- Forum Kontraktor menagih kepastian pembayaran proyek dapur MBG senilai Rp800 miliar yang tertunda sejak Maret 2026.
- Sebanyak 74 perusahaan kontraktor menanggung beban biaya pemeliharaan dan tekanan finansial akibat administrasi yang belum rampung.
- Forum telah mengirimkan enam surat permohonan audiensi kepada Badan Gizi Nasional untuk meminta kejelasan pembayaran proyek tersebut.
Suara.com - Forum Komunikasi Kontraktor Pembangunan Sarana Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Badan Gizi Nasional (BGN) APBN Tahun Anggaran 2025 menagih kepastian pembayaran proyek pembangunan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang hingga kini belum terselesaikan.
Nilai pembayaran yang masih tertunda diperkirakan mencapai sekitar Rp800 miliar.
Ketua Forum Komunikasi Kontraktor Pembangunan Sarana SPPG BGN APBN TA 2025, Arifin Nababan, mengatakan para kontraktor telah melaksanakan pekerjaan sesuai kontrak dan menggunakan modal sendiri.
Namun, hingga kini mereka masih menghadapi ketidakpastian administrasi dan pembayaran dari pihak pengguna.
"Sejak awal kami berkomitmen mendukung program strategis pemerintah di bidang pemenuhan gizi nasional. Kami melaksanakan pekerjaan berdasarkan kontrak yang sah, menggunakan modal sendiri, memberdayakan tenaga kerja, dan menyelesaikan pekerjaan sesuai target yang telah ditetapkan. Karena itu, yang kami harapkan bukan perlakuan khusus, melainkan kepastian administrasi dan kepastian pembayaran," kata Arifin dalam keterangan tertulis, Kamis (6/8/2026).
Berdasarkan data forum, pembangunan Sarana SPPG melalui mekanisme e-Katalog atau mini kompetisi telah mencakup 315 titik hingga akhir Maret 2026. Dari jumlah tersebut, 66 titik telah selesai 100 persen, sedangkan 249 titik masih dalam proses penyelesaian sesuai kontrak.
Persoalan tersebut disebut melibatkan 74 perusahaan kontraktor yang mengerjakan pembangunan Sarana SPPG di 22 provinsi.
Selain pembayaran yang belum tuntas, forum juga menyoroti sejumlah bangunan yang telah selesai dibangun namun belum dapat diserahterimakan karena proses administrasi belum rampung.
Akibatnya, kontraktor masih harus menanggung biaya pemeliharaan bangunan, keamanan, utilitas, serta operasional lainnya meski pekerjaan konstruksi telah selesai.
Baca Juga: Pemerintah Izinkan Pesantren Kelola Dapur MBG, Syaratnya Minimal 1.000 Santri
"Bangunan yang sudah selesai tidak bisa begitu saja kami tinggalkan. Selama proses serah terima belum dilakukan, kami tetap harus menjaga aset tersebut, membayar keamanan, pemeliharaan, utilitas, dan berbagai kebutuhan operasional lainnya," ujar Arifin.
Forum menilai keterlambatan penyelesaian administrasi pembayaran tidak hanya berdampak pada kontraktor, tetapi juga terhadap pemasok material, vendor jasa, subkontraktor, pelaku UMKM, hingga ribuan tenaga kerja yang terlibat dalam proyek pembangunan Sarana SPPG.
Menurut Arifin, para kontraktor tetap harus memenuhi kewajiban pembayaran kepada pemasok material, pekerja, serta lembaga pembiayaan di tengah belum adanya kepastian pencairan pembayaran proyek.
"Kondisi ini membuat para penyedia berada dalam tekanan yang sangat berat. Kami tetap harus memenuhi kewajiban kepada pekerja, membayar pemasok material, vendor, subkontraktor, hingga memenuhi kewajiban kepada lembaga pembiayaan," katanya.
Forum mengungkapkan telah enam kali mengirimkan surat permohonan audiensi kepada Kepala Badan Gizi Nasional untuk meminta kejelasan mengenai mekanisme penyelesaian administrasi, jadwal serah terima bangunan, dan kepastian pembayaran. Namun, hingga kini mereka mengaku belum memperoleh tanggapan.
Karena itu, forum meminta BGN segera mempercepat penyelesaian administrasi, melakukan serah terima bangunan yang telah selesai, serta membuka ruang dialog dengan para kontraktor.
Meski demikian, Arifin menegaskan pihaknya tetap mendukung keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis sebagai salah satu program strategis pemerintah.
"Kami tidak datang untuk mempertentangkan program pemerintah. Kami ingin memastikan Program Makan Bergizi Gratis dan pembangunan Sarana SPPG dapat berjalan dengan baik. Yang kami harapkan adalah kepastian administrasi, kepastian pembayaran, dan ruang dialog yang terbuka agar seluruh persoalan dapat diselesaikan bersama," tutupnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
- Link Resmi Pandang.istanapresiden.go.id buat Daftar Upacara Bendera HUT RI di Istana Negara
Pilihan
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
Terkini
-
74 Kontraktor SPPG Minta Kepastian Pembayaran dan Penyelesaian Administrasi Proyek
-
Potensi RI Punya 89 Ribu Ton Uranium, BRIN Paparkan Ambisi Nuklir ke Prabowo
-
Internal Golkar Wonosobo Bergolak, Mahkamah Partai Diminta Turun Tangan
-
Rakyat Akan Marah! 470 Kepala Daerah Tak Mampu Bayar PPPK Tapi Minta Naik Gaji
-
Gunakan Uang Hasil Sikat Korupsi, Prabowo Janji Investasi Besar di Sektor Pendidikan dan Riset
-
John Herdman Blak-blakan Akui Timnas Indonesia Sedang Terluka Jelang Melawan Singapura
-
Pemerintah Dorong Produk Indonesia Masuk Rantai Pasok Haji Arab Saudi
-
Catut Nama Prabowo, Istana Bantah Makalah Nobel Soal Program MBG
-
Lulur Keraton Kembali Jadi Sorotan, Warisan Kecantikan Nusantara yang Tetap Relevan hingga Kini
-
Calon Hakim Agung Usul RUU Perampasan Diganti Jadi Pemulihan Aset, Menkum Tunggu Langkah DPR