Entertainment / Gosip
Jum'at, 13 Maret 2026 | 21:40 WIB
Penumpang atau pelanggan belakangan kesulitan mendapatkan driver ojol di jam-jam sibuk. Ilustrasi ojol. (ilustrasi ojol-Freepik)

"Customer bayar mahal tapi enggak masuk ke driver, customer bayar murah itu karena disubsidi sama duit driver," imbuhnya.

Kondisi ini membuat driver reguler enggan mengambil pesanan karena biaya bensin untuk menjemput pelanggan di lokasi yang jauh seringkali tidak sebanding dengan pendapatan yang hanya berkisar Rp8.000.

Sementara itu, driver prioritas yang sudah memenuhi target harian cenderung mematikan aplikasi lebih cepat, sehingga terjadi kekosongan armada di lapangan yang berujung pada penumpukan pesanan yang tidak tertangani.

Krisis ini semakin diperparah dengan munculnya program pengiriman kilat yang memaksa driver bekerja di luar batas kewajaran.

Program seperti GoSend satu jam sampai menuntut driver melakukan penjemputan dalam hitungan menit tanpa toleransi.

"Aplikator lagi-lagi ngeluarin ide iblis gimana caranya bisa menyiksa drivernya, dibuatlah program Gosend sejam sampe," ucapnya.

Tekanan ini tidak hanya menurunkan kualitas layanan, tetapi juga mengancam nyawa.

Dalam waktu kurang dari 4 menit, paket sudah harus dijemput, sebuah tuntutan yang seringkali memicu kecelakaan fatal akibat kelelahan dan ketergesaan di jalan raya.

Akibat dari kebijakan yang hanya mementingkan profit perusahaan ini, fenomena kelangkaan driver pun menjadi tak terelakkan.

Baca Juga: Full Senyum! Mitra Driver Gojek dan Keluarga Berangkat Mudik Gratis

Selama sistem algoritma masih memprioritaskan "uang langganan" daripada efisiensi jarak, maka kemacetan pesanan di kota-kota besar jantung Indonesia akan terus berlanjut.

Kontributor : Tinwarotul Fatonah

Load More