- Ibunda Raffi Ahmad, Mama Amy, telah selesai jalani operasi di Singapura
- Kondisi Mama Amy mulai berangsur membaik
- Raffi Ahmad janji pada ayahnya untuk menjaga sang bunda
Suara.com - Ibunda Raffi Ahmad, Amy Qanita atau Mama Amy telah menjalani operasi di rumah sakit di Singapura.
Kondisi Mama Amy kini mulai berangsur membaik. Kabar baik ini disampaikan Raffi lewat unggahan pada Senin, 15 September 2025.
"Semangat Mama @amy_r_qanita, Alhamdulillah Mama sudah berangsur membaik dan terima kasih atas perhatian, doanya semua yang sudah mendoakan," tulis Raffi Ahmad dalam keterangan unggahannya.
Dalam momen haru tersebut, Raffi juga menyinggung pesan mendiang ayahnya. Dia berjanji akan menjaga ibunya dengan sepenuh hati, mengingat dirinya adalah anak lelaki satu-satunya dalam keluarga.
"Papa, meski engkau tiada, aku janji sebagai anak lelaki satu-satunya akan menjaga mama dan keluarga kita. Doakan aku agar kuat, agar bisa terus meneruskan cinta dan tanggung jawabmu," tulis suami Nagita Slavina tersebut.
Raffi menegaskan pentingnya merawat orangtua selagi masih ada. Baginya, sosok ibu adalah keramat dan doa seorang ibu menjadi doa paling mustajab.
"Mama pasti bisa kembali sehat, kita akan jaga orang tua sekuat tenaga kita selama mereka masih ada, apalagi untuk seorang ibu, karena ibu kita adalah keramat," tambahnya.
Kondisi Mama Amy Sebelum Operasi
Sebelumnya, Mama Amy harus menjalani perawatan intensif akibat sakit yang dideritanya.
Baca Juga: Mama Amy Dilarikan ke RS, Raffi Ahmad Hingga Mohon Doa: Seberapa Serius Penyakitnya?
Menurut penjelasan Raffi Ahmad di program FYP baru-baru ini, sang ibu kerap pingsan dan ternyata ditemukan adanya saraf kejepit di kepalanya.
"Bisa komunikasi normal, cuma memang beberapa kali blackout. Setiap ada pikiran berat, langsung pingsan. Ternyata sudah ada saraf kejepit di kepala dan penggumpalan darah yang sampai ke otak. Jadi sudah komplikasi," ungkap Raffi.
"Hari ini dicek lagi. Kalau sudah siap, paling cepat hari ini atau besok langsung operasi. Setelah itu masih ada terapi yang harus dijalani," tambahnya.
Berita Terkait
-
Raffi Ahmad Pamer Hampers Lebaran dari Prabowo, Isinya Unik dan Tak Biasa
-
Momen Video Call Terakhir, Raffi Ahmad Tenangkan Vidi Aldiano yang Pusing Digugat Miliaran
-
Vidi Aldiano Ternyata Sempat Pusing Digugat Rp 24,5 Miliar, Raffi Ahmad: Gue Jagain dari Belakang
-
Vidi Aldiano Drop sejak Digugat? Cerita Raffi Ahmad Perkuat Dugaan
-
Raffi Ahmad Dorong Generasi Muda Ubah Kreativitas Jadi Bisnis di Era Ekonomi Kreatif
Terpopuler
- 5 Parfum Wanita Tahan Lama di Alfamart untuk Silaturahmi Anti Bau
- 5 Mobil Murah 3 Baris Under 1500cc tapi Jagoan Tanjakan: Irit Bensin dan Pajak Ramah Rakyat Jelata
- Danantara Indonesia dan PLN Salurkan 5.000 Paket Perlengkapan Sekolah ke Tiga Provinsi di Indonesia
- 5 Kejanggalan Video Benjamin Netanyahu Terbaru, PM Israel Beneran Tewas?
- Media Iran Yakin Benjamin Netanyahu Sudah Meninggal Dunia, Video Ini Jadi Bukti
Pilihan
-
Waspada Puncak Arus Mudik Besok! 187 Ribu Orang Bakal Padati Bandara Soekarno-Hatta
-
Rudal Iran Hantam Jantung Israel Malam Ini, Saksi Mata: Bumi Bergetar seperti Gempa
-
Ledakan Besar di Baghdad! Kedutaan AS Diserang Drone dan Roket
-
Timur Tengah Memanas, Rencana Terbangkan Ribuan TNI ke Gaza Resmi Ditangguhkan
-
Israel Klaim Tewaskan Ali Larijani, Pimpinan Keamanan Tertinggi Iran
Terkini
-
Baim Wong Beri Kode Honor Reza Rahadian, Setara 2 Lamborghini?
-
Ditinggal Ammar Zoni, dokter Kamelia Kepincut Reza Arap?
-
Ian Wibisono Drummer Rocker Kasarunk Meninggal Dunia
-
Olah TKP Kasus Zina Inara Rusli Makan Waktu 1 Jam, Tak Ada Rekonstruksi Adegan
-
7 Potongan CCTV Jadi Bukti Kasus Zina Inara Rusli, Diragukan Ada Unsur Pidana
-
Sudah Dipastikan Hoaks, Tiket Pesawat Garuda Rp200 Juta Jadi Guyonan: Ini Mau ke Bulan?
-
Diduga Antivaksin, Patricia Gouw Buru-Buru Klarifikasi: Aku Bawa Dokter ke Singapura!
-
Pengacara Inara Rusli Akui Ada Rekaman CCTV: Tidak Perlihatkan Penetrasi, Hanya 2 Menit
-
Hounds of War: Simfoni Balas Dendam yang Brutal, Sahur Ini di Trans TV
-
Tayang di Vidio, Film Ordinary Person Angkat Kisah Kelam Korea 1987