Suara.com - Grup Adam Musik memulai langkah baru setelah Dodi Hidayatullah keluar. Anandito Dwis, Natta Reza dan Rey Mbayang resmi mengumumkan nama baru untuk grup mereka, Adam Vibes.
"Keputusan menggunakan nama baru ini sebenarnya sudah kami pikirkan sejak lama," ungkap Anandito Dwis dalam sesi jumpa pers virtual baru-baru ini.
Para personel Adam Musik butuh identitas yang lebih spesifik untuk grup mereka. Nama sebelumnya dirasa terlalu umum.
"Biar mempermudah pencarian orang di internet gitu," kata Anandito Dwis.
Perubahan identitas juga diperlukan untuk menandai langkah awal Adam Musik dengan formasi baru tanpa Dodi Hidayatullah.
"Kami kan baru mengalami perubahan formasi. Jadi dengan energi baru ini, kami rasa ini jadi waktu yang tepat untuk memakai nama baru. Ya bentuk motivasi kami juga, supaya selalu semangat berkarya," terang Anandito Dwis.
Lewat nama baru, Adam Musik turut menghadirkan nuansa musik yang berbeda. Single Kembali Untuk Hatiku yang diperkenalkan berbarengan dengan nama Adam Vibes tak lagi mengusung tema religi.
"Secara konsep, Adam Vibes masih bermain dalam genre pop dengan pesan positif di lirik lagu ya, tapi sekarang kami memperluas segmen pendengar kami. Kami sekarang ingin dikenal sebagai grup musik yang menyuarakan pesan positif dan bisa didengar oleh siapa pun," jelas Natta Reza.
Dengan meninggalkan unsur religi, besar harapan para personel Adam Musik untuk ke depannya karya-karya mereka bisa lebih diterima masyarakat. Mengingat lagu-lagu yang nantinya disiapkan bakal mengusung tema yang lebih umum.
Baca Juga: Kena Kamera Wartawan, Wajah Dinda Hauw Bikin Pangling: Aslinya Cantik Kok!
"Contohnya ya kayak Kembali Untuk Hatiku ini. Inspirasinya kan lebih ke ungkapan penyesalan atas kesalahan yang pernah dibuat ke pasangan atau orang-orang di sekitar kita. Pesan yang mau disampaikan, jangan malu meminta maaf dan mengakui kesalahan yang kita buat," papar Rey Mbayang.
Berita Terkait
-
Kena Kamera Wartawan, Wajah Dinda Hauw Bikin Pangling: Aslinya Cantik Kok!
-
Usai Melaney Ricardo dan Dinar Candy, Giliran Dinda Hauw Jadi Korban Kamera Wartawan, Hasilnya...
-
Kenal di Acara Kajian, Dodi Hidayatullah Tak Lalui Proses Taaruf Sebelum Putuskan Menikah Lagi
-
Sempat Dituding Lakukan Pelecehan, Dodi Hidayatullah Mengaku Rugi jadi Korban Sosok Anonim
-
Takut Diserang Warganet jadi Alasan Dodi Hidayatullah Sembunyikan Wajah Istri
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
Terkini
-
Lama Mengabdi di Pesantren, Ayah Korban Syok Anaknya Jadi Korban Pencabulan Kiai Ashari Pati
-
Kiai Ashari Suruh Korban Telan Sperma, Ini Tujuannya
-
Skandal Pencabulan di Ponpes Pati: Ashari Disebut Sakti, Warga Takut Bantu, Ayah Korban Diintimidasi
-
Alibi Ashari Cabuli Santriwati: Sebut Korban Penuh Dengki dan Harus Diobati dengan Tidur Bareng
-
Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
-
Film Pesta Babi Tentang Apa? Pemutarannya Dibubarkan Kampus Unram Bikin Mahasiswa Geram
-
Dari YouTube ke Layar Lebar, Sara Wijayanto Angkat Kisah Horor 'Cerita Lila' ke Bioskop
-
Yuni Shara Rayakan 35 Tahun Berkarya Lewat Konser Megah 3553 Concert di Surabaya
-
Melanie Subono Geram Ashari Ngaku Khilaf Cabuli Puluhan Santriwati: Itu Namanya Niat!
-
Pro Kontra Foto Anniversary Luna Maya dan Maxime Bouttier: Nilai Seni vs Menyimpang