Tulisan Evi dibuat dan dipublikasikan sebelum film "Dilan" itu tayang di layar bioskop.
Namun, dalam artikelnya, Evi menjelaskan bagaimana tipologi laki-laki era 1980-1990-an sebagai "Bapakisme" cocok dengan sosok pria yang dikiaskan dalam Dilan.
Untuk diketahui, film "Dilan 1990" adalah adaptasi dari novel Pidi Baiq yang dirilis tahun 90-an.
"Bapakisme", tulis Evi, adalah tipologi laki-laki yang patriarkis dan dipromosikan sejak era Orde Baru. Misalnya, dalam film propaganda "Pengkhianatan G30S/PKI" (1981), tokoh sentralnya—Soeharto—digambarkan sebagai laki-laki maskulin ideal yang melindungi dan mengayomi keluarga dan negara, selain tentunya menjadi tulang punggung keluarganya.
"Dalam hegemoni Bapakisme sendiri ada banyak kontradiksi. Tidak semua laki-laki bisa menjadi pemberi nafkah keluarga. Namun, kontradiksi itu diredam dengan tetap menggambarkan mereka sebagai kepala rumah tangga, bagian dari posisi yang mereka dapatkan secara otomatis dalam sistem patriarkal," jelasnya.
"Selain itu, perempuan digambarkan boleh bekerja asal tetap memprioritaskan peran domestik dan reproduktifnya," tambahnya.
Tipologi "Bapakisme" ini menampak dalam karakter tokoh Dilan. Tokoh ini digambarkan sebagai panglima geng motor, tahu segala hal tentang Milea—tokoh perempuan film itu—dan selalu bertindak ingin melindungi Milea.
Dengan demikian, terjadi kemunduran alias arus balik perkembangan tipologi laki-laki terkait patriarkis dalam perfilman Indonesia.
Pasang surut promosi "laki-laki tipe baru" yang tak patriarkis lewat film, diakui Evi penuh tantangan.
Baca Juga: Dewi Sandra: Gara-gara Inneke Koesherawati Aku Berhijab
Ia juga mengakui, banyak pihak yang menentang tipologi "laki-laki baru" yang tak patriarkis tersebut, menyebabkan penggambarkan sosok idel laki-laki dalam film tak pernah stabil.
"Usaha untuk melegitimasi alternatif maskulinitas melalui film bukan tanpa tantangan. Seiring dengan menguatnya upaya perubahan terhadap hegemoni Bapakisme, muncul juga dukungan dan upaya untuk terus melestarikannya," terang Evi.
Untuk membaca artikel utuh penelitian Evi, sila baca di The Conversation
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
DNA Rilis Album Aurora, Realita Kehidupan DJ Aloy dan JayJax dalam 18 Lagu
-
Ruben Onsu Resmi Perjuangkan Hak Asuh Anak dari Sarwendah, Sidang Digelar 15 Juli 2026
-
Seni Membalas Hujatan: Bule Real 'Comeback' dengan Single Dangdut Komedi 'Hayati'
-
Musisi Ramai Kritik Lagu Lalaki Langit Lalanang Bejat Bupati Purwakarta, Beri Sindiran Menohok
-
Serahkan Uang ke Polisi, Awkarin Tegaskan Ada di Pihak Korban Hanania Travel
-
Saemen Fest 2026: Festival Musik Lintas Genre Siap Guncang Jogja pada 19 Juli 2026
-
Venom: Let There Be Carnage,saat Tom Hardy Bertemu Lawan Seimbang
-
Berawal dari Keterbatasan, Wiraswasta Asal Situbondo Ini Sukses Jadi Bintang eFootball Nasional
-
Guns N' Roses Kembali ke Jakarta! Ini Jadwal dan Daftar Harga Tiket Konser Termegah 2026
-
Mufli Ananda Umur Berapa? Asisten Raffi Ahmad yang Disorot usai Jadi Komisaris