Entertainment / Music
Senin, 09 September 2024 | 02:21 WIB
Fanny Soegi (Instagram/fannysoegi)

Suara.com - Fanny Soegi blak-blakan mengenai royalti lagu "Asmalibrasi" yang jadi viral. Lagu tersebut diciptakan Fanny bersama Dhimas Tirta Franata.

Melalui akun X @fannysoegi, nilai royalti lagu "Asmalibrasi" mencapai lebih dari Rp500 juta. Sayangnya pencipta lagunya, dalam hal ini adalah Dhimas dan Fanny Soegi, tidak menerima haknya sebagaimana mestinya.

"Bayangin aja, lagu Asma ini yang kalian denger di mana-mana, penciptanya sampai minjem uang untuk bayar sekolah anaknya," ungkap Fanny Soegi pada Minggu (8/9/2024).

"Nominal dari royalti lagu ini nggak main-main, setengah Milyar lebih ada, tapi justru orang-orang yang nggak punya hak dapat paling banyak & nggak transparan," sambungnya.

Fanny Soegi tidak menyebutkan siapa orang-orang yang tak berhak tetapi menikmati royalti lagu "Asmalibrasi" tersebut. Namun beda nasib dengan pencipta lagunya, orang-orang itu bahkan bisa membeli dua mobil sekaligus.

"Bukan nominal yang kugarisbawahi, tapi nurani kalian. Band-band an kok serakah, nggak keren blas," kata cewek kelahiran 7 September 1999 ini.

Sebagaimana diketahui, Fanny Soegi mengumumkan keluar dari band Soegi Bornean pada Mei 2024 lalu. Oleh sebab itu, sindiran Fanny kali ini diduga untuk mantan teman-teman band-nya.

Fanny Soegi mengaku sempat mendapat ancaman karena rekan-rekannya kenal orang-orang penting. Meski sendirian, Fanny kini tidak takut lagi karena masih berpegang teguh pada keadilan.

Baca Juga: Belajar dari Kasus Agnez Mo, Ini Daftar Tarif Royalti Lagu dan Musik Sesuai Undang-undang

Keluar dari band pun bukan perkara mudah untuk Fanny Soegi. Pasalnya nama Fanny tercantum dalam nama band tersebut.

"Aku masih inget banget ketika aku mau keluar dari Band itu dan dihadapkan orang-orang HAKI, aku diharuskan membayar namaku sendiri yakni 'Soegi' kalau aku keluar dengan entitas yang baru. Ada rekamannya lagi," ucapnya.

Keadaan kini berbalik. Band Soegi Bornean diungkap banting harga setelah ditinggalkan oleh Fanny Soegi.

Salah satu hal pahit yang tidak akan pernah bisa dilupakan Fanny Soegi ialah ketika sang ibunda meninggal. Bak tak punya empati, Fanny diminta untuk manggung padahal ibunya baru meninggal sepekan.

"Pernah ada di satu titik aku mau mengakhiri hidup karena betul-betul sendirian, tanpa Bapak & Ibuk. Perlakuan kalian nggak akan aku lupakan se-umur hidup. Kalian laki-laki patriarki, korup, betah isin (malu)," tegas Fanny Soegi.

Load More