- Anggota Komisi VIII DPR RI, Muhamad Abdul Azis Sefudin, mendesak pemerintah pusat dan daerah segera menangani ancaman kekeringan akibat El Niño 2026.
- BNPB diminta memperluas Operasi Modifikasi Cuaca di wilayah rawan untuk mengisi waduk dan mencegah krisis air bersih serta pangan.
- Masyarakat di wilayah rawan kekeringan diimbau melakukan mitigasi mandiri dengan menyiapkan penampungan air dan menerapkan gerakan hemat air.
Suara.com - Anggota Komisi VIII DPR RI, Muhamad Abdul Azis Sefudin mendesak Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Pemda) untuk bergerak cepat dan serius menangani ancaman dampak kekeringan akibat puncak fenomena El Niño 2026 yang diperkirakan melebihi level kuat (strong).
Azis mendesak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) segera mengambil tindakan tanggap darurat dengan memperluas Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan di wilayah rawan terdampak kekeringan.
"Peringatan dari BMKG ini adalah alarm keras bagi kita semua. Indikator yang menunjukkan El Niño berpotensi melampaui level kuat dan bertahan hingga awal 2027 tidak boleh dianggap remeh. Prinsip kita tegas, lebih baik mencegah daripada mengobati. Kami meminta seluruh instansi terkait, baik Pemerintah Pusat maupun Pemda, bergerak cepat melakukan intervensi sebelum krisis air meluas," ujar Azis, Kamis (6/8/2026).
Politisi muda PDI Perjuangan ini mendesak agar pelaksanaan modifikasi cuaca dipercepat selagi masih terdapat potensi pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah.
Menurutnya, langkah antisipasi sejak dini jauh lebih murah dan efektif ketimbang menanggung dampak kerugian akibat bencana.
"Kita tidak boleh menunggu sampai sumur warga mengering total baru bertindak. Pemerintah Pusat melalui BNPB dan Pemda harus memperluas cakupan hujan buatan. Fokuskan hujan buatan untuk mengisi bendungan, waduk, dan embung-embung strategis," tegas Azis.
Azis juga menyoroti potensi domino dari krisis iklim ini agar tidak berkembang menjadi krisis sosial di tengah masyarakat.
Kekeringan ekstrem yang memicu gagal panen berisiko tinggi membuat bahan baku pangan menjadi langka dan mahal, serta memicu wabah penyakit akibat minimnya akses air bersih.
"Jangan sampai dampak El Niño ini meluas dan berubah menjadi masalah sosial baru. Gagal panen bisa membuat harga bahan pokok melonjak tajam dan membebani rakyat. Selain itu, krisis air bersih sangat berbahaya karena memicu penularan penyakit. Kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia jangan sampai menjadi korban akibat kekeringan dan ketiadaan pasokan air bersih," jelasnya.
Oleh karena itu, legislator asal Dapil Jawa Barat III (Kabupaten Cianjur - Kota Bogor) ini berharap kementerian/lembaga terkait lintas sektoral bersama Pemda meningkatkan koordinasi secara masif untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta menjamin ketercukupan pangan nasional.
"Kita tentunya tidak ingin dampak El-Nino ini meluas. Pemerintah pusat dan daerah harus segera bertindak agar masyarakat tidak mengalami kerugian yang signifikan," katanya.
Di sisi lain, Azis menyerukan pentingnya mitigasi berbasis masyarakat untuk menghadapi ancaman kemarau panjang yang diprediksi berlangsung hingga kuartal pertama 2027.
Ia mengimbau warga di wilayah rawan kekeringan untuk melakukan antisipasi mandiri dengan menyiagakan penampungan air, menerapkan gerakan hemat air, serta menjaga kecukupan konsumsi air bagi kelompok rentan.
"Ancaman kemarau panjang ini memerlukan kesiapsiagaan mandiri dari masyarakat, mulai dari menyiapkan tandon air, bijak menggunakan air harian, hingga memastikan kesehatan anak-anak dan lansia agar terhindar dari risiko dehidrasi," kata Azis.
Baca Juga: Harga Beras Melonjak Mahal karena El Nino, Warga Miskin India Mulai Was-was Kelaparan
"Ancaman iklim ini membutuhkan kolaborasi dua arah. Pemerintah mengintervensi dengan teknologi dan bantuan logistik, sementara masyarakat memperkuat kesiapsiagaan mandiri," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Harga Beras Melonjak Mahal karena El Nino, Warga Miskin India Mulai Was-was Kelaparan
-
Kekeringan Melanda Boyolali, Warga Rela Cari Air di Dasar Sungai
-
Hadapi El Nino, Pramono Minta RW Siapkan APAR dan Pastikan Pasokan Air Bersih
-
Kemarau Panjang Mengintai, Jakarta Rencanakan Hujan Buatan Tiap Pekan
-
Pramono Buka Peluang Modifikasi Cuaca di Jakarta, Antisipasi El Nino dan Ancaman Kebakaran
Terpopuler
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
- Link Resmi Pandang.istanapresiden.go.id buat Daftar Upacara Bendera HUT RI di Istana Negara
Pilihan
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
Terkini
-
El Nino 2026 Lampaui Level Kuat, Abdul Azis Desak Pemerintah Serius Atasi Kekeringan
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Kemitraan Strategis dengan Pemkab Lahat, Dukung Akselerasi Ekonomi Daerah
-
6 Fakta Pemecatan dan Sanksi Pungli 4 ASN di Pemprov Banten
-
Usut Mutilasi Depok, Polisi Temukan HP Pelaku Tergabung dalam Grup Komunitas Gay
-
Macet Jalur Bojonegara Bikin Sopir Angkot Merugi, Pemprov Banten Janjikan Keputusan Baru 4 Hari Lagi
-
Tumbangkan Persib Bandung, Persebaya Surabaya Juara Piala Presiden 2026
-
KPK Bedah Dugaan Permainan Jalur Hijau dan Jalur Merah di Kasus Suap Bea Cukai
-
74 Kontraktor SPPG Minta Kepastian Pembayaran dan Penyelesaian Administrasi Proyek
-
Potensi RI Punya 89 Ribu Ton Uranium, BRIN Paparkan Ambisi Nuklir ke Prabowo
-
Internal Golkar Wonosobo Bergolak, Mahkamah Partai Diminta Turun Tangan