- Seorang siswa SMKN di Samarinda meninggal dunia akibat infeksi kaki setelah menggunakan sepatu kekecilan karena keterbatasan ekonomi.
- Menteri PPPA Arifah Fauzi menyoroti kasus tersebut dan mendesak pemerintah mengevaluasi akses bantuan sosial bagi keluarga miskin.
- Pemerintah akan memperkuat sistem pendataan warga serta deteksi dini agar hak pendidikan dan keselamatan anak tetap terjamin.
Suara.com - Seorang siswa SMKN di Samarinda, MRS, meninggal dunia akibat sakit. Remaja 16 tahun itu disebut harus memakai sepatu sekolah yang kekecilan dalam waktu lama karena keterbatasan ekonomi orangtuanya. Akibat dari itu, kaki MRS mengalami pembengkakan yang menyebabkan sakit menjalar hingga tubuh lalu meninggal dunia.
Tragedi tersebut langsung disorot oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menteri PPPA), Arifah Fauzi. Ia menyampaikan duka mendalam sekaligus menegaskan pentingnya kehadiran negara dalam menjamin hak anak.
Ia menegaskan bahwa kasus ini tidak bisa dianggap sepele dan membutuhkan evaluasi menyeluruh.
“Kejadian ini menjadi perhatian serius dan karena itu perlu di evaluasi secara menyeluruh” kata Arifah kepada wartawan di Jakarta, Senin (4/5/2026).
Menurutnya, pemerintah perlu menelusuri akar masalah, termasuk kemungkinan adanya persoalan dalam pendataan sosial yang berdampak pada akses bantuan.
Pemerintah, kata dia, harus mengevaluasi aspek administrasi kependudukan yang berpotensi membuat keluarga tidak terdaftar sebagai penerima bansos dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), hingga kendala dalam mengakses program seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Program Indonesia Pintar (PIP).
“Kemen PPPA akan berkoordinasi dengan Kementerian/Lembaga terkait guna memastikan ketepatan sasaran program perlindungan sosial bagi anak” lanjutnya.
Selain penanganan kasus, ia menekankan pentingnya penguatan sistem pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang. Menurutnya, peran perangkat desa dan kelurahan harus diperkuat, terutama dalam pendataan warga dan deteksi dini kondisi anak.
“Tentu kita semua berharap peristiwa serupa tidak kembali terjadi. Setiap anak Indonesia harus dapat mengakses pendidikan tanpa harus mengorbankan keselamatan dan kesehatannya. Momentum Hari Pendidikan Nasional menjadi pengingat bahwa pendidikan yang aman, layak, dan bermutu adalah hak seluruh anak bangsa, tanpa terkecuali,” pungkas Arifah.
Baca Juga: Ketum Posyandu Tri Tito Karnavian Dorong Pemulihan Warga Huntara Aceh Utara: Bansos dan Senam Sehat
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Terbaru 2026 Baterai Jumbo 10.000 mAh: Tahan 3 Hari, Performa Kencang
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo Alfamart Hari Ini 2 Mei 2026, Menang Banyak Diskon hingga 60 Persen Kebutuhan Harian
- Promo Indomaret Hari Ini 1 Mei 2026, Dapatkan Produk Hemat 30 Persen
- 5 Cushion Waterproof dan Tahan Lama, Makeup Awet Seharian di Cuaca Panas
Pilihan
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
Terkini
-
KPK Panggil Lagi Eks Staf Ahli Budi Karya Sumadi dalam Kasus DJKA
-
AS Luncurkan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz, Klaim Jamin Stabilitas Pasokan Minyak Mentah
-
KPK Siap Hadapi Praperadilan Eks Wakil Ketua PN Depok di Kasus Suap Lahan
-
Anggota DPR Kecam Dugaan Pelecehan Seksual di Ponpes Pati, Desak Pelaku Segera Ditangkap
-
Wakil Ketua Komisi X DPR Desak Presiden Prabowo Hapus Cluster Guru, Minta Status Disatukan Jadi PNS
-
Proposal Iran Desak Penarikan Pasukan AS dan Pencabutan Blokade Selat Hormuz
-
Kapal Kargo di Selat Hormuz Mulai Diserang, Dihantam Proyektil Misterius
-
Tragedi Bekasi Timur Jadi Alarm Keras, Rieke Desak Perpres Tata Kelola Kereta Api Segera Terbit
-
Gubernur Pramono Anung Lepas 561 Alumni SMK Jakarta Bekerja ke Jerman hingga Jepang
-
4 Dokter Muda Meninggal Saat Magang Sejak Februari 2026, Seberapa Berat Beban Kerja Nakes?