Entertainment / Gosip
Minggu, 08 Maret 2026 | 21:00 WIB
Review Film Hamnet (2026). (YouTube/Focus Features)

Sutradara pemenang Oscar, Chloé Zhao melalui karya terbarunya berjudul Hamnet (2026), mencoba menghadirkan perasaan paling jujur sang pujangga.

Film ini membawa penonton ke Stratford, Inggris, untuk mengintip kehidupan domestik pujangga legendaris William Shakespeare (diperankan oleh Paul Mescal) dan istrinya, Agnes (Jessie Buckley). 

Melalui lensa Zhao, penonton diajak memahami bahwa di balik kemasyhuran nama Shakespeare, terdapat luka keluarga yang sangat dalam.

Berikut adalah review film Hamnet (2026) yang mencoba mengungkap rahasia di bali kemasyhuran Shakespeare.

1. Gunakan Sudut Pandang Agnes

Review Film Hamnet (2026).

Berbeda dengan biopik pada umumnya, Hamnet tidak menjadikan William sebagai poros utama sejak awal. 

Chloé Zhao justru membuka cerita melalui sudut pandang Agnes Hathaway yang dalam catatan sejarah, ia mungkin lebih dikenal sebagai Anne Hathaway.

Namun di film ini, ia adalah sosok mistis yang dipercaya sebagai ‘anak penyihir hutan’. 

Agnes digambarkan memiliki ikatan spiritual yang kuat dengan alam; ia mampu meramal masa depan hanya melalui sentuhan tangan.

Baca Juga: Sosok Sabrina Farhana Istri Founder Nussa Rara yang Dikaitkan Isu Selingkuh, Kerabat Orang Populer

Sinematografi hasil kolaborasi dengan ukasz al berhasil menghidupkan lanskap hutan Stratford sebagai ruang yang bernapas dan penuh rahasia. 

Bagi Agnes, hutan adalah rumah, tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri sebelum akhirnya tergerus oleh tuntutan kehidupan domestik dan tragedi yang menanti di depan mata.

2. Tragedi Keluarga dan Lahirnya Hamlet

Review Film Hamnet (2026).

Berlatar tahun 1596, inti cerita film ini adalah kehancuran hati pasangan ini saat putra mereka yang berusia 11 tahun, Hamnet, meninggal akibat wabah pes. 

Film ini dengan cerdas mengangkat hipotesis bahwa drama mahakarya Hamlet sebenarnya adalah bentuk katarsis bagi Shakespeare, sebuah upaya untuk memproses rasa bersalah dan duka atas kehilangan putranya.

William digambarkan merasa tercekik oleh rutinitas di Stratford yang sempit bagi ambisinya. 

Load More