/
Rabu, 06 Juli 2022 | 17:48 WIB
pexels.com/Ahsanjaya

Deli.Suara.com - Mata uang rupiah pada perdagangan hari ini, Rabu (6/7/2022), menembus level Rp 15.000 per US Dolar. Kinerja mata uang rupiah berada dalam tekanan selama perdagangan pekan ini. 

Ekonom Sumut Gunawan Benjamin menyampaikan, pemicu pelemahan masih dikarenakan oleh rencana kebijakan suku bunga yang agresif oleh Bank Sentral AS atau The FED.

"Namun, kita perlu mengantisipasi dampak pelemahan rupiah tersebut terhadap potensi kenaikan sejumlah harga kebutuhan masyarakat," kata Gunawan.

Meski pada dasarnya sudah jauh hari sebelumnya harga kebutuhan masyarakat naik, yang dipicu oleh beberapa kombinasi sentimen buruk eksternal seperti kenaikan harga kebutuhan pangan dan enerji hingga bahan baku.

"Nah saat rupiah melemah, hal tersebut juga berdampak pada semakin mahalnya barang kebutuhan impor," kata Gunawan.

Gunawan mengatakan, bagi Indonesia impor memiliki peranan penting dalam pembangunan dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. 

Sejumlah bahan pangan impor seperti bawang putih, kedelai, gandum, memiliki peranan besar pada pemenuhan sejumlah kebutuhan hidup masyarakat.

Gunawan melanjutkan, di sisi lain barang barang modal, bahan baku, maupun sejumlah biaya input produksi berpeluang mengalami kenaikan.

"Jadi tekanan inflasi di bulan Juli ini berpeluang untuk berlanjut sekalipun di bulan Juni inflasi sudah mencetak kenaikan angka yang signifikan," ujarnya.

Baca Juga: Izin Pengumpulan Uang dan Barang Dicabut Kemensos, ACT: Kami Sangat Kaget

Sejauh ini, kata Gunawan, secara nasional inflasi di bulan Juli 2022 masih berpeluang untuk naik dalam rentang 0.1 % hingga 0.17 %. 

Sementara itu, khusus untuk wilayah sumatera utara, pertumbuhan ekonominya justru memiliki korelasi yang kuat dengan pertumbuhan impornya. 

"Sehingga pelemahan rupiah yang menyentuh 15 ribu per US Dolar akan menekan pertumbuhan ekonomi di Sumut itu sendiri," tukasnya.

Load More