Suara Denpasar - Bagaimana pariwisata di zaman kerajaan? Mungkin sebagian besar dari kalian sangat pensasaran dengan itu.
Menurut H. Kodhyat (1996) dalam bukunya, Sejarah Pariwisata dan Perkembangannya di Indonesia, seiring dengan berkembangnya peradaban, manusia yang bekerja mengolah sumber daya alam memerlukan rekreasi. Yang paling awal dari kegiatan wisata di sela-sela kegiatan pencarian hidup manusia adalah istirahat.
Pada zaman kekaisaran Romawi, jalur perdagangan begitu ramai. Membentang dari Romawi Barat hingga Romawi Timur.
Di jalur perdagangan yang begitu panjang inilah berdiri pos-pos istirahat bagi para pedagang karavan. Berfungsi sebagai tempat menginap, istirahat, dan menukar kuda yang kelelahan.
Di Nusantara era klasik pun juga dapat dijumpai kegiatan-kegiatan wisata di masyarakat pada zaman tersebut. Pada abad ke 5 Masehi, Raja Tarumanegara membangun sebuah kanal yang difungsikan untuk pengairan, transportasi, dan rekreasi.
Di kanal seperti ini lah masyarakat pada zaman itu melepas penat dari pekerjaan sehari-hari. Di Trowulan, pada masa kerajaan Majapahit juga dibangun sebuah kolam yang disebut dengan "Kolam Segaran".
Kolam ini difungsikan untuk cadangan air di musim kemarau untuk kegiatan domestik masyarakat, sarana ritual dan spiritual, serta juga tempat rekreasi. Di Bali, tepatnya di Karangasem.
Juga dibangun kolam yang fungsinya kira-kira sama dengan dua contoh sebelumnya. Kolam ini dikenal dengan nama "Tirta Gangga", dan masih difungsikan sebagai tempat wisata.
Selain sarana dan prasarana yang dibangun oleh pemerintahan kerajaan, juga terdapat wisata yang bersifat alami. Misal seperti pantai, air terjun, gunung, dan lain-lain.
Baca Juga: Bergabung KMSK Deinze, Marselino Ferdinan Bisa Mainkan 3 Posisi Berbeda di Klub
Tapi perlu diingat jika tujuan kegiatan/perjalan masyarakat pada zaman tersebut untuk mencari penghidupan seperti berburu, membuka lahan, memancing, serta menghindari bencana, dan atau menghindari peperangan, tidak dapat dikategorikan sebagai kegiatan/perjalan wisata.
Pariwisata di zaman kerajaan ini nantinya berkembang dengan kedatangan bangsa Eropa yang mengkolonisasi kepulauan Nusantara.
Meskipun di satu sisi membawa penderitaan, di sisi lainnya kolonisasi membuka Nusantara terhubung dengan belahan bumi lainnya / globalisasi. Informasi mengenai keindahan alam dan keunikan budaya di Nusantara nantinya berkembang menjadi pariwisata yang lebih maju dibandingkan zaman kerajaan. (*/Dinda)
Berita Terkait
-
Mulai Rangkaian ATF 2023, Kemenparekraf Tekankan Penguatan Pekerja Profesional Pariwisata di ASEAN
-
Menparekraf Sandiaga Uno Targetkan Kunjungan 7,4 Juta Wisatawan Mancanegara Usai ATF
-
Sekda Badung Minta Masyarakat Waspada Potensi Penculikan Anak Saat Pulang Sekolah
-
Wisatawan Jalur Drama Thailand Semakin Banyak, Thai Pop Culture Bakal Saingi Korean Wave?
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
Terkini
-
Babak Baru Kasus Ijazah Jokowi: Roy Suryo dan dr Tifa Segera Disidang di PN Jakarta Timur!
-
Tak Hadiri KTT ASEAN-Rusia di Kazan, Ini Pertimbangan Prabowo
-
Lompat ke Sungai Musi Saat Digerebek, Bandar Sabu Ditemukan Tewas Dua Hari Kemudian
-
Akses KRL ke JIS Sudah Aktif: Ini Rute dan Jam Operasionalnya!
-
Aksi Mahasiswa Sumsel Kritisi Pemerintahan Prabowo-Gibran Masih Berlanjut di Palembang
-
Niat ke Lombok Malah Dibuang ke Terminal Bayangan, WNA Uzbekistan Terlunta-lunta Ditipu Taksi Gelap
-
Pemerintah Umumkan Stimulus Transportasi Rp 1,54 T, Lengkap dari Pesawat hingga Kapal
-
Ungkap Alasan Vonis 8 Tahun Bos Grup BJU Hendarto, Hakim: Hasil Korupsi Dipakai Judi!
-
MilkLife Soccer Challenge All-Stars 2026: 12 Tim Terbaik Siap Perebutkan Gelar Juara di Kudus
-
Cara Elegan Lamine Yamal Bungkam Mulut Pengkritik, Masih Berani Nyinyir?