/
Rabu, 14 September 2022 | 15:45 WIB
Kilang minyak lepas pantai. (Foto: Istimewa)

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno baru-baru ini mengatakan Rusia menawarkan minyaknya dengan diskon 30% dari tarif internasional. 

Jika pemerintah menerima tawaran tersebut, Indonesia akan mengikuti langkah sejumlah negara Asia termasuk India dan China yang sudah lebih dahulu membeli minyak mentah dari Rusia.

Langkah itu membantu Moskow menghindari sanksi ekonomi berat yang dijatuhkan oleh Barat.

Ishaq Rahman meminta pemerintah Indonesia mempertimbangkan dampak terhadap reputasi internasional dan hal yang ia sebut biaya diplomasi seandainya jadi membeli minyak mentah dari Rusia.

Menurutnya, salah satu yang perlu diantisipasi adalah respons Amerika Serikat.

“Kita ketahui bahwa Amerika bisa saja mengambil langkah-langkah yang tegas itu, bahkan mungkin langkah yang ekstrem seperti melakukan embargo atau melakukan peninjauan terhadap berbagai mcam komitmen dalam kerjasamanya dengan Indonesia yang sudah dibangun selama ini,” papar Ishaq. 

Ishaq memaparkan, saat ini dunia internasional baik pemerintah, organisasi internasional maupun organisasi masyarakat sipil memberikan atensi yang tinggi dan concern yang serius terhadap perilaku atau tindakan Rusia di Ukraina. 

Negara-negara G7 sedang merumuskan batasan harga untuk minyak Rusia dengan maksud membatasi kemampuan Moskow membiayai perangnya di Ukraina tanpa mengurangi ekspor minyaknya ke konsumen di seluruh dunia.

Batasan harga itu diperkirakan sebesar US$40 sampai US$60 per barel. AS telah mengancam akan memberikan sanksi kepada pihak yang membeli minyak Rusia di atas batasan tersebut. 

Baca Juga: Kepala BSSN Tak Punya Background IT dan Olok-Olok Publik Terhadap Pengetahuan Teknologi Hinsa Siburian

Sedangkan, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan akan menahan ekspor ke negara yang menerapkan batasan tersebut, yang dapat memberikan tekanan pada pasar.

Ishaq menyarankan pemerintah mematuhi batasan harga yang ditetapkan G7, bila jadi membeli minyak dari Rusia. Langkah lain yang bisa diambil adalah membeli dari pihak ketiga misalnya China dan India.

“Ini salah satu strategi yang bisa dilakukan karena kalau misalnya pembelian secara langsung dan kemudian sampai terjadi embargo, saya kira secara nyata bisa berdampak terhadap perdagangan internasional kita,” urainya.

Sebelumnya, pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM pada akhir Agustus lalu demi mengurangi beban subsidi pada keuangan negara. Presiden Jokowi mengatakan anggaran subsidi dan kompensasi BBM tahun ini telah meningkat tiga kali lipat dari Rp152,5 triliun menjadi Rp502,4 triliun.

Subsidi membengkak karena rata-rata harga minyak dunia selama sembilan bulan terakhir berkisar 90 hingga 100 dolar AS per barel, jauh di atas Indonesia Crude Price atau ICP yang ditetapkan di APBN 2022 yaitu 63 dolar AS per barel.

Menurut lembaga pemantau pasar Statista, harga rata-rata minyak mentah Ural, merk minyak terbesar Rusia mencapai US$74,7 per barel pada Agustus 2022, turun dari bulan sebelumnya.

Load More