Entertainment / Gosip
Senin, 11 Mei 2026 | 08:01 WIB
Korban beberkan modus Kiai Ashari lakukan pencabulan terhadap santriwati [Instagram]
Baca 10 detik
  • Tersangka menggunakan ancaman spiritual "putus sanad ilmu" untuk memanipulasi dan membungkam para korban.
  • Aksi bejat dilakukan dengan kedok meminta pijat, disertai penyekapan korban di kamar terkunci untuk melancarkan aksinya.
  • Kesaksian Tari mengungkap trauma mendalam dan siasat bertahan hidup para santriwati di tengah situasi yang mengancam.

Suara.com - Sebuah kesaksian datang dari Tari, salah satu korban yang memberanikan diri berbicara ke publik mengenai modus Kiai Ashari asal Pati ketika melakukan pencabulan terhadap santriwati.

Tari yang bukan nama sebenarnya, membeberkan kronologi trauma yang ia alami selama berada di bawah asuhan tersangka.

Cerita Tari bukan hanya sekadar tentang pelecehan, melainkan juga tentang manipulasi psikologis dan penyalahgunaan kekuasaan yang sangat terstruktur.

Bagi banyak santriwati, sosok Kiai adalah pemegang otoritas tertinggi, bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh tersangka Ashari.

Tari mengungkapkan bahwa modus utama tersangka untuk mendekati korbannya adalah dengan memerintahkan mereka datang ke kamarnya untuk memijit.

Namun, yang membuat para korban tak berdaya adalah ancaman spiritual. Mayoritas santriwati tidak berani menolak keinginan Ashari karena takut akan ancaman "putus sanad ilmu".

Dalam tradisi pesantren, terputusnya sanad atau silsilah keilmuan dianggap sebagai kegagalan total bagi seorang pencari ilmu agama.

Di tengah situasi yang mencekam tersebut, Tari mencoba mencari celah untuk melindungi dirinya sendiri.

Setiap kali dipanggil ke kamar sang Kiai untuk menemani tidur, Tari selalu berusaha tetap terjaga meski matanya terpejam. Ia menggunakan kesadarannya sebagai satu-satunya benteng pertahanan yang tersisa.

Baca Juga: Kiai Ashari Pati TSK Kasus Pelecehan Tak Punya Kamar Tetap, Diduga Jadi Strategi Dekati Santriwati

"Biasanya aku nggak pernah tidur beneran, nggak pernah, cuma merem aja gitu. Kadang cuma dilihatin video ceramah-ceramah gitu aja. Kalau biasanya ya udah diam aja gitu," ucap Tari dalam podcast Denny Sumargo, yang dikutip pada Senin, 11 Mei 2026.

Taktik pura-pura tidur ini dilakukan Tari secara konsisten agar ia bisa segera bereaksi jika situasi berubah menjadi semakin berbahaya.

Namun, ada satu malam yang tak akan pernah bisa ia lupakan, sebuah kejadian yang meninggalkan luka batin yang sangat dalam.

Puncak dari pengalaman traumatis Tari terjadi ketika ia kembali dipanggil ke kamar Ashari. Saat itu, ia sudah berada di atas ranjang dengan tetap menjalankan siasat pura-pura tidurnya.

Tak disangka, tersangka tiba-tiba meninggalkan kamar dan mengunci pintu dari arah luar, membiarkan Tari terperangkap sendirian di dalam.

ilustrasi pencabulan di pondok pesantren

Dalam keheningan malam dan pintu yang terkunci rapat, Tari harus menghadapi kenyataan pahit yang lebih mengerikan. Ia mendengar suara-suara yang menandakan adanya aksi bejat yang sedang dilakukan Ashari di kamar yang tepat berada di sebelahnya.

Load More