Entertainment / Film
Jum'at, 12 Desember 2025 | 09:00 WIB
Konferensi pers film Para Perasuk di kawasan MH. Thamrin, Jakarta Pusat pada Kamis, 11 Desember 2025 [Suara.com/Rena Pangesti].
Baca 10 detik
  • Sutradara Wregas Bhanuteja menggunakan metode surat cinta untuk Angga Yunanda, doodle untuk Maudy Ayunda, dan jebakan reading untuk Chicco Kurniawan saat mengajak bergabung dalam film Para Perasuk.
  • Para aktor harus menjalani latihan fisik ekstrem dan totalitas, seperti bergerak menggunakan perut di aspal, nyeker di medan ekstrem, dan mahir memainkan alat musik tradisional.
  • Proses perekrutan yang unik dan kerja keras para pemain tersebut menjadi bagian dari keberhasilan film Para Perasuk menembus Sundance Film Festival 2026.

"Yang lain diajak makan, gue diajak reading," ujar Chicco.

Totalitas Tanpa Batas: Nyeker hingga Latihan Pakai Perut

Setelah menerima pinangan tersebut, para aktor langsung dihadapkan pada realita syuting yang berat. Film yang mengangkat tema kerasukan sebagai pesta di Desa Latas ini menuntut fisik yang prima.

Angga Yunanda yang berperan sebagai Bayu harus melatih gerakan tubuh menyerupai binatang melata.

"Geraknya cuma pakai perut, enggak pakai tangan, enggak pakai kaki. Bayangin gimana caranya di atas aspal," curhat Angga.

Sementara itu, Maudy Ayunda yang memerankan Laksmi harus rela tampil tanpa alas kaki alias nyeker sepanjang syuting di berbagai medan ekstrem Yogyakarta. Dia juga dituntut menarikan gerakan 10 roh binatang yang berbeda.

"Yang lumayan terbebani ternyata dengkul saya. Di akhir-akhir itu kerasa kayak cekluk cekluk gitu, ada bunyi-bunyinya. Kita juga berinteraksi dengan serangga beneran," ungkap pelantun Perahu Kertas tersebut.

Mimpi Buruk Metronom Bryan Domani

Tantangan berbeda dihadapi Bryan Domani. Memerankan karakter Ananto yang ambisius dan sedikit sombong, Bryan harus mahir memainkan alat musik tam-tam (kendang). Dia mengaku sempat dihantui oleh tempo ketukan alias metronom.

Baca Juga: Kaleidoskop 2025: Pernikahan Artis Paling Viral dan Ramai Dibahas Sepanjang 2025

"Tantangan paling besar, 'kamu harus belajar metronom'. Itu sampai kebawa mimpi aku," aku Bryan.

Bryan diharuskan menjaga kestabilan tempo musik sembari berdialog panjang dan menjaga ekspresi wajah.

"Kadang-kadang pas ngobrol sama orang, tangan gue refleks gerak-gerak sendiri (seperti memukul kendang)," tambahnya.

Meski harus melalui proses latihan fisik dan mental selama berbulan-bulan, serta syuting di bawah terik matahari yang membuat bibir para pemain pucat, hasil kerja keras mereka terbayar lunas.

Para Perasuk siap melenggang ke panggung dunia dan mengharumkan nama Indonesia di awal tahun 2026.

Film produksi Rekata Studio ini dijadwalkan tayang di bioskop Tanah Air setelah perjalanannya di festival internasional.

Load More