SuaraCianjur.Id- Kesehatan mental adalah hal yang sangat penting untuk dijaga. Banyak faktor yang dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang, seperti stres, kecemasan, depresi, dan masalah emosional lainnya.
Selain pengobatan medis dan terapi psikologis, terapi musik juga bisa digunakan sebagai alternatif untuk meredakan gejala-gejala tersebut. Salah satu jenis musik yang dapat digunakan sebagai terapi adalah musik metal.
Dilansir dari jurnal, menurut Profesor David Huron, seorang ahli musik dari Ohio State University dilansir dari tulisannya yang berjudul "Music and Emotion", musik metal dapat memberikan efek terapi bagi orang yang mengalami stres dan depresi.
"Ketika seseorang mendengarkan musik metal, tubuhnya akan melepaskan hormon endorfin yang dapat meningkatkan mood dan meredakan stres," ujarnya.
Berdasarkan penelitian "The Role of Music in Mental Health Care" yang dilakukan oleh University of Queensland, Australia, musik metal dapat membantu orang yang mengalami kecemasan dan depresi dalam meningkatkan kesejahteraan mereka.
"Dalam penelitian kami, kami menemukan bahwa partisipan yang mendengarkan musik metal memiliki peningkatan mood yang signifikan dan merasa lebih baik secara umum," ujar Dr. Genevieve Dingle, seorang ahli musik dan kesehatan mental.
Selain itu, dalam bukunya yang berjudul "The Musician's Way", Gerald Klickstein mengungkapkan bahwa musik metal dapat membantu orang untuk mengatasi rasa marah dan agresi.
"Ketika seseorang mendengarkan musik metal, energi dan rasa marah yang terpendam dapat dilepaskan melalui musik tersebut, sehingga dapat membantu seseorang merasa lebih tenang dan terkontrol," katanya.
Namun, perlu diingat bahwa terapi musik metal bukanlah satu-satunya cara untuk mengatasi masalah kesehatan mental.
Terapi musik hanya dapat digunakan sebagai bagian dari terapi yang lebih luas, seperti terapi psikologis dan obat-obatan.
Sebagai kesimpulan, musik metal dapat digunakan sebagai terapi untuk meningkatkan kesejahteraan mental seseorang, terutama bagi mereka yang mengalami stres, kecemasan, dan depresi. (*)
(*/Haekal)
Sumber: Beberapa Jurnal
David Huron, "Music and Emotion", Ohio State University
Genevieve Dingle, "The Role of Music in Mental Health Care", University of Queensland, Australia
Gerald Klickstein, "The Musician's Way: A Guide to Practice, Performance, and Wellness", Oxford University Press
Berita Terkait
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Minuman Kafein Bisa Picu Migrain, Dokter Ungkap Pola Minum yang Aman
-
Wasekjen PBNU: Usulan Perubahan Ketentuan AHWA Berasal dari Syuriyah PWNU Jateng
-
Membludak! Audisi Miss Indonesia 20th Catat Peningkatan Peserta di Sejumlah Kota
-
Malut United dan Adhyaksa FC Diisukan Ganti Nama, I.League Ingatkan Ancaman Pengurangan Poin
-
Wamendagri Ribka Tegaskan Hilirisasi Kakao Bukti Nyata Keberhasilan Dana Otsus Papua
-
Jangan Sepelekan! Konsumsi Obat Pereda Nyeri Berlebihan Bisa Picu Sakit Kepala Berulang
-
Kabar Gembira! Pajak Film Nasional di Jakarta Dipangkas 50 Persen
-
Hasil Piala Dunia 2026, Jepang Kesetanan Bantai Tunisia 4-0
-
3 Cara Ampuh Atasi Kantuk Setelah Makan Siang, Biar Tetap Fokus
-
Makna Lagu Oasis 'Wonderwall' dalam Perayaan Kemenangan Timnas Inggris