Dokter Richard Lee mempertanyakan soal prestasi putri Doddy Sudrajat, Mayang Lucyana di dunia hiburan Tanah Air. Pasalnya, Dokter Richard Lee penasaran lantaran tak pernah mendengar karya dari adik kandung mendiang Vanessa Angel itu.
Hal itu disampaikan Dokter Richard Lee dalam podcast bareng Mayang yang tayang belum lama ini. Awalnya, Dokter Richard Lee menyebut alasannya menghadirkan Mayang dalam podcast karena ingin memberikan uang Rp500 juta kepadanya.
Uang ratusan juta itu diberikan Mayang sebagai janji yang pernah diucapkan ayahnya, Doddy Sudrajat kepada Dokter Richard Lee karena berhasil membuktikan pernyataan Mayang soal minuman collagen memutihkan kulit itu salah.
“Dia datang ke sini langsung mengantarkan Rp500 juta,” ucap Dokter Richard Lee sambil menunjuk Mayang yang sudah hadir dalam podcast-nya.
Sembari tertawa, Mayang pun menimpali ucapan Richard Lee. Dia berdalih sedang mempersiapkan uang Rp500 juta yang telah dijanjikan ayahnya itu.
“Ada dok di itu, di balik kamera, ada,” kata Mayang berkilah sambil cengengesan.
Mayang pun ngeles ketika kembali ditanya oleh Dokter Richard Lee yang penasaran dengan uang yang dijanjikannya itu.
Mayang mengaku baru akan mengumpulkannya terlebih dahulu.
“Ada, ada kalau dikumpulin dulu,” sahut Mayang.
Lalu Dokter Richard Lee melanjutkan perbincangannya dengan Mayang. Kali ini, Dokter Richard mempertanyakan soal prestasi Mayang.
“Yang mana ya? aku gak pernah denger,” tanya Richard sambil tertawa.
Menanggapi hal itu, Mayang mengaku sudah memiliki single lagu berjudul “Di Hati" yang dinyanyikan secara duet bersama Nicky Tirta.
Saking ragunya, Dokter Richard pun menilai Mayang terkenal bukan karena punya prestasi tapi hanya menjadi bahan olok-olok netizen.
“Aku tuh image aku tuh bayangan aku tuh, kalo (prestasi) Mayang itu bukan lagu, bully-an, bukan lagu, bukan prestasi, bully-an,” ucap dr Richard kepada Mayang sambil tertawa.
Alih-alih marah, Mayang malah membenarkan ucapan bos klinik kecantikan Athena itu.
“Iya lagi,” jawab Mayang sambil menutup tertawa dan menutup wajahnya.
Dikutip akun @7starmedia_ (20/9), yang mengunggah ulang cuplikan podcast tersebut, lagi-lagi banyak netizen yang menghujat Mayang.
“Malunya sampai ke ubun-ubun terus diulti depan orangnya langsung, mantap dok,” tulis netizen disertai emoji tawa.
“Aslinya gak ada uang Mayang,” timpal yang lain.
“Ih kalo aku malu deh, untung Mayang tebel muka,” sahut yang lain disertai emoji nyengir.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
- 5 Sepatu Lari yang Nyaman untuk Jalan Jauh, Sol Empuk Bisa Buat Traveling
- Siapa Chika Yenalovy? Istri Kasespri Prabowo yang Jejak Digitalnya Misterius
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
Pilihan
-
Tokyo Diguncang Gempa 5,9 M: 37 Orang Terluka, Transportasi Terganggu
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
Terkini
-
Adriana Elisabet: Separatisme Papua Berawal dari Keluhan yang Tak Direspons Pemerintah
-
Kisah Ustazah Mona: Ibu Bhayangkari Sekaligus Guru PAI yang Siap Harumkan Nama di MTQ Nasional
-
Keluar Modal Gede, DSI Tak Mungkin Jadi Perusahaan Rugi
-
Tundukkan Garudayaksa 3-2, Batam Prime FC Asuhan Okto Maniani Juara BIFS 2026
-
Investor Butuh Kepastian, 3 Hal Ini Diminta agar Eksplorasi Migas Makin Agresif
-
Sistemik dan Akut, Dosen UGM Bongkar Borok Penanganan Kekerasan Gender yang Hanya Jalan Jika Viral
-
Bukan Water Bombing, Prabowo Dorong 'Ubi Bombing' dari Singkong Atasi Karhutla
-
Hanura Desak Prabowo Sanksi Keras Korporasi Nakal Sebabkan Karhutla
-
DSI Bukan Regulator, Ekspor 3 Komoditas Dijamin Tak Akan Ribet
-
Antara Pompa Air yang Haus dan Pangkalan Gas yang Bisu di Tengah Kemarau