/
Kamis, 08 September 2022 | 19:00 WIB
Antrean kendaraan di SPBU di Palembang Sumatera Selatan [Suara.com/Siti Umnah] (Suara.com/Siti Umnah)

Depok.suara.com - Harga minyak dunia jatuh pada perdagangan pagi hari ini. Koreksinya lumayan dalam, sampai lebih dari 5%.
Pada Kamis (8/9/2022) pukul 06:28 WIB, harga minyak jenis brent berada di US$ 87,78/barel. Ambles 5,43% dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya. Sementara, minyak jenis light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) harganya US$ 82,08/barel. Anjlok 5,43%.

Mengutip dari CNBC, penurunan harga si emas hitam disebabkan oleh penguatan mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Minyak adalah aset yang dibanderol dengan mata uang Negeri Paman Sam.

Jadi saat dolar AS menguat, maka minyak jadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain. Permintaan minyak akan berkurang, sehingga harga mengikuti.

Dolar AS memang sedang perkasa. Di hadapan yen Jepang, misalnya, greenback mencapai posisi terkuat dalam 24 tahun terakhir.

Selain itu, kekhawatiran terhadap resesi juga menekan harga minyak. Pengetatan moneter yang agresif membuat prospek pertumbuhan ekonomi dunia penuh tanda tanya.

Atas nama 'perang' terhadap inflasi, bank sentral di berbagai negara meaikkan suku bunga. The Federal Reserve, bank sentral AS, diperkirakan menaikkan suku bunga acuan 75 basis poin (bps) pada rapat bulan ini. Mengutip CME FedWatch, peluang ke arah sana adalah 76%.

Kemudian, bank sentral Uni Eropa (ECB) juga diperkirakan menaikkan suku bunga acuan pada rapat September. Sedangkan bank sentral Kanada (BoC) sudah menaikkan suku bunga acuan sebanyak 75 bps ke titik tertinggi dalam 14 tahun terakhir.

Hal lain yang menyeret harga minyak ke zona merah adalah perkembangan di China. Penanganan pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) dengan karantina wilayah (lockdown) membuat ekonomi Negeri Panda tertatih-tatih. Pada Agustus, impor minyak China turun 9,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Anggota Komisi VII DPR Fraksi PKS Mulyanto menyebut harga minyak dunia turun hingga USD 80 per barel saat ini. Dia meminta pemerintah segera membatalkan kenaikan harga BBM bersubsidi.

Baca Juga: Goodbye RON 88, Premium dan Revvo 89! Awal 2023 Pemerintah RI Melarang Peredaran BBM Beroktane Rendah

Menurut Mulyanto, angka penurunan itu jauh di bawah besaran asumsi makro harga ICP yang ditetapkan dalam APBN Perubahan 2022, yaitu sebesar USD 100 per barel. Dengan demikian, Mulyanto mempertanyakan alasan pemerintah tetap menaikkan harga BBM bersubsidi.

"Dengan penurunan harga minyak dunia ini, maka alasan pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi jadi tidak relevan dan sulit di nalar logika masyarakat," kata Mulyanto dalam keterangan tertulis, Kamis (8/9).

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI ini pun meminta pemerintah segera meninjau ulang kebijakan kenaikan BBM bersubsidi tersebut. Menurutnya, tidak pantas pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi ketika patokan harga pokok produksi (HPP) terus turun.

"Logika kenaikan harga BBM bersubsidi karena melambungnya harga minyak dunia, makin tidak mendapat pembenaran," ujar dia dikutip dari detik.com, Kamis (8/9/2022).

Mulyanto menyebutkan, sejak Juni 2022 sampai hari ini, data harga minyak dunia terus merosot mendekati angka USD 80 per barel. Dia merujuk pada sejumlah negara seperti Amerika, Malaysia yang kabarnya menurunkan harga BBM-nya.

"Jadi aneh kalau BBM bersubsidi kita malah naik, di tengah penurunan harga-harga BBM. Logikanya kurang masuk," kata Mulyanto.

Load More