Isu bocornya keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang disebut bakal memutuskan sistem pemilu proporsional tertutup dianggap Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bisa membuat Pemilu kacau balau.
SBY berpandangan apa yang ia sampaikan juga merupakan pertanyaan mayoritas rakyat Indonesia dan mayoritas partai-partai politik. Tak terkecuali para pemerhati pemilu dan demokrasi.
Pertanyaan SBY kepada MK, yakni apakah ada kegentingan dan kedaruratan sehingga sistem pemilu diganti ketika proses pemilu sudah dimulai?
"Ingat, DCS (Daftar Caleg Sementara) baru saja diserahkan kepada KPU. Pergantian sistem Pemilu di tengah jalan bisa menimbulkan chaos (kekacauan)," kata SBY.
Lantas seburuk apa sistem pemilu proporsional tertutup sehingga bisa membuat kacau?
Sistem pemilu proporsional tertutup adalah sistem di mana partai politik mengajukan daftar calon legislatif mereka secara internal, dan pemilih hanya memilih partai politik tanpa dapat memilih calon-calon individual. Pada sistem ini, kursi parlemen didistribusikan berdasarkan perolehan suara partai secara proporsional.
Dampak buruk dari sistem pemilu proporsional tertutup antara lain:
1. Kurangnya representasi individu: Dalam sistem ini, pemilih tidak memiliki pilihan untuk memilih calon individu yang mereka anggap paling kompeten atau sesuai dengan pandangan mereka. Hal ini mengurangi kemampuan pemilih untuk memiliki pengaruh langsung terhadap orang yang akan mewakili mereka di parlemen.
2. Kurangnya akuntabilitas: Tanpa pemilihan individu, para anggota parlemen lebih cenderung bertanggung jawab kepada partai politik daripada kepada konstituennya. Dalam sistem ini, keputusan politik sering kali diambil berdasarkan pertimbangan partai, bukan berdasarkan kepentingan konstituen.
3. Dominasi partai politik: Sistem ini cenderung memperkuat kekuatan partai politik. Partai-partai politik yang besar dan mapan memiliki keuntungan dalam menempatkan calon mereka di posisi yang lebih tinggi dalam daftar, sehingga partai-partai kecil atau baru kesulitan untuk mendapatkan kursi parlemen. Hal ini dapat mengakibatkan dominasi partai politik yang sama selama bertahun-tahun, mengurangi variasi dan persaingan politik yang sehat.
4. Oligarki partai: Dalam sistem pemilu proporsional tertutup, kekuatan besar lebih cenderung berkonsentrasi pada elite partai. Hal ini dapat menciptakan situasi di mana sedikit individu atau kelompok dalam partai memiliki kendali yang signifikan atas keputusan partai dan perekrutan calon.
5. Tidak mewakili keragaman pemilih: Sistem ini dapat mengabaikan keragaman pendapat dan preferensi pemilih yang ada dalam masyarakat. Pemilih mungkin memiliki preferensi yang lebih luas dan bervariasi, namun sistem ini tidak memberikan cara yang efektif untuk mencerminkan keragaman tersebut dalam wakil-wakil yang terpilih.
Dalam beberapa negara, sistem pemilu proporsional tertutup telah dikritik karena dampak-dampak negatif ini. Beberapa negara telah beralih ke sistem pemilu proporsional terbuka atau campuran untuk memperbaiki representasi dan akuntabilitas politik.
Berita Terkait
-
Mahfud MD Minta MK Usut Pihak Internal yang Bocorkan Putusan Gugatan Sistem Pemilu Tertutup
-
Dianggap Bocorkan Rahasia Negara dan Sebar Fitnah, Polri Didesak Tangkap SBY dan Denny Indrayana
-
Usai Bikin Geger soal Bocoran Putusan MK, Denny Indrayana Lantang Sebut Moeldoko Pencopet Partai Demokrat
-
Ragu Rahasia Negara Bocor, PDIP soal Isu Putusan MK Cuma Spekulasi Denny Indrayana
-
Dikritik 'Kemaruk' Minta Tambah Masa Jabatan Di KPK, Nurul Ghufron Cuek, Begini Katanya
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- 61 Kode Redeem FF Max Terbaru 20 Maret 2026: Raih THR Idul Fitri, AK47 Lava, dan Joker
- 9 HP Gaming Terjangkau Rekomendasi David GadgetIn Buat Lebaran 2026, Performa Kencang!
- Apa Jawaban Minal Aidin Wal Faizin? Simak Arti dan Cara Membalasnya
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
Pilihan
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
Terkini
-
Libur Lebaran 2026: Ragunan Diserbu Wisatawan, Targetkan 400 Ribu Pengunjung
-
Misi Mencari Cuan Jalur Langit: Cek Shio-mu, Siapa Tahu Takdirmu Jadi Miliarder Setelah Opor Habis
-
Quartararo Abaikan Hasil MotoGP Brasil, Salip Marc Marquez Lebih Penting di Tengah Masa Sulit
-
Eddy Soeparno: WFH Setelah Lebaran Bisa Pangkas Konsumsi BBM Secara Signifikan
-
Daftar Lengkap Bengkel Siaga 24 Jam Arus Balik Lebaran 2026, Perjalanan Balik Lebih Tenang
-
Viral! Sekelompok Wanita Diduga Rayakan Lebaran Sambil Merokok dan Diduga Konsumsi Miras
-
Duduk Perkara Benjamin Netanyahu Bandingkan Yesus vs Genghis Khan
-
Promo Indomaret Super Hemat hingga 1 April 2026, Stok Kebutuhan Rumah Murah Meriah
-
Hantu Masa Lalu dan Teka-teki 19 Triliun dalam Novel Tentang Kamu
-
Kepadatan Kendaraan Menuju Puncak Bogor Meningkat 50 Persen, Satu Arah Diberlakukan Sejak Pagi