- Komnas Perempuan menolak hukuman kebiri bagi tersangka pencabulan santriwati di Pati karena dianggap melanggar hak asasi manusia.
- Ketua Komnas Perempuan, Maria Ulfah Anshor, mengusulkan rehabilitasi sebagai hukuman alternatif yang lebih manusiawi bagi pelaku kejahatan seksual.
- Pernyataan tersebut memicu kemarahan publik di media sosial karena dianggap tidak berempati terhadap puluhan korban perempuan tersebut.
Suara.com - Pernyataan Komisi Nasional (Komnas) Perempuan yang menolak hukuman kebiri bagi Kiai Ashari, tersangka pencabulan terhadap puluhan santriwati di Pati, Jawa Tengah, memicu gelombang kemarahan di media sosial.
Sikap Komnas Perempuan yang mengedepankan hak asasi manusia (HAM) dan martabat pelaku justru dianggap melukai rasa keadilan publik, terutama para korban dan keluarganya.
Polemik ini bermula dari unggahan akun Instagram @jogjastudent yang mengutip berita yang beredar di media.
Dalam berita tersebut, Ketua Komnas Perempuan, Maria Ulfah Anshor, menyatakan bahwa hukuman kebiri bertentangan dengan HAM.
Dia mendorong adanya hukuman yang lebih manusiawi, seperti rehabilitasi, untuk mengubah pola pikir predator tanpa menghilangkan martabat kemanusiaan pelaku.
"Komnas Perempuan berpendapat sebaiknya tidak dengan kebiri, karena hal itu bersentuhan dengan isu HAM. Ada cara penghukuman lain yang tetap tegas namun tetap menghormati martabat manusia," kata Maria dalam kutipan berita yang diunggah pada Selasa, 12 Mei 2026.
Pernyataan tersebut langsung diserbu oleh ribuan komentar warganet yang menyayangkan sikap Komnas Perempuan.
Sebagian besar dari mereka menilai lembaga tersebut lebih berpihak pada pelaku daripada puluhan korban perempuan yang masa depannya telah dirusak.
Salah satu sentimen utama yang muncul adalah pertanyaan mengenai keberpihakan.
Baca Juga: Modus Licik Oknum Ulama Nikahi Banyak Perempuan: Pakai Dalil Palsu hingga Hamil Kembar
Warganet mempertanyakan mengapa empati dan HAM seolah hanya berlaku untuk pelaku kejahatan.
"Yang lebih manusiawi ketika kita membela dan berempati kepada para korban, bukan kepada pelaku kejahatan," tulis akun @n.af*** dalam kolom komentar.
Kritik tajam juga datang dari pengguna lain yang membandingkan hak pelaku dengan penderitaan korban.
"Ketika pelaku menjalankan kejahatannya apa pernah berpikir tentang HAM korban?" tanya akun @rd_*** menyuarakan kegeraman banyak orang.
Banyak warganet yang merasa Komnas Perempuan telah gagal menjalankan fungsinya sebagai pelindung hak-hak perempuan.
Mereka menuduh lembaga tersebut justru lebih peduli pada kondisi pelaku dibanding nasib 50 santriwati yang menjadi korban.
Berita Terkait
-
Modus Licik Oknum Ulama Nikahi Banyak Perempuan: Pakai Dalil Palsu hingga Hamil Kembar
-
Bukan Minta Maaf, Juri LCC MPR RI Malah Unggah Status Menantang Publik
-
Viral Delapan Siswa SMK 1 Polewali Keroyok Satpam karena Tak Terima Ditegur Merokok
-
Ibu Merantau demi Nafkah, Ayah Kandung di Lampung Tega Cabuli Putri Sendiri
-
Viral Kepergok Main Game dan Merokok Saat Rapat, Anggota DPRD Jember Minta Maaf: Saya Khilaf
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
Terkini
-
Bangkit dari Persahabatan SMA, This is EQUAL Resmi Debut Lewat EP Kirei
-
Bebizie Pamer Jabatan Baru, Tapi Visi-Misinya Cuma Sebatas Makeup dan Hairdo!
-
Venom: Ketika Tom Hardy Berbagi Tubuh dengan Parasit Luar Angkasa, Malam Ini di Trans TV
-
Kisah Anas Fikry dan Risky Adelia Membangun Konten Berbasis Kejujuran dan Aksi Sosial
-
Sineas Muda Soroti Akses Layar Bioskop, Menekraf Janji Perkuat Ekosistem Film Nasional
-
GJF International 2026: Menikmati Musik Jazz Berasa di Eropa
-
Pulang Kampung Setelah Sukses Go Internasional, Icha Yang Disambut Meriah di Jember
-
Pendidikan Mufli Budi Ananda, Asisten Raffi Ahmad Kini Jadi Komisaris
-
Dari Tulus hingga Hindia, Sunset di Kebun Tawarkan Pengalaman Festival Musik di Tengah Ruang Hijau
-
Andai Waktu Bisa Diulang Kembali: Dilema Davina Karamoy Antara Cinta dan Kehormatan