Lina Mukherjee yang sempat membuat heboh makan babi kini koar-koar soal pendapatannya yang mencapai ratusan juta per bulannya. Hal itu diungkapkan Lina Mukherjee setelah dituding oleh warganet sebagai orang stres.
Diketahui, Lina sempat menerima hujatan saat menggelar live di akun TikTok pribadinya, belum lama ini. Demi membalas tudingan warganet, Lina Mukherjee akhirnya mengungkapkan pendapatannya sebulannya yang sebesar Rp500 juta.
"Aku enggak stres, tapi aku punya mental yang perlu aku sehatkan. Orang stres beda loh. Mana mungkin orang stres punya penghasilan Rp500 juta satu bulan?" katanya dalam unggahan @real.dramahaluu sebagaimana dikutip dari Suara.com, Minggu (26/3).
Lina pun pamer kerap membantu teman dan keluarganya dari hasil penghasilannya yang mencapai ratusan juta rupiah itu per bulannya.
"Kalo aku stres enggak mungkin aku investasi ke teman aku yang miskin-miskin, aku bayarin teman aku. Nih, temanku mau masuk penjara, aku kasih Rp50 juta. Temanku tuh tiga orang mau masuk penjara, aku bayarin semuanya. Satu lagi dagang modalnya Rp200 juta, aku kuliahkan adikku," geram Lina.
Dia pun mengakui jika hal-hal yang dilakukannya itu demi hiburan semata. Dia pun mengakui jika suka membuat sensasi supaya hidupnya tidak kaku.
"Masa orang stres pintar marketing? Aku enggak stres, cuma mental aku tuh perlu juga dong, sebuah sensasi, sebuah lucu-lucu, sebuah hiburan semata. Kalian aja yang terlalu serius terhadap kehidupan!" katanya.
Gegara pamer penghasilan ratusan juta per bulan, Lina Mukherjee justru makin dihujat oleh netizen. Bahkan, ada warganet yang mengungkit soal penampilan Lina Mukherjee.
"Rp500 juta per bulan? Mandi mbak. Kalau memang kulit sawo matang, perawatan, ini lebih ke kusam karena enggak dirawat. Terus sekolah manner. Sayang banget duit segitu sia-sia," komentar @bae***.
Baca Juga: Usai Buka Puasa Bareng, Anies-AHY Pamer Kemesraan : Insya Allah Selalu Dekat di Hati!
"Rp500 juta per bulan tapi kremian, garuk-garuk mulu (emoji menangis)," ujar akun @_shazea***.
"Mbak, kan, banyak tuh Rp500 juta per bulan. Saran aku nih, maaf ya, bagusnya perawatan donk, terus ambillah pendidikan informal, untuk kepribadian, sosial, attitude," imbuh @apriyanti***.
(Sumber: Suara.com)
Berita Terkait
-
Lina Mukherjee Geram Disebut Orang Stres, Singgung Penghasilan Rp500 Juta per Bulan
-
Lina Mukherjee Ketawa Dituding Stres: Mental Aku Butuh Hiburan
-
Menikah Dengan Marshel Widianto, Cesen Eks JKT48 Stres Banjir Hujatan Hingga Produksi ASI-nya Menurun, Kok Bisa?
-
Dituding Islam KTP dan Makan Babi, Gibran Rakabuming Raka Beri Jawaban Santai
Terpopuler
- Parfum Paling Wangi Rasa Apa? Ini 5 Rekomendasi Aroma yang Populer
- 5 Rekomendasi Lipstik Wardah untuk Usia 40-an yang Elegan, Nyaman di Bibir dan Awet
- 5 HP Samsung Galaxy A Series Termurah: Layar Super AMOLED, 5G hingga NFC
- Pesaing Vario 125 dari Yamaha, Tampang Bernuansa R1M
- 5 Parfum Wanita Terbaik untuk Acara Malam, Wanginya Elegan dan Memikat
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Pulau Panggang Krisis BBM, Nelayan Terancam Tak Bisa Melaut
-
Misteri Pembunuhan di Ruangan Tertutup dalam Novel Everything Becomes F
-
Panut Rilis Buku Otobiografi, Tegaskan Komitmen Kawal Benteng Hijau Sumatra
-
Perjalanan Putra Samuel Silitonga Dikenal Jutaan Penonton Berkat Sosok Mumu Warintil
-
Cluster Beverly Hills Resmi Show Unit, Tawarkan Hunian American Classic di Semarang
-
Mau ke Monas Malam Ini? Simak Rekayasa Lalu Lintas dan Titik Parkir Konser Akbar 2026
-
Dua Mahasiswa Diduga Jadikan Instagram Lapak Tembakau Sintetis
-
Pelatih Spanyol Lebih Takut Naik Helikopter Dibanding Lawan Lionel Messi di Final Piala Dunia 2026
-
Kanker pada Perempuan Kini Bisa Ditangani Lebih Personal, Terapi Presisi Bawa Harapan Baru
-
Dari Propaganda hingga Pengawasan: Mengapa 1984 Tetap Relevan di Zaman Digital