- Tiga penumpang kapal MV Hondius di Samudra Atlantik diduga meninggal dunia akibat terjangkit virus mematikan Hantavirus.
- WHO sedang melakukan investigasi mendalam terhadap insiden tersebut guna meneliti potensi penularan virus antarmanusia yang jarang terjadi.
- Perubahan iklim memicu peningkatan populasi hewan pengerat pembawa virus yang berisiko memperluas persebaran penyakit di berbagai wilayah.
Suara.com - Kematian tiga penumpang kapal pesiar di Samudra Atlantik diduga kuat berkaitan dengan wabah Hantavirus, virus mematikan yang menyerang sistem pernapasan manusia. Kasus ini kini tengah diselidiki oleh World Health Organization (WHO) karena muncul kekhawatiran terhadap potensi penularan antarmanusia yang jarang terjadi.
Insiden tersebut terjadi di atas MV Hondius, kapal pesiar berbendera Belanda yang tengah melakukan perjalanan dari Argentina menuju Cape Verde sebelum akhirnya bersandar di Praia.
Dilansir dari ABC Australia, seorang pria lanjut usia dilaporkan meninggal dunia di atas kapal, disusul istrinya setelah sempat menjalani perawatan medis di Afrika Selatan. Sementara satu pasien lain masih menjalani perawatan intensif dalam kondisi kritis.
WHO menyatakan investigasi epidemiologi dan pengujian laboratorium masih berlangsung untuk memastikan pola penyebaran virus tersebut.
“Investigasi mendetail sedang berlangsung, termasuk pengujian laboratorium lebih lanjut dan investigasi epidemiologi,” kata WHO, dikutip CNN.
Hantavirus merupakan kelompok virus yang umumnya ditularkan melalui kontak dengan urine, air liur, atau kotoran hewan pengerat yang terkontaminasi. Virus ini dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), penyakit pernapasan serius dengan tingkat kematian tinggi, terutama di wilayah Amerika.
Dikutip dari CFR.org, ejumlah penelitian juga menunjukkan adanya kaitan antara perubahan iklim dan peningkatan risiko penyebaran hantavirus.
Perubahan pola cuaca seperti peningkatan curah hujan, kekeringan, hingga kenaikan suhu disebut dapat memengaruhi populasi hewan pengerat yang menjadi pembawa virus.
Curah hujan tinggi dapat meningkatkan jumlah tikus karena ketersediaan makanan bertambah, sementara kekeringan mendorong hewan pengerat masuk ke permukiman manusia untuk mencari sumber pangan. Kondisi tersebut meningkatkan kemungkinan kontak antara manusia dan pembawa virus.
Baca Juga: Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius Picu Kewaspadaan, 3 Penumpang Dilaporkan Meninggal
Penelitian di São Paulo bahkan menunjukkan kenaikan suhu akibat emisi dapat meningkatkan jumlah populasi berisiko terkena HPS hingga 30 persen.
Meski hingga kini risiko hantavirus berkembang menjadi pandemi global masih dinilai rendah, para ilmuwan mulai menyoroti meningkatnya kasus penularan antarmanusia pada varian Andes hantavirus di Argentina dan Chile.
Selain itu, masa inkubasi hantavirus yang dapat berlangsung hingga dua minggu membuat pelacakan penularan menjadi lebih sulit dilakukan.
Saat ini, belum tersedia obat khusus untuk menyembuhkan infeksi hantavirus. Penanganan medis umumnya difokuskan pada perawatan intensif untuk membantu fungsi pernapasan pasien dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Kasus di kapal pesiar ini pun kembali menjadi pengingat bahwa perubahan iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga dapat memperbesar risiko munculnya penyakit menular baru di berbagai wilayah dunia.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
Terkini
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat