Entertainment / Gosip
Kamis, 19 Februari 2026 | 08:27 WIB
Ustaz Rifky Jafar Thalib. (Instagram)

Postingan itu menuai beragam komentar dari netizen. Ada yang menyebut analoginya seram namun bikin ngakak.

Beberapa juga setuju dengan sang ustaz karena ibadah tidak layak untuk dibuat main-main.

Tambahan informasi, Muhammadiyah menentukan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijjah menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal.

Berbeda dengan pemerintah (Kemenag) atau Nahdlatul Ulama (NU) yang masih mensyaratkan rukyat (pengamatan mata telanjang atau teleskop), Muhammadiyah sepenuhnya mengandalkan perhitungan astronomis yang sangat presisi.

Muhammadiyah berpendapat bahwa penggunaan teknologi dan ilmu pengetahuan (hisab) adalah bentuk kemajuan peradaban.

Pergerakan benda langit saat ini sudah bisa dihitung secara matematis dengan tingkat kesalahan yang sangat kecil.

Hisab dianggap lebih mampu memberikan kepastian penanggalan yang seragam bagi umat Islam di berbagai belahan dunia tanpa tergantung cuaca saat rukyat.

Sebagai perbandingan, Pemerintah Indonesia saat ini menggunakan kriteria baru MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) yang mensyaratkan hilal minimal setinggi 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Inilah yang sering menyebabkan perbedaan awal puasa atau Lebaran, Muhammadiyah mungkin sudah menganggap masuk bulan baru karena hilal sudah di atas 0 derajat, sementara pemerintah belum menganggapnya sah karena belum mencapai 3 derajat.

Baca Juga: 5 Takjil Murah dan Mudah Dibuat, Cocok untuk Bagi-Bagi saat Buka Puasa

Kontributor : Tinwarotul Fatonah

Load More