Suara Denpasar - Ardee dan Gede Sumarjaya, dua seniman asal Bali akan menampilan karya terbaik mereka dalam talkshow dan workshop dalam sebuah kegiatan “Program Matjan Ke Seberang 2023”. Kegiatan itu berlangsung pada 8 juli hingga 22 juli 2023 di tiga kota. Yakni Jakarta, Yogyakarta dan Malang.
Program Matjan Ke Seberang 2023 merupakan sebuah pilot project dalam upaya untuk mengenalkan seniman-seniman muda underrated Bali ke tanah seberang. Dengan membawakan tema “Lihatlah: Bali” Program Matjan Ke Seberang 2023 memulai dari ide bahwa teman-teman dengan karya yang menarik semestinya punya kesempatan untuk memamerkan karya-karya mereka pada publik yang lebih luas yang tak hanya dikenalkan di Bali saja tentunya.
Namun, juga layak diperkenalkan kepada masyakarat luas di luar Bali. Apalagi Bali memiliki daya tarik tersendiri dalam bidang seni hingga budaya yang sudah melekat di hati wisatawan domestik maupun mancanegara.
Nantinya para seniman menghadirkan sebuah pameran seni yang berbeda, dengan eksplorasi terbaru, memanfaatkan sampah-sampah plastik dan sebuah foto dengan tehnik cetak yang dikenal sejak abad 19, gum bichromate print.
Pertama, Ardee memanfaatkan hanya sampah plastik dalam pembuatan karyanya. Pria yang sudah melalang buana dalam memamerkan karyanya ini, secara garis besar menggunakan proses menyerupai cut and paste dalam proses kolase, namun dengan visual bikinan sendiri berbahan plastik bekas yang dipungut dan kumpulkan sebelumnya.
Sedangkan, Gede Sumarjaya menggunakan sebuah tehnik gum bichromate print yang akan menghasilkan poto yang berbeda jika dicetak oleh orang yang berbeda meskipun menggunakan negatif yang sama.
Tehnik ini memunculkan karakter personal senimannya. Umumnya tehnik cetak lama menghasilkan gambar monokrom, tapi dengan tehnik ini sudah bisa menghasilkan gambar berwarna. Proses kurasi seniman yang akan mengikuti program ini terbilang cukup ketat karena mesti memenuhi beberapa kriteria umum.
Ada beberapa hal yang dipertimbangkan, yakni secara kekaryaan mereka mesti mampu berkomunikasi dengan baik dan juga menghadirkan fase kontemplasi pada saat yang sama. Seniman tersebut juga harus mampu berpikir kritis tanpa meninggalkan irama estetika sebuah karya seni.
Program Matjan Ke Seberang 2023 tentunya tak akan berjalan tanpa support dari komunitas-komunitas di luar Bali. Kegiatan ini nantinya akan berkolaborasi dengan tiga komunitas yang berada di Jakarta, Yogyakarta dan Malang. Program Matjan Ke Seberang 2023 memulai tour pertamanya di Ibukota Jakarta yakni di Gudskul Ekosistem, Jakarta Selatan.
Baca Juga: Daftar Pemain yang Dicoret Luis Milla Jelang Laga Arema FC vs Persib Bandung
Gudskul Ekosistem Adalah Sebuah ekosistem seni rupa kontemporer dibentuk oleh tiga kelompok seni rupa di Jakarta: RuangRupa, Serrum, dan Grafis Huru Hara. Tiga kolektif ini melibatkan beragam kolektif dari berbagai praktik dan medium artistic, terdiri dari banyak elemen: seniman, kurator, penulis seni rupa, manajer, peneliti, musisi, sutradara, arsitek, tukang masak, penata artistik, desainer, perancang busana, street artist, serta individu-individu dengan keahlian lainnya.
Tour kedua berlanjut disebuah kota yang dikenal dengan Kota Pelajar, Yogyakarta di Liberates Creative Colony. Salah satu studio kreatif terpenting di Yogyakarta yang merancang dan menciptakan solusi berbagai tantangan kreativitas.
Tumbuh di lingkungan dengan kekuatan seni, kreativitas, dan kultur yang kuat dan kental, Liberates studio menginisiasi gerakan kreatif yang tumbuh karena kesadaran akan pentingnya berjejaring antar komunitas kreatif. Mereka juga memiliki ruang untuk berbagai kegiatan aktif dan produktif.
Terakhir, Program Matjan Ke Seberang 2023 memilih kota Malang sebagai penutup dari serangkaian tournya di Pena Hitam. Pena Hitam merupakan sebuah kolektif illustrator yang terdiri dari anak-anak muda yang dalam aktivitasnya banyak sekali mendukung kreativitas anak muda. Art space yang mereka bangun mewadahi kreativitas anak muda mulai dari lokakarya kesenian sampai pameran seni.
Chapter atau cabang kreativitas mereka sudah menyebar ke sekitar 28 daerah di seluruh Indonesia, dimana Malang merupakan chapter induk Pena Hitam. Dimulai sejak 12 tahun yang lalu, seluruh chapter secara umum terdesentralisasi dan berdiri secara otonom. ***
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Yuto Nagatomo Ukir Sejarah di Piala Dunia 2026, Jadi Pemain Asia Pertama Tampil di 5 Edisi
-
4 Tablet Murah yang Cocok untuk Anak Sekolah, Harga Cuma Rp1 Jutaan
-
Alasan Yamaha Gear Ultima Cocok Jadi Teman Mobilitas Harian, Irit Bahan Bakar dan Bagasi Luas
-
Lebih dari Sekadar Ibu Kota, Jakarta Bertransformasi Jadi Kota yang 'Hobi' Mendengar
-
5 Motor Honda yang Namanya Mirip Mobil, Kebetulan atau Sengaja?
-
Membaca Ulang Sang Mahapatih Gajah Mada di Buku Agus Munandar
-
Ulasan The Winning Try: Kisah Tim Rugby Buangan yang Layak Diperjuangkan
-
Steam Summer Sale 2026 Dimulai, Cek Rekomendasi Game PC dengan Diskon Besar Ini
-
Jerman Tumbang dari Ekuador di Piala Dunia 2026, Julian Nagelsmann Murka Soroti Disiplin Pemain
-
Mengintip Surga Laptop Second Jogja yang Jadi Penyelamat Mahasiswa Rantau