Saking adikuasanya, Dewan Pembina seperti "Tuhan". Dia menentukan hidup-matinya PSI. Dalam Pasal 31 diatur tentang pembubaran partai,
"Partai hanya dapat dibubarkan oleh Sidang Dewan Pembina melalui Kongres Luar Biasa yang diselenggarakan khusus untuk itu," ayat 1.
"Dalam keadaan Kongres Luar Biasa tidak dapat diselenggarakan, maka Dewan Pembina dapat membubarkan partai melalui sebuah surat keputusan Dewan Pembina," begitu ayat 3.
Kaesang tidak bisa membubarkan PSI. Anggota PSI tak punya kuasa. Karena Kongres PSI tidak memberi wewenang untuk itu. Hanya Dewan Pembina lah yang bisa membubarkan PSI.
Seperti disebut di atas, Anggota Dewan Pembina bisa mengangkat seseorang jadi anggota Dewan Pembina. Giring Ganesha dan Isyana Bagoes Oka yang bukan pendiri, adalah contohnya.
Dikabarkan Giring Ganesha menangis haru setelah didapuk sebagai anggota Dewan Pembina. Layaknya di sebuah perusahaan, Giring mendapat hadiah "saham kosong" dari pemilik modal lainnya. Seumur hidup pula.
Apabila mengamati sepintas, organisasi PSI memang seperti sebuah perusahaan. Dewan Pembina adalah para pemilik perusahaan itu. Dia yang menentukan secara mutlak jalannya perusahaan, mendirikan, atau mematikannya. Juga menentukan direksinya, bahkan memecat mereka yang tak sejalan.
Apakah AD/ ART bisa diubah oleh Kaesang atau anggota PSI lainnya? Menurut AD/ ART PSI, tidak ada ruang untuk itu.
"Perubahan AD/ART ini dapat dilakukan atas permintaan Dewan Pembina," begitu kata Pasal 34 AD PSI.
Baca Juga: Ditanya Alasan Pilih Jadi Wali Kota Depok, Kaesang Pangarep Akui Bingung: Saya Sendiri Gak Tahu
Dilihat dari website PSI dan KPU, anggota Dewan Pembina PSI adalah sebagai ketua Dewan Pembina Jeffrie Geovanie, mantan politikus PAN-Golkar-Nasdem, dan pengusaha yang pernah menjadi petinggi di grup Bank Artha Graha milik taipan Tommy Winata.
Sebagai wakil ketua Dewan Pembina Grace Nathalie. Mantan presenter TV. Selanjutnya, sebagai sekretaris Dewan Pembina Raja Julie Antoni, Wakil Menteri ATR. Saat ini didapuk mendampingi Kaesang sebagai Sekjen.
Selanjutnya, anggota Dewan Pembina adalah Sunny Tanuwidjaja, yang muncul namanya dalam kasus suap perizinan reklamasi Teluk Jakarta di era Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Sunny disebut sepupu dari istri Franky Wijaya. Franky merupakan anak pendiri Sinar Mas Group, Eka Tjipta Widjaja.
Kaesang, Megawati, dan Persis Solo
Kekuasaan Kaesang Pangarep sebagai ketum DPP PSI juga tidak akan sama dengan yang dimiliki Ketum DPP PDIP, Megawati. Megawati memiliki kekuasaan yang luar biasa luas karena Kongres memberikan mandat. Di antaranya menentukan capres/ cawapres, calon kepala daerah, dan bebas memecat anggota tanpa perlu meminta persetujuan dari pihak lain. Kaesang tak punya kekuasaan seperti itu.
Sebab, menurut AD/ART PSI sudah jelas bahwa ketum PSI, termasuk anak Presiden Jokowi, Kaesang Pangarep hanyalah bawahan dari Dewan Pembina.
Tapi, Megawati sejatinya tidak lebih berkuasa daripada Dewan Pembina PSI. Sebab, Dewan Pembina PSI setara dengan Kongres PDIP. Megawati punya kekuasaan sebesar itu karena Kongres yang menghendaki.
Dan Kongres adalah kekuasaan tertinggi di PDIP atau banyak partai lain. Di PSI, kekuasaan tertinggi bukan Kongres, melainkan segelintir anggota Dewan Pembina.
Jadi, sepintas PSI mirip seperti perusahaan swasta. Anggota Dewan Pembina adalah para pemilik modal atau pemilik perusahaan. Para pemilik saham ini dapat memberikan "saham kosong" kepada orang-orang yang dianggap berjasa bagi PSI.
Kelak, Kaesang, jika dianggap berjasa meski bukan pendiri partai ini, bisa menikmati previlege seperti Giring dan Isyana, sebagai anggota Dewan Pembina. Yang sangat berkuasa dan berlaku seumur hidup.
Layaknya pemilik perusahaan, dia bisa semaunya terhadap perusahaannya. Bisa menggelar RUPS atau RUPS luar biasa, seperti menunjuk atau memecat direksi. Juga bisa bersama-sama membubarkan perusahaannya, sama seperti Dewan Pembina membubarkan PSI.
Andai Kaesang sebagai ketum PSI diibaratkan sebagai direktur utama (Dirut) perusahaan, juga tidak memiliki kekuasaan sebesar di Persis Solo. Sebab, di Persis Solo, selain menjadi Dirut, suami Erina Gudono ini merupakan salah satu pemegang saham, bersama Kevin Nugroho dan Erick Thohir serta lainnya. (*)
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Pengumuman Baru MSCI Bikin Rupiah Terus Tertekan
-
Perintah Balik ke Jakarta dan Munculnya Dua Sosok Tak Dikenal Sebelum Kematian Sutrimo
-
Mendagri Ajak Kementerian dan Lembaga Beri Apresiasi bagi Pemda Berprestasi
-
Marc Klok Sebut Laga Lawan Sabah FC dan Bali United Penting untuk Persib
-
Desil Berapa yang Nggak Boleh Beli Pertalite? Begini Cara Ceknya!
-
Apa Arti Kemajuan Jika Alam Tak Lagi Bisa Bertahan?
-
Meski Lolos dari Frontier Market, IHSG Tetap Merah Pagi ini di level 6.300
-
Red Riding Hood Jadi Detektif, Adaptasi Anime TV Dijadwalkan Tayang 2027
-
5 Shade Bedak untuk Kulit Cerah agar Wajah Tidak Pucat dan Makeup Flawless
-
Amplop Suhardiman Amby, KPK Berpeluang Periksa Kapolres Kuansing dan Ajudan Raja Juli