Suara Denpasar – Jauh sebelum namanya menyita perhatian publik akhir-akhir ini karena menolak Timnas Israel berlaga di Bali dalam Piala Dunia U-20 hingga dibatalkannya Indonesia sebagai tuan rumah, nama Gubernur Bali, Wayan Koster pernah melambung karena terlibat kasus korupsi.
Saat itu Wayan Koster belum menjadi Gubernur Bali. Dia kala itu masih menjadi Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR RI dan anggota Komisi X DPR RI, namanya pernah terseret dalam pusaran korupsi dengan terdakwa Angelina Sondakh, mantan politikus Partai Demokrat.
Angie, begitu biasa Angelina Sondakh disapa terseret karena menerima gratifikasi dari Grup Permai, perusahaan milik M. Nazaruddin. Perusahaan ini melalui Mindo Rosalina Manulang melobi anggota DPR RI untuk menggiring anggaran agar membiayai proyek di Kemendiknas dan Kemenpora yang nantinya akan kerjakan Grup Permai atau pihak lain yang bekerja sama dengan Grup Permai.
Koster sempat dibuat sibuk saat awal-awal Angelina Sondakh ditangkap. Dia beberapa kali diperiksa KPK. Bahkan, namanya muncul dalam dakwaan jaksa hingga putusan kasasi Angelina Sondakh.
Dalam putusan kasasi Angie, nama Koster beberapa kali disebut sebagai salah satu orang yang terlibat menerima uang fee dari Grup Permai.
Berdasar putusan kasasi Angelina Sondakh No. 1616 K/Pid.Sus/2013, Angelina Sondakh dan Wayan Koster disebut menerima uang dari Permai Grup sebagai komitmen fee sebesar Rp12,58 miliar dan USD2,35 juta dari Mindo Rosalinda Manulang (Permai Group). Uang itu sebagai komitmen fee dalam membantu penggiringan anggaran di Banggar DPR RI untuk sejumlah proyek di sejumlah universitas (Kemendiknas) dan wisma atlet Palembang (Kemenpora).
Rincian di mana nama Koster disebut ikut terlibat dalam korupsi ini dan menerima komitmen fee terlihat jelas sebagai berikut:
1. “Pihak DPR RI yaitu terdakwa yang menjabat Ketua Koordinator Pokja Anggaran Komisi X (sepuluh) dan Wayan Koster yang menjabat selaku Wakil Koordinator Pokja komisi X meminta uang sebesar Rp5 miliar untuk pengurusan Wisma Atlet Kemenpora,” demikian yang tertulis dalam poin nomor 4 di putusan tersebut.
Saat itu, terkenal beberapa istilah Apel Malang, Apel Washington, Bu Artis, Pak Bali. Itu adalah kode-kode dalam korupsi tersebut. Apel Malang artinya uang dalam rupiah, Apel Washington artinya uang dalam dollar AS, Pak Bali adalah Wayan Koster, Bu Artis adalah Angelina Sondakh. Dan masih ada beberapa kode lainnya.
Atas permintaan tersebut, Mindo Rosalina Manulang menghubungi Angelina Sondakh melalui Blackberry Messenger (BBM) pada 5 Mei 2010 sempat mengatakan, “Sedang saya cari yang bisa memenuhi apel Amerika”.
Keesokan harinya, Rosa kemudian mengirimkan uang sebanyak 2 kali yakni pada pagi harinya sebesar Rp2 miliar dan sorenya sebesar Rp3 miliar.
“Pada pagi hari uang sebesar Rp2 miliar dibungkus dalam paket menggunakan kardus printer warna putih kemudian diantarkan Luthfie Ardiansyah (Staf bagan keuangan Permai Group) ke ruang kerja Wayan Koster di ruang 613 lantai 6 Gedung Nusantara 1 DPR RI,” lanjut dalam keterangan tersebut.
Sedangkan penyerahan dana Rp3 miliar, sore harinya dimasukkan ke dalam kardus rokok kemudian diantarkan Luthfie ke ruang kerja Wayan Koster. Namun, sebelum itu, Luthfie masuk lewat basement untuk bertemu asisten Wayan Koster bernama Budi Supriatna yang sudah menunggunya.
“Lalu mereka naik menuju ruang kerja Wayan Koster, setelah sampai di ruangan kardus yang berisi uang tersebut diserahkan kepada Budi Supriatna,” tutup keterangan dalam laporan putusan itu.
2. Pada 2 September 2010, dikeluarkan uang dari kas Permai Grup USD150.000 dalam pengurusan proyek universitas tahun 2010. Namun didahului komunikasi antara Angelina Sondakh dengan Mindo Rosalina. Saat itu Rosalina meminta Angie berkoordinasi dengan Koster, sebab Koster minta fee.
Berita Terkait
-
MENOHOK, Gendo Sebut Pak Yan Koster Gubernur Jago Ngeles dan Konyol
-
Indonesia Gagal Jadi Tuan Rumah Piala Dunia U-20, Gubernur Bali I Wayan Koster: Saya Juga Tidak Berharap FIFA Membatalkan
-
Dituduh Penyebab Gagalnya Piala Dunia U20, Wayan Koster Pernah Kecipratan Dana Rp5 Miliar? Begini Kronologinya
-
Piala U-20 Gagal! Begini Sindiran Halus Diego Michiels Kepada Ganjar Pranowo dan I Wayan Koster
-
CEK FAKTA: Ganjar dan I Wayan Koster Dicopot dari Jabatannya, Imbas Gagalkan Piala Dunia U-20?
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
Terkini
-
Mei 1998: Luka Kolektif yang Tak Boleh Dikalahkan oleh Lupa
-
5 Sepatu Long Run Terbaik 2026, Nyaman untuk Latihan hingga Maraton
-
Mengulas Forest of Noise, Kesaksian Puitis dari Tengah Perang Gaza
-
Tayang 2027, Anime Bertema Musik Studio Cabana Buka Audisi Seiyu Utama Pria
-
IIF Genjot Pembiayaan Infrastruktur, Nilai Komitmen Baru Tembus Rp2,5 Triliun pada Semester I 2026
-
Aksi Copet di Tengah Zikir Monas: iPhone 13 Wartawan dan Dompet Jemaah Lenyap
-
Danantara Akui Banyak Masalah Luar Biasa Besar di BUMN, Janji Bereskan Utang Kereta Cepat
-
Satu Tahun Sekolah Rakyat, Ratusan Siswa Torehkan Prestasi
-
Taruna Bhakti Sekolah Rakyat Resmi Dimulai, Gus Ipul: Jadi Fondasi Bentuk Karakter Siswa
-
Apa Arti Kota Global Jika Betawi Kehilangan Akar? FBR Tagih Pergub Lembaga Adat ke Pramono