"Kalo pejuang kita kan pakai bambu runcing, bukan senapan," bela host.
"Iya. Tapi kalau ada yang jadi pasukan belanda (di perayaan 17 Agustus) kan bawa senjata, laras panjang, pendek," sahut Endiarto membenarkan.
Pernyataan serupa juga diutarakan Endiarto saat berbincang-bincang dengan CNN melalui panggilan video.
"Itulah kalau tidak menonton secara penuh. Hanya dua menit satu detik (trailer)," jawab Endiarto.
"Itu gudang desa, tempat menyimpan bendera dan properti untuk 17 Agustus," imbuhnya.
Endiarto lebih jauh mencontohkan penggunaan properti senjata dalam peringatan 17 Agustus.
"Drama yang ada adalah pasukan Belanda pakai topi, pakai baju ijo, dan selalu membawa senapan," terang Endiarto.
"Tentunya itu ada banyak properti. Bambu runcing ada, bendera juga di situ. Jadi itu bukan senjata sungguhan, itu properti mainan," tandasnya.
Menanggapi penjelasan Endiarto, warganet tampaknya masih belum puas dan merasa tidak masuk akal.
Baca Juga: Merah Putih One For All Diduga Habiskan Rp6 Miliar, Hanung Bramantyo Bongkar Dapur Produksi Animasi
"Mana ada cosplay tentara Belanda zaman kemerdekaan bawa ak dan m16, mana ada rpg, kagak make sense banget dah," komentar akun X @EmIEm***.
"Ngeles mulu, lagipula ak 47 juga kagak dipake sama penjajah di Indonesia. Kenapa gak bambu runcing kan lebih masuk akal," sahut akun @aziezzrett***.
"Balai Desa punya gudang segede itu? Ngakak," balas akun @Dharmoka***.
"Kenapa gak bilang 'ya salah setting, mestinya bambu runcing, maklum buru-buru'," kata akun @nocipcy***.
Sinopsis Film Merah Putih One for All
Film animasi Merah Putih One For All menyajikan cerita inspiratif tentang semangat persatuan di tengah keberagaman.
Film ini mengisahkan sekelompok delapan anak dari berbagai latar belakang suku di Indonesia yang tergabung dalam Tim Merah Putih.
Mereka diberi tugas menjaga Bendera Pusaka di sebuah desa yang akan dikibarkan pada upacara Hari Kemerdekaan Indonesia.
Namun tiga hari menjelang upacara, bendera tersebut tiba-tiba hilang.
Kedelapan anak yang berasal dari Betawi, Papua, Medan, Tegal, Jawa Tengah, Makassar, Manado, dan keturunan Tionghoa tersebut harus bersatu.
Mereka menempuh berbagai rintangan berat, mulai dari menembus sungai, hutan, hingga badai, untuk mencari bendera.
Dalam perjalanan yang penuh tantangan ini, mereka belajar mengatasi perbedaan dan meredam ego masing-masing.
Mereka membuktikan bahwa keberagaman tidak menjadi penghalang mencapai satu tujuan bersama yaitu mengibarkan Bendera Merah Putih pada Hari Kemerdekaan.
Kontributor : Neressa Prahastiwi
Berita Terkait
-
Cinepolis Ambil Langkah Tegas, Batal Tayangkan Merah Putih One For All di Seluruh Jaringan
-
Perbandingan Gila Budget Film Merah Putih One For All vs Demon Slayer
-
Tayang Hari Ini, Sutradara Merah Putih One For All Jawab Tegas Tudingan Filmnya Jiplak Karya Kreator
-
Series Nussa Telan Budget Rp1 Miliar, tapi Kualitas Jauh di Atas Merah Putih: One for All
-
Kualitas Beda Jauh dengan Film Merah Putih: One For All, Series Nussa Dibuat Kurang dari Rp1 Miliar
Terpopuler
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- Keunggulan Pompa Air Shimizu PL-138 BIT, Solusi Air Jernih Anti Karat
Pilihan
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
Terkini
-
Pulang Kampung Setelah Sukses Go Internasional, Icha Yang Disambut Meriah di Jember
-
Pendidikan Mufli Budi Ananda, Asisten Raffi Ahmad Kini Jadi Komisaris
-
Dari Tulus hingga Hindia, Sunset di Kebun Tawarkan Pengalaman Festival Musik di Tengah Ruang Hijau
-
Andai Waktu Bisa Diulang Kembali: Dilema Davina Karamoy Antara Cinta dan Kehormatan
-
Hadirkan Jirayut, Film Cek Khodam Padukan Unsur Mistis Lokal dan Komedi Khas Thailand
-
Gedebage Jazz Festival Naik Kelas, Evolusi Menuju Panggung Dunia
-
Lagu Baru Luqman Podolski 'Ayah' Ungkap Sisi Kelam Hubungan Keluarga yang Jarang Dibicarakan
-
Bukan Algoritma, Ini Sosok 'Pemain Baru' di Balik Lagu Viral TikTok yang Perlu Kamu Tahu
-
FORESTRA 2026 Umumkan Line Up Tahap Kedua, Hadirkan Perpaduan Musik dan Keindahan Alam
-
Dituding Acuh saat Thariq Halilintar Buka Kado, Aaliyah Massaid Beri Klarifikasi Menohok