Sepertinya baru kali ini saya tertawa sepanjang film, dari awal sampai akhir, beberapa bagian bahkan membuat saya terpingkal-pingkal.
Menariknya, film ini tidak pernah benar-benar menunjuk siapa yang salah. Hanya menyusun potongan-potongan realita, lalu membiarkan penonton menyimpulkan sendiri.
Pendekatan seperti ini terasa lebih elegan, sekaligus lebih mengena, terutama bagi yang sudah muak dengan realita.
Horor dengan Sentuhan Artistik
Jika biasanya film horor mengandalkan kejutan atau jumpscare, Ghost in the Cell memilih pendekatan yang lebih tenang, dan justru karena itu terasa lebih mengganggu.
Entitas gaib yang hadir tidak sekadar menakut-nakuti, tetapi memiliki target, mereka yang menyimpan energi negatif.
Konsep ini sederhana, tetapi efeknya cukup dalam. Ada semacam pertanyaan yang diam-diam muncul, jika berada di posisi para narapidana, apakah benar-benar aman?
Visual kematian dalam film ini juga patut diapresiasi. Korban tidak hanya ditampilkan secara brutal, tetapi ditata dengan cara yang sangat artistik.
Gila kan? Sebuah pilihan kreatif yang membuat adegan-adegan tersebut terasa tidak nyaman, namun sulit untuk diabaikan.
Meski begitu, tidak semua aspek teknis berjalan mulus. Ada beberapa momen di mana efek visual terlihat kurang halus, serta dialog yang terdengar kurang jelas.
Baca Juga: Sinopsis Kala, Film Joko Anwar yang Bikin Manoj Punjabi Rugi Miliaran Rupiah
Hal-hal kecil ini sempat mengganggu, tetapi tidak cukup besar untuk mengurangi dampak keseluruhan.
Performa Aktor dan Energi Cerita yang Solid
Dari sisi akting, Ghost in the Cell diisi oleh nama-nama yang sudah tidak asing. Beberapa mungkin sudah menjadi "karyawan" tetap Joko Anwar.
Abimana Aryasatya tampil solid sebagai Anggoro, menghadirkan karakter yang tegas namun tetap manusiawi.
Sementara itu, Endy Arfian berhasil membawa Dimas sebagai sosok yang mudah dipahami, tidak heroik, tetapi cukup realistis.
Yang menarik perhatian justru beberapa pemain pendukung. Aming, misalnya, memberikan warna yang tidak terduga.
Meskipun jatah layarnya hanya sebentar, kehadiran Aming sangat kuat tanpa harus mencuri perhatian secara berlebihan.
Pemain lain seperti Lukman Sardi, Bront Palarae, Dimas Danang Suryonegoro hingga Morgan Oey juga menunjukkan performa yang solid.
Alur cerita sendiri tergolong sederhana, namun disusun dengan rapi. Tidak ada bagian yang terasa terlalu panjang, dan perpindahan antar adegan berjalan cukup mulus.
Film ini tampaknya tahu kapan harus serius, dan kapan memberi ruang untuk bernapas, tapi tidak untuk tertawa.
Tawa memang muncul, tetapi tidak sepenuhnya ringan. Ada jeda setelahnya, semacam ruang untuk berpikir.
Dan mungkin, di situlah letak kekuatan film ini. Tidak memaksa untuk disepakati, tetapi cukup berani untuk membuat penonton mempertanyakan banyak hal.
Pesan untuk Joko Anwar, terus lah membuat karya-karya yang berani. Rakyat di belakangmu.
Kontributor : Chusnul Chotimah
Berita Terkait
-
Sinopsis Kala, Film Joko Anwar yang Bikin Manoj Punjabi Rugi Miliaran Rupiah
-
5 Fakta Unik Ghost In the Cell, Sindiran untuk Indonesia hingga Kolaborasi Ilustrator Kelas Dunia
-
Review Film Ghost In the Cell: Potret Kelam Lapas dan Sindiran Pedas buat Pejabat Korup
-
Sebelum Rilis di Indonesia, Film Ghost In The Cell Sudah Dibeli 86 Negara, Ini Daftarnya
-
Ghost in the Cell: Film Joko Anwar Tembus 86 Negara sebelum Rilis di Indonesia
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
Pilihan
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
Terkini
-
Siapa Sosok Angga? Pihak Swasta yang Diduga 'Setir' Audit BPK di Muara Enim
-
Iran Bantah Donald Trump: Tidak Ada Mata-mata Amerika Serikat Dibebaskan dari Penjara
-
Perang di Selat Hormuz Makin Menggila, Ledakan Beruntun Guncang Kota Besar Iran
-
Polemik Berkas Korupsi PLTU Batubara, Langkah Polri Dinilai Lawful dan Rasional
-
Nobar Piala Dunia TNI AD di 25 Ribu Titik Sedot 1,1 Juta Penonton, Roda Ekonomi Tembus Rp5 Triliun
-
Dimulai dari Reservasi, Hotel di Gading Serpong Ini Andalkan Pengalaman Serba Digital
-
Kronologi Dugaan Guru SD Hukum Murid Pakai Mistar di Lubuklinggau, Polisi Periksa TKP
-
Daftar Brand yang Paling Sering Masuk Keranjang Belanja Warga Indonesia
-
Kenapa Harga Pemain EA FC 26 Naik-Turun Setiap Pekan? Ini Polanya
-
Flu Singapura Merebak di Sumsel, Mengapa Palembang Jadi Daerah dengan Kasus Terbanyak?