Entertainment / Gosip
Rabu, 20 Mei 2026 | 16:20 WIB
Film Pesta Babi. (Instagram/watchdoc_insta)
Baca 10 detik
  • KSAD Maruli Simanjuntak mempertanyakan sumber pendanaan film dokumenter Pesta Babi yang mengangkat isu masyarakat adat di Papua.
  • Film dokumenter tersebut menyoroti dampak negatif pembukaan hutan skala besar bagi kehidupan dan tanah masyarakat adat Papua.
  • Masyarakat adat suku Marind, Yei, dan Awyu melakukan aksi penolakan ekspansi industri melalui simbol pemasangan salib merah.

Perubahan tersebut berdampak pada kehidupan masyarakat lokal yang kehilangan sebagian ruang hidup, sumber pangan, hingga identitas budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Selain itu, dokumenter ini juga menyoroti isu lain seperti dugaan keterlibatan aparat dalam pengamanan proyek investasi, konflik lahan, serta tekanan yang dialami oleh masyarakat yang menolak pelepasan tanah adat mereka.

Hal ini menambah kompleksitas persoalan yang diangkat dalam film tersebut.

Salah satu simbol perlawanan yang ditampilkan dalam film adalah pemasangan “salib merah” oleh warga adat. Simbol ini digunakan sebagai bentuk penolakan terhadap pembukaan hutan dan penguasaan lahan oleh perusahaan besar, sekaligus menjadi tanda protes atas perubahan yang terjadi di tanah mereka.

Load More