Suara.com - Aktor Hengky Kurniawan pernah menjajal profesi sebagai seorang produser. Suka duka dialaminya, termasuk tak mendapatkan untung.
Kendati begitu, Hengky tetap semangat ingin terus berada di balik layar. Dia yakin karyanya nanti bakal membuahkan hasil. Berikut wawancara singkat Hengky kepada suara.com baru-baru ini soal keseriusannya menjadi produser :
Apa yang membuat anda tertarik jadi seorang produser?
Kalau jadi produser sudah lima tahun. Awalnya saya patungan dengan Lucky hakim. Terus saya dan Angel Karamoy bikin contoh film dan kita tawarkan ke televisi. Itu diterima dari situ kita dapat job hampir empat judul kita bikn FTV.
Kok masih mau jadi produser? Meningat film nasional sulit bersaing dengan film impor.
Karena bidang kita di situ. Jadi kalau yang saya jalani yang itu-itu aja, sekitar dunia film.
Apa kesulitan menjadi seorang produser?
Kita ini pelaku seorang pembuat film. Kita produser muda ini ingin dapat porsi yang sama dengan film luar. Katakanlah saat film kita keluar jumlah bioskopnya harus sama dengan film import. Makanya saya beberapa waktu bertemu dengan anggota DPR guna mencari regulasi soal pengaturan film yang tayang di bioskop.
Lebih enak mana jadi produser atau pemain?
Pengennya dua-dua nya tapi sekrang mau bisnisnya. Kalau dibilang nikmatnya sama aja, dibelakang layar enak kalau jadi pemain tidak pusing.
Bagaimana anda membagi waktu dengan keluarga ketika sibuk menggarap film?
Syuting itu memakan waktu paling lama 7 hari selebihnya saya lebih banyak di rumah. Ada usaha yang lain, kecil-kecilan itu bisa dikontrol di rumah. Jadi nggak perlu ke kantor. Jadi waktu sama keluarga masih ada. Week end juga masih sama mereka.
Film terakhir yang anda bikin nggak dapat untung ya?
Iya. Karena jumlah layar sedikit. Orang lain juga tahu karena jumlah layarnya sedikit. Kemarin film 'Black Honeymoon' sangat sedikit hanya 20 layar.
Jumlah penonton berapa?
Kalau jumlah penonton 12 ribu. Tapi dibandingkan dengan layar yang ada cuman sekian persen. Jadi ada beberapa kota-kota yang kita tidak tayang.
Untuk balik modal pun tidak?
Bisa dibilang nggak balik modal. Tetapi insya Allah kita tetap semangat dan kita nggak berhenti sampai disitu. Karena hoki di film itu kan. Seperti gamblinh. Kita nggak hoki di film ini tapi kita bisa hoki di film baru.
Istri marah nggak gara-gara nggak dapat untung?
Kalau istri keluarga support aja. Mereka tahu dunia bisnis itu ada untung ruginya jadi tetap semangat aja.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
Terkini
-
Sifat Asli Suami Clara Shinta Dibongkar di Tengah Kabar Tak Pernah Beri Nafkah
-
Bikin Konten Anak Siksa Kucing, Niken Havana Dilaporkan ke Organisasi Kesejahteraan Hewan Australia
-
Cerita Marshel Widianto Nyaris Meninggal, Sesak Napas di Mobil Berujung di Meja Operasi
-
Motif Suami Clara Shinta VCS dengan Wanita Lain, Disebut Sahabat Cuma Iseng
-
Sahabat Dinar Candy Ngaku Diajak VCS Suami Clara Shinta, Dibayar Rp1 Juta
-
Adhisty Zara Dikritik Usai Mundur dari Sinetron, Hasyakyla Utami Beri Pembelaan Menohok
-
Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
-
Uji Nyali Akhir Pekan: 10 Film Psikopat Netflix Terbaik yang Bikin Ngeri
-
Aldi Taher Bongkar Rahasia Lawan Kanker, Sembuh Berkat Kekuatan Al-Qur'an
-
Ngeluh Tak Diberi Nafkah, Apa Pekerjaan Suami Clara Shinta?