SuaraCianjur.Id-Setiap momen yang berbaur selingkuh pasti ramai diperbincangkan juga disukai banyak orang, mulai dari film, dan percintaan kisah nyata.
Selingkuh itu berbeda dengan ketertarikan, maka dari itu jika kita tertarik dengan seseorang bukan berarti selingkuh.
“Kita perlu membedakan antara perselingkuhan dengan ketertarikan, kita bisa memutuskan tidak selingkuh dan setia sama pasangan. Tapi, sulit kita kendalikan adalah ketertarikan, dan tertarik bukan berarti selingkuh, karena komitmen masih sama pasangan,” ujar Inez Kristanti sebagai Psikologis Klinis.
Tipe-tipe selingkuh ada beberapa, diantaranya yaitu selingkuh fisik maupun seksual sering terjadi dan gampang dilihat.
Selingkuh emosional di mana tidak ada kontak fisik, tetapi sudah mulai curhat-curhatan yang mengarah ke perselingkuhan dan mulai ada perasaan.
Ada juga tipe selingkuh yang kognitif, di mana tidak ada kontak sama sekali tetapi terobsesi hingga kepikiran terus menerus.
Selingkuh bisa muncul dari beberapa faktor, salah satunya dari individunya sendiri. Bagaimana pasangan kita menghargai komitmen, melihat kepercayaan satu sama lain, jiga mana yang dihargai atau tidak.
Faktor lainnya untuk berselingkuh adalah situasi, jika situasinya mendukung dan hadirnya kesempatan maka dia akan berselingkuh.
Relasi atau kondisi hubungan antara pasangan resmi juga menjadi faktor, ketika sedang goyah dan kurang harmonis semakin membuka motivasi untuk berselingkuh. Tetapi, saat berselingkuh kita tidak bisa menyalahkan kekurangan pasangan.
Baca Juga: Menjajal Pengalaman Unik di Confee Semarang, Nongkrong Seru di Container Box
“Misalkan pulang bareng, dan direct massage dibalas. Tetapi, kita tidak bisa menyalahkan selingkuh itu salah pasangannya yang kurang perhatian, kurang berusaha di dalam hubungannya. Kita harus pisahkan juga relasi atau kondisi hubungannya menjadi salah satu faktor, tapi tetap yang membuat keputusan untuk berselingkuh dia,” jelas Inez.
Menurut Inez Kristanti, selingkuh itu bukan penyakit, bukan tentang bisa sembuh atau tidaknya. Selingkuh itu terkait pada kontrol diri, bagaimana seseorang bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Selain itu juga, perselingkuhan akan dan/atau tidak akan terjadi lagi itu balik pada dirinya sendiri.
“Selingkuh ada pada kendali kita, orang kita yang ngelakuin kok. Jadi, selingkuh itu sesuatu pola yang bisa diubah jika ada kemauan dan ada keinginan untuk mempertanyakan kepada dirinya sendiri knapa ia berselingkuh,” tutup Inez Kristanti. (*)
Sumber: YouTube Parentalk
(*/Haekal)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Predator Anak di Cakung DItangkap: Nekat Jebol Atap Rumah Demi Kabur usai Kepergok Warga
-
Apa Itu Projection dalam Parfum? 3 Merek Lokal Ini Aromanya Tercium hingga 2 Meter
-
Lawan Stroke dengan Karya, Anggia Novita Debut Jadi Produser OST Film Juminten Edan
-
Kapan Puasa Tasua dan Asyura 2026? Ini Tanggal, Bacaan Niat, dan Keutamaannya
-
Pakar Sorot Masalah RAPBN 2027: Anggaran K/L Tercekik Demi Program Prioritas
-
HP Vivo Y500 Resmi di Pasar Global: Baterai 8.100 mAh dan Layar AMOLED 1,5K
-
Gara-Gara Tutup Mulut, Almiron Jadi Korban Pertama Aturan Baru Piala Dunia
-
Kejar Transaksi Ritel, CIMB Niaga Terus Pepet Kalangan Gen Z
-
Obesitas Berisiko Alami Penyakit Ginjal pada Anak, Pola Makan Jadi Sorotan
-
Kebun Sawit PTPN Dijarah, Negara Rugi Rp62,6 Miliar