendapatkan perhatian, serta merasa aman jika ada di dekat pelaku.
Kemudian para pelaku tersebut memanipulasi dan mengeskpoitasi korbanya untuk mendapatkan kepuasan seksual yang diharapkan.
Anak-anak dan remaja menjadi kelompok yang paling rentan mendapatkan perilaku ‘grooming’ ini. Karena pada umumnya, mereka belum memiliki tingkat kematangan berpikir, untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Faktor lainnya adalah, pengetahuan anak-anak yang masih terbatas dari segi ilmu dan pengalaman. Tak hanya itu, faktor mudahnya rayuan dan dibujuk menjad salah satu hal yang harus diantisipasi. Apalgi hal itu dilakukan oleh orang asing.
Para orang tua harus bisa mencegah dan mengawasi anak-anaknya.
Baca Juga: Aksi Kekerasan Oknum Anggota TNI di Stadion Kanjuruhan, Jenderal Dudung Beri Tanggapan Berbeda
Perilaku semacam ini bisa jadi awal mula kejahatan pedofilia. Biasanya para pelaku merupakan orang-orang terdekat korban.
Dikutip dari laman parenting.co.id, ada tiga tahapan yang dilakukan oleh para pelaku child grooming dalam menjalankan aksinya, diantaranya:
1. Accesing
Biasanya perilaku ini dimulai dengan mencari akses untuk mendekati target korbannya, mereka melihat celah kosong agar terus dapat berdekatan oleh target yang diincarnya.
2. Trust Building
Setelah memiliki akses dengan korban, pelaku langsung mempersiapkan korbannya dengan cara membangun kepercayaan dan mengikat emosional mereka. Sehingga kejahatan yang dilakukan akan terasa normal bagi korban.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan