Entertainment / Film
Jum'at, 10 Januari 2025 | 16:13 WIB
Karakter Sonia dalam film Bird of A Different Feather (Konanur Productions)

Film ini menggambarkan kemiskinan dengan realis, mulai dari rumah yang tidak dibangun sempurna dan terkesan dipaksa untuk diterima dengan seadanya. Hingga lingkungan kumuh dan adegan berebut tempat duduk saat menaiki transportasi umum.

Pengambilan gambar dari dekat dalam beberapa adegan berhasil menunjukkan kerapuhan dari karakter utama Sonia. Namun pandangan ini tidak kemudian mengkerdilkan bagaimana detail dalam pengambilan gambar dalam ruang yang kompleks ditata dengan cukup rapi.

Misalnya, dalam adegan Sonia melakukan stand up comedy dengan disaksikan teman satu sekolah dan para guru. Penonton bisa merasakan perubahan emosi yang terjadi ketika uji coba tersebut menjelma menjadi keberhasilan dan penerimaan diri.

Prithvi Konanur, produser film Bird of A Different Feather dan Gernata Titi, perwakilan dari SALAM (Istimewa)

Bayang-Bayang Kemiskinan dan Eksklusivitas Pendidikan

Memfokuskan analisis pada faktor kemiskinan mungkin terkesan tidak adil bagi keistimewaan fisik yang dimiliki oleh Sonia. Namun mau tidak mau diakui, baik India maupun Indonesia menghadapi masalah yang serupa, di mana kemiskinan menjadi tabir bagi sebagian kalangan untuk mengakses pendidikan.

Hanya mereka yang kaya yang bisa mengakses pendidikan dengan leluasa. Pendidikan di sekolah A, B, maupun C hanya diperuntukkan mereka yang berasal dari keluarga dengan kebebasan finansial.

Itu lah yang dialami oleh Sonia. Ketidakmampuan Sonia untuk memiliki sepatu membuka pintu intimidasi dan tidak mau tahu dari tenaga pendidik di sekolah.

Intimidasi kemudian diiringi dengan keengganan untuk mempelajari bahwa pengajaran yang tepat yang diberikan kepada Sonia, 'seharusnya' dilakukan dengan cara yang lebih inklusif.

  • Support System dan Sekolah Alternatif 

Inklusivitas secara konsisten menjadi hal yang terus dipelajari, dikembangkan, dan direalisasikan dalam dalam pendidikan hingga hari ini. Berbicara soal inklusivitas pendidikan bisa dimulai dari berbicara soal sistem pendidikan.

Baca Juga: Review Film Wicked, Ketika Penyihir Juga Punya Kisah untuk Didengar

Dewasa ini, sistem pendidikan di dunia semakin digandrungi dengan munculnya sekolah-sekolah alternatif, yang menawarkan kurikulum, penjelasan teori, hingga praktik yang dinstingtif dari sekolah formal/pemerintah.

Prithvi Konanur selaku produser Bird of A Different Feather menerangkan bahwa ia menemukan beberapa sekolah alternatif yang ada di Indonesia.

"Saya tidak tahu mengenai (sekolah alternatif) di India, namun saya menemukan beberapa (sekolah serupa) di India, dengan pembelajaran yang interaktif dengan alam," ujar Prithvi, pada penayangan film Bird of A Different Feather di Empire XXI Yogyakarta, Indonesia, Jumat (22/11/2024) lalu.

"Mereka (para siswa) tidak hanya belajar soal (mata pelajaran yang biasa diajarkan), namun juga seperti apa rasanya mendapatkan support system ketika belajar," kata Prithvi menyambung.

Sekolah alternatif--seperti namanya, merupakan alternatif yang ditawarkan para pejuang pendidikan dari sekolah 'tradisional'. Sekolah ini tidak hanya mengasah siswa untuk berpikir secara mandiri namun melibatkan kedekatan 'emosional' yang jarang diperoleh di sekolah formal.

Sekolah alternatif juga membuka potensi bagi mereka dengan kebutuhan khusus, untuk mendapatkan akses pendidikan yang lebih setara ketimbang sekolah formal.

Poster film Bird of A Different Feather/Mikka Bannada Hakki (IMDb)
  • Albinisme dan Pendidikan yang Inklusif

Hadir membersamai Prithvi Konanur, perwakilan dari SALAM (Sanggar Anak Alam) turut memberikan ulasan yang optimistis dan hopeful atas masa depan pendidikan. Gernana Titi mengulas bahwa Bird of A Different Feather bisa menjadi pemantik untuk kesadaran yang lebih atas kepentingan pendidikan yang inklusif.

"Saya senang karena dengan film seperti ini, kita bisa merasakan itu, membuka kesadaran lebih luas. Kesadaran terutama pada anak berkebutuhan khusus," tutur Titi.

Menciptakan sekolah dikhususkan mereka dengan albinisme adalah pekerjaan yang sulit. Namun, membuka tabir pembatas antara mereka dengan albinisme dan tanpa albinisme bisa menjadi langkah awal.

Melalui film karya Manohara K. ini, inklusivitas dalam pendidikan tidak sekadar dipahami berkaitan dengan kesetaraan. Namun perlu diiringi dengan pemahaman dan kesediaan untuk belajar dan mendengarkan.

Jika guru menolak untuk mendengarkan apa yang sebenarnya dibutuhkan siswa dengan kebutuhan khusus, pendidikan yang diajarkan pun tetap terhambat untuk tersampaikan.

Pada akhirnya, pendidikan akan hidup untuk mereka yang mampu merayakan, dan mati bagi mereka yang tidak diberi kesempatan.

Mengapa Anda Harus Menonton Film Ini?

Bird of A Different Feather/Mikka Bannada Hakki adalah sinema semi-dokumenter yang tidak serta merta memposisikan Anda sebagai Sonia. 

Meski Anda bukan Sonia, Anda bisa terserap ke dalam realitas bahwa kehidupan tidak semudah yang diharapkan, dan Anda bisa kehilangan kesempatan di tengah perjalanan.

Pendidikan hanya satu lapisan yang mewakili ketidakadilan dan ketidaksetaraan. Ketidakadilan dan ketidaksetaraan yang mungkin Anda temukan di dalam keluarga, lingkaran pertemanan, hingga lingkup pekerjaan. 

Film ini bisa saja membuat Anda bosan, namun meninggalkan beribu pertanyaan ketika layar dimatikan. Berduasi 95 menit, kisah Sonia ini sebaiknya dinikmati dalam keadaan kenyang, sebab ia tidak akan membawa Anda lari dari tuntutan.

Load More