Entertainment / Gosip
Sabtu, 14 Desember 2019 | 06:05 WIB
Iliustrasi [Shutterstock]

Bikin konten menarik

Uya Kuya sama sekali tak masalah jika konten pamer saldo ATM disoal sebagian orang. Dia malah mengucap syukur vlognya menantang Barbie bongkar saldo ATM sempat trending.

“Itu tandanya kan orang nonton,” kata Uya Kuya ditemui di Jakarta baru-baru ini.

Tak bermaksud macam-macam, Uya Kuya mengaku hanya ingin memberi hiburan lewat konten Youtube.  Dan, apa yang hendak dicapai ternyata berhasil dengan pencapaian jumlah viewers.

Uya Kuya [Suara.com/Sumarni]

“Kalau trending itu artinya orang nonton dari awal sampai habis. Ada orang yang sampai 8 juta viewersnya, tapi nggak trending. Nah yang trending itu, artinya kan konten itu menarik. Sesimpel itu aja,” kata Uya Kuya.

Ihwal anggapan konten tersebut bisa membawa dampak buruk, Uya Kuya punya pendapat pembelaan. Kata dia, segala sesuatu pasti ada nilai plus dan minus.

“Tergantung dari mana kita melihatnya,” ucap dia.

Malah, Uya blak-blakan bahwa konten pamer saldo ATM bukan untuk memotivasi orang agar bekerja keras dan mendapatkan banyak fulus. Ayah dua anak ini cuma menjual konten. Ya, sesederhana itu.

“Sama kayak kita jual makanan. Makanan kita laku apa nggak, dibeli apa nggak. Kalau dibeli artinya banyak orang uang suka,” kata Uya.

Baca Juga: Liputan Khusus: Relakah YouTuber Diusik?

Pembuktian

Bukan ingin pamer dan sombong, Barbie Kumalasari cuma mau membuktikan jika dirinya tak seperti yang dibilang banyak orang: artis halu. Apa yang diakuinya selama ini, termasuk soal kekayaan, ingin dibuktikan bukan hoaks.

Karenanya, ketika ditantang Uya Kuya untuk membeberkan saldo ATM lewat konten Youtube, Kumalasari menyambutnya dengan gembira.

“Selama ini kan netizen menghina aku, spontan aja karena kan selama ini dibully terus dibilang miskin, (pakai barang) KW. Jadi pas ada kesempatan ditanya (saldo) ya aku jawab seadanya," kata Kumalasari.

Artis Barbie Kumalasari saat berada di Jalan Kapten Tendean, Jakarta, Senin (18/11). [Suara.com/ Evi Ariska]

Kumalasari menganggap berlebihan jika ada yang menilai konten pamer saldo ATM bisa jadi pemantik orang berbuat jahat. Justru dia lebih melihat sisi positifnya.

Menurutnya, orang jadi lebih bersemangat mengejar mimpi setelah melihat buah dari kerja keras.

“Justru itu memacu orang untuk 'oh kalau kita bisa sukses dan punya uang banyak ternyata enak ya',” katanya.

"Kalau aku mah liatnya positif aja sih. Karena itu malah lebih positif daripada konten pornografi yang memperlihatkan bagian dada lah dan bikini-bikini lah di konten Youtubenya,” ujar dia lagi.

Pertajam kesenjangan sosial

Psikolog Intan Erlita menjelaskan setiap konten yang berada di Youtube pasti akan memberikan pengaruh terhadap para penontonnya.

“At least misalnya dari sepuluh orang yang menonton, dua orang akan terpengaruh. Tapi kan pengaruhnya gimana kita nggak tahu. Makanya para Youtuber juga harus punya tanggung jawab terhadap orang yang menonton channel YouTube-nya,” kata Intan kepada Suara.com.

Pengaruh yang ditimbulkan, lanjut Intan, berbeda-beda. Meski dia tak memungkiri, para konten kreator ini bisa memberikan dampak positif lewat video yang dibuat.

Terkait konten pamer saldo ATM lewat Youtube, Intan justru lebih menyoroti dampak buruk yang timbul. Mempertajam kesenjangan sosial salah satunya, kata dia.

Menurut Intan, tak ada yang bisa menjamin orang yang menonton konten tersebut jadi iri hati dan sakit hati atau tidak. 

“Mau pamer saldo ATM kek, mau pamer kehidupanya kek. Mungkin awalnya mau kasih tau ‘oke gue kerja keras, gue punya uang sekian, punya mobil, punya ini itu’. Tapi dia nggak tahu di luar sana masih banyak orang yang berjuang harian loh,” ujarnya.

Jika ingin memberikan motivasi lewat konten pamer saldo ATM, sebaiknya, kata Intan, video juga diberikan semacam behind the scene. Jika tidak, dia khawatir orang yang menonton akan menelan mentah-mentah apa yang disuguhkan di dalam video.

“Karena kan biasanya cuma pamer-pamer aja tapi orang yang menontonnya itu nggak tahu prosesnya. Karena biasanya yang penting gimana konten gue kelihatan wah,” katanya.

Reporter: Sumarni, Yuliani, Evi Ariska

Editor: Yazir Farouk

Load More