- MD Pictures merilis remake resmi film Iran Children of Heaven dengan latar Semarang tahun 1980-an untuk menjaga relevansi cerita.
- Hanung Bramantyo menerapkan standar kerja khusus yang mengutamakan kenyamanan dan kebahagiaan aktor cilik selama proses syuting.
- Film yang menonjolkan nilai pengorbanan kakak-adik ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop mulai 27 Mei 2026.
Suara.com - MD Pictures resmi meluncurkan teaser poster dan trailer perdana film Children of Heaven versi Indonesia.
Film ini merupakan adaptasi resmi dari mahakarya sutradara Iran, Majid Majidi, yang sempat masuk nominasi Best Foreign Language Film pada Academy Awards 1997.
Sutradara Hanung Bramantyo didapuk untuk menggarap proyek ini dengan membawa perubahan signifikan pada latar tempat dan waktu, yakni di Semarang pada era 1980-an.
Keputusan ini diambil untuk menjaga relevansi cerita sekaligus menghindari eksploitasi kemiskinan di era modern.
CEO MD Entertainment, Manoj Punjabi, mengungkapkan bahwa mendapatkan hak adaptasi (IP) film ini bukanlah perkara mudah. Dia mengaku telah mengejar lisensi film tersebut selama hampir satu dekade.
"Cerita ini kami sudah kejar dari tujuh sampai delapan tahun, bahkan 10 tahun. Kita coba terus tidak dapat-dapat, akhirnya bisa jatuh ke tangan MD. Saya bersyukur dan ini sesuai ekspektasi saya. Jarang kalau kita adaptasi film ada benchmark-nya, tapi saya bisa bilang Anda semua tidak akan kecewa," kata Manoj Punjabi dalam jumpa pers di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan pada Rabu, 4 Maret 2026.
Bagi Hanung Bramantyo, menyutradarai remake dari film legendaris ini adalah tantangan moral. Dia menegaskan tidak ingin terjebak dalam pola "menjual kemiskinan" yang sering menjadi komoditas drama air mata.
"Sebagaimana yang dipesankan oleh kreatornya, Majid Majidi, film ini tidak boleh mengeksploitasi kesedihan dan kemiskinan. Justru di tengah keterbatasan, kita harus menunjukkan martabat sebagai manusia. Itu yang saya lihat dalam film-film Iran. Mereka bangga menjadi diri sendiri meskipun serba kurang," beber Hanung.
Latar Semarang tahun 1980-an dipilih untuk menyesuaikan logika cerita tentang mahalnya sepasang sepatu kets.
Baca Juga: Sinopsis Film Messily Ever After, Proyek Baru Kim Min Ha dan Noh Sang Hyun
Menurut Manoj, jika film ini dipaksakan berlatar tahun 2026, konflik utama tentang hilangnya sepatu menjadi tidak masuk akal karena mudahnya akses terhadap alas kaki murah di zaman sekarang.
"Zaman sekarang semua punya HP. Kemiskinan yang ada di film ini bukan itu poin yang mau disampaikan. Kita tidak mau memeras emosi yang tidak benar. Keputusan bersama adalah ambil setting 80-an. Zaman itu sepatu adalah barang mewah, luxury," jelas Manoj Punjabi.
Komitmen terhadap Produksi Ramah Anak
Selain persoalan estetika, Hanung Bramantyo sempat ragu mengambil proyek ini karena trauma pribadinya terhadap industri film anak yang sering kali tidak ramah terhadap aktor cilik.
Dia bahkan pernah bersumpah tidak akan menyutradarai film anak jika pola kerja industri masih menuntut jam kerja dewasa.
"Puncaknya dulu saya pernah disurati sekolah si anak karena dia nyaris di-skors akibat bolos syuting. Saya bilang ke Pak Manoj, saya mau membuat film ini asalkan syutingnya ramah untuk anak. Anak harus happy dan tidak boleh mengikuti standar kerja kita yang dewasa," tegas suami aktris Zaskia Adya Mecca ini.
Berita Terkait
-
Siap Mengaduk Emosi, Novel 'Seporsi Mie Ayam sebelum Mati' Segera Diangkat ke Layar Lebar
-
Tergiur Gaji Rp50 Juta, 3 Komika Jadi Tumbal Pesugihan di Film Warung Pocong
-
Colombiana: Dendam Membara Zoe Saldana ke Gembong Narkoba, Malam Ini di Trans TV
-
Hari Pertama Tayang, Film 'Titip Bunda di Surga-Mu' Bikin Bioskop Banjir Air Mata
-
Sinopsis Pinocchio Unstrung, Obsesi Boneka Kayu Demi Jadi Manusia
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan
-
Langkah Kecil yang Diam-Diam Bisa Membuat Perempuan Lebih Percaya Diri
-
JPMorgan Optimistis Kepada BBRI, Saham Dinilai Masih Murah