Entertainment / Film
Jum'at, 17 April 2026 | 18:00 WIB
Ghost in the Cell, film terbaru garapan Joko Anwar tengah tayang di bioskop dan menjadi salah satu film paling ditunggu-tunggu tahun ini. [Instagram]

Sepertinya baru kali ini saya tertawa sepanjang film, dari awal sampai akhir, beberapa bagian bahkan membuat saya terpingkal-pingkal.

Menariknya, film ini tidak pernah benar-benar menunjuk siapa yang salah. Hanya menyusun potongan-potongan realita, lalu membiarkan penonton menyimpulkan sendiri.

Pendekatan seperti ini terasa lebih elegan, sekaligus lebih mengena, terutama bagi yang sudah muak dengan realita.

Horor dengan Sentuhan Artistik

Review Ghost in the Cell, Sentilan Tanpa Ampun Joko Anwar Terhadap Borok Realita (imdb)

Jika biasanya film horor mengandalkan kejutan atau jumpscare, Ghost in the Cell memilih pendekatan yang lebih tenang, dan justru karena itu terasa lebih mengganggu.

Entitas gaib yang hadir tidak sekadar menakut-nakuti, tetapi memiliki target, mereka yang menyimpan energi negatif.

Konsep ini sederhana, tetapi efeknya cukup dalam. Ada semacam pertanyaan yang diam-diam muncul, jika berada di posisi para narapidana, apakah benar-benar aman?

Visual kematian dalam film ini juga patut diapresiasi. Korban tidak hanya ditampilkan secara brutal, tetapi ditata dengan cara yang sangat artistik.

Gila kan? Sebuah pilihan kreatif yang membuat adegan-adegan tersebut terasa tidak nyaman, namun sulit untuk diabaikan.

Meski begitu, tidak semua aspek teknis berjalan mulus. Ada beberapa momen di mana efek visual terlihat kurang halus, serta dialog yang terdengar kurang jelas.

Baca Juga: Sinopsis Kala, Film Joko Anwar yang Bikin Manoj Punjabi Rugi Miliaran Rupiah

Hal-hal kecil ini sempat mengganggu, tetapi tidak cukup besar untuk mengurangi dampak keseluruhan.

Performa Aktor dan Energi Cerita yang Solid

Review Ghost in the Cell, Sentilan Tanpa Ampun Joko Anwar Terhadap Borok Realita (imdb)

Dari sisi akting, Ghost in the Cell diisi oleh nama-nama yang sudah tidak asing. Beberapa mungkin sudah menjadi "karyawan" tetap Joko Anwar.

Abimana Aryasatya tampil solid sebagai Anggoro, menghadirkan karakter yang tegas namun tetap manusiawi.

Sementara itu, Endy Arfian berhasil membawa Dimas sebagai sosok yang mudah dipahami, tidak heroik, tetapi cukup realistis.

Yang menarik perhatian justru beberapa pemain pendukung. Aming, misalnya, memberikan warna yang tidak terduga.

Meskipun jatah layarnya hanya sebentar, kehadiran Aming sangat kuat tanpa harus mencuri perhatian secara berlebihan.

Load More