Suara Denpasar - Amalan puasa akhir tahun yaitu pada 30 Dzulhijah yang digabung dengan awal Muharram dengan klaim bahwa pahalanya setara dengan ibadah selama 50 tahun telah menjadi topik perbincangan di masyarakat.
Banyak orang yang tertarik untuk melakukan amalan ini dengan harapan memperoleh pahala yang besar. Namun, menurut pendapat Buya Yahya, amalan tersebut tidak memiliki dasar yang kuat berdasarkan hadis yang shahih.
Buya Yahya menjelaskan bahwa sebagai umat Islam, kita seharusnya mengikuti ajaran dan petunjuk yang telah ditetapkan oleh Nabi Muhammad SAW yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Muslim berikut ini.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
.
Artinya: "Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram".
Dari hadis ini, kita dapat memahami bahwa puasa di bulan Muharram adalah salah satu puasa sunnah yang sangat dianjurkan.
Ibnu Rajab dalam kitabnya, Lathaif al-Ma'arif, menjelaskan bahwa hadis tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa puasa sunnah terbaik setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram.
Ibnu Rajab juga menyimpulkan bahwa kemungkinan yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah puasa sebulan penuh di bulan Muharram. Hal ini juga diperkuat oleh penjelasan Nuruddin al-Mala al-Harawi dalam kitab Mirqat al-Mafatih.
Baca Juga: Suporter Persebaya, Persib Bandung dan PSM Makasar di Liga Korea, Asnawi Segera ke Liga 1 Korea?
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa puasa di bulan Muharram memiliki keutamaan yang besar dalam agama Islam.
Namun, tidak ada indikasi yang jelas atau hadis yang shahih yang menyebutkan bahwa menggabungkan puasa akhir tahun dan awal Muharram akan memberikan pahala setara dengan ibadah selama 50 tahun. Oleh karena itu, klaim tersebut tidak memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam.
Sebagai umat Muslim, penting bagi kita untuk mengamalkan ibadah dengan mengikuti petunjuk yang jelas dari Nabi Muhammad SAW dan merujuk kepada ulama yang berkompeten dalam memahami ajaran agama.
Mengikuti puasa di bulan Muharram dengan sungguh-sungguh dan dengan niat yang ikhlas adalah amalan yang sangat dianjurkan. Namun, klaim mengenai pahala setara dengan ibadah 50 tahun perlu dikaji lebih lanjut dan dicari dasar yang kuat dalam sumber-sumber ajaran Islam yang sahih.(Rizal/*)
Berita Terkait
Terpopuler
- Catat Tanggalnya! Ribuan Warga Badui Bakal Turun Gunung Temui Gubernur Banten Bulan April
- 5 Rekomendasi Smartwatch yang Bisa Balas WhatsApp, Mulai Rp400 Ribuan
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya
- Dua 'Pesawat Super' Milik AS Hancur, Kekuatan Militer Iran Kejutkan Dunia
Pilihan
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
-
Melihat 3 Pemain yang Bakal Jadi Senjata Utama Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria
-
Profil Sertu Farizal Rhomadhon, Prajurit TNI asal Kulon Progo yang Gugur di Lebanon
-
1 Prajurit TNI di Lebanon Gugur Dibom Israel, 3 Lainnya Luka-luka
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
Terkini
-
Dinilai Wajar Naik, Perbandingan Harga BBM RI dengan Negara Tetanga
-
Duka Mendalam atas Gugurnya Personel TNI, Menlu Sugiono Kecam Keras Serangan Israel di Lebanon
-
Puncak Arus Balik Lebaran Kawasan Belawan-Batam
-
Apa Saja yang Perlu Disiapkan sebelum Beli Mobil Listrik Bekas?
-
5 Treatment Klinik Kecantikan untuk Mengatasi Flek Hitam di Usia 40 Tahun
-
Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Kematian, Negara Miskin Paling Terdampak
-
Sebut Ada Hambatan Politis, Kuasa Hukum Andrie Yunus Desak Pembentukan Tim Pencari Fakta Independen
-
Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Bulgaria di Final FIFA Series 2026
-
Amsal Sitepu Dituntut 2 Tahun, DPR Dorong Hakim Pertimbangkan Putusan Ringan
-
Geger di Kertapati, Bayi Laki-laki Ditemukan di Tumpukan Sampah dengan Tali Pusar Masih Menempel