Suara Denpasar - Keributan yang terjadi pada SEA Games ke-32 antara Timnas Thailand dan Timnas Indonesia U22 telah berakibat serius bagi kedua negara tersebut.
Baru-baru ini, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) secara resmi mengumumkan hukuman yang diberikan kepada pemain dan pejabat yang terlibat dalam keributan tersebut.
Thailand mendapat hukuman dari AFC setelah dua pemainnya, Soponwit Rakyart dan Chayapipat Supunpasuch, terlibat dalam keributan tersebut. Kedua pemain tersebut dijatuhi hukuman larangan bermain selama 6 pertandingan. Rakyart juga harus membayar denda tambahan sebesar $1.000.
Tidak hanya itu, AFC juga memberikan hukuman kepada lima pejabat dan pelatih timnas U 22 Thailand yang terlibat dalam keributan tersebut.
Pemain yang dihukum antara lain Pattarawut Wongsriphuek, Mayeid Mad-Adam, Purachet Todsanit, Thirapak Pruangna, dan Bamrung Boonprom, dijatuhi hukuman larangan bermain selama 6 pertandingan. Dua di antaranya, Wongsriphuek dan Mayeid, juga harus membayar denda sebesar $1.000.
Hukuman ini memiliki dampak besar bagi timnas U 22 Thailand. Mereka tidak akan dapat berpartisipasi dalam pertandingan yang diselenggarakan oleh AFC dalam waktu dekat. Selain itu, mereka juga tidak dapat berpartisipasi dalam Kualifikasi U23 Asia 2024 yang akan berlangsung pada bulan September 2023.
Tidak hanya pemain dan pejabat Thailand yang mendapat hukuman, AFC juga memberikan sanksi kepada pemain dan pejabat timnas U 22 Indonesia.
Tiga pemain Indonesia, Agung Bagus Fawwazi, Komang Teguh, dan Taufany Muslihuddin, dijatuhi hukuman larangan bermain selama 6 pertandingan. Selain itu, empat pejabat dan pelatih Indonesia, yaitu Sahari Gultom, Tegar Diokta, Ahmad Nizar, dan Toid Sarnadi, juga menerima hukuman serupa. Lima di antaranya harus membayar denda sebesar $1.000.
Hukuman berat ini juga berdampak pada bonus yang belum diterima oleh 20 pemain timnas Thailand. Gubernur Otoritas Olahraga Thailand mengatakan bahwa mereka akan memverifikasi pemain yang terlibat dalam keributan tersebut.
Asosiasi Sepak Bola Thailand (FAT) diminta untuk melaporkan insiden tersebut secara tertulis, namun hingga saat ini belum ada tanggapan dari FAT kepada Otoritas Olahraga Thailand.
Selain itu, dua penjaga gawang Thailand, Sophonwit Rakyath dan Teerapak Pruengna, juga dilarang berpartisipasi dalam timnas Thailand selama enam bulan.
Hukuman yang diberikan oleh AFC ini menunjukkan keseriusan mereka dalam menjaga disiplin dan integritas dalam sepak bola regional. Keributan dalam SEA Games ke-32 telah mencoreng citra sepak bola regional dan hukuman ini diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak yang terlibat.
Meskipun Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) tidak memberikan hukuman kepada anggota Timnas Indonesia U22, AFC tetap teguh dengan keputusannya. AFC akan melakukan penyelidikan internal dan kemungkinan akan mengumumkan hukuman tambahan.
Dalam kondisi yang sulit seperti ini, penting bagi semua pihak untuk belajar dari kesalahan dan bekerja sama untuk membangun citra sepak bola yang positif dan fair.
Hukuman yang diberikan oleh AFC diharapkan dapat memperbaiki perilaku dan memberikan peringatan kepada semua peserta sepak bola bahwa keributan dan pelanggaran tidak akan ditoleransi. (*/Dinda)
Berita Terkait
-
Tiga Pemain Timnas Indonesia Dilarang Bermain Oleh AFC, Wajib Bayar Denda Ribuan Dolar, Shin Tae Yong Murka Hingga PSSI Rugi?
-
CEK FAKTA: Demi Memajukan Timnas Indonesia, Shin Tae Yong Rela Masuk Islam?
-
Pelatih Jeonnam Dragons Akhirnya Akui Kehebatan Bek Timnas Indonesia Asnawi Mangkualam Setelah Sempat Disisihkan
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Kronologi Begal Kertapati: 2 Pelaku Bawa Parang, Kejar Korban hingga Berujung Maut
-
Sering Dianggap Cuma Kelelahan, Katup Jantung Bocor Bisa Ditangani Tanpa Operasi Terbuka
-
Korupsi KUR BSI Rp9,5 Miliar di OKI, Uang Pengganti 3 Terdakwa Tembus Rp9 Miliar
-
Buaya Muara 3 Meter Mendadak Muncul di Pantai Pasir Putih Cihara
-
Tenis Meja Indonesia Bidik 8 Besar di Asian Games 2026
-
Gempa NTT, PDIP Kirim Bantuan Khusus untuk Ibu Hamil dan Anak
-
Diisukan Ada OTT KPK, Begini Kondisi Kompleks Pemkab Bogor Malam Ini
-
Yasonna Laoly Dukung Kewarganegaraan Ganda Terbatas Usulan Prabowo: Demi Kepentingan Nasional
-
Purbaya: Pembatasan Subsidi BBM Hemat Anggaran 10 Persen
-
Sudah Beroperasi Tanpa Tarif, Tol Betung-Tempino-Jambi Seksi Bayung Lencir-Pijoan Segera Bertarif